Haruskah kita percaya hasil analisis software AI micro expression pada wajah ?

Beberapa waktu lalu, saya ditanya wartawan yang menunjukkan adanya analisis micro expression menggunakan “AI” (kata Pemosting-nya) dengan subject analisis : Wajah Jokowi yang sedang menegur mentri-mentrinya yang masih membicarakan perpanjangan periode 3 kepemimpinannya dan penundaan pemilu.

Jawaban saya begini :

1) AI ini kan harus diajari dengan memasukkan data ekspresi wajah versus emosi yang dicerminkannya. Nah, yang ngajari ini punya kompetensi apakah dan darimana sertifikasinya ? atau ngambil data ekspresi = emosi x dari mana ngambilnya ? dan siapakah yang memvalidasi data ekspresi wajah tersebut sudah akurat dengan jenis emosinya ?

2) Sudah seberapa akuratkah pemetaan wajah yang dilakukan ? Sudah 3D atau lebih ? Baru 2D ? Kekeke… itu wajah yang dianalisis apakah 2D ? Dia nengok dikit, sudah 3D atau mungkin 4D. Dia gerak nyamping pun begitu.

3) Terkait nomor 2 dan 3, saya mau tanya: Data Ekspresi Wajah yang dimasukin itu data nya 2D atau 3D dan 4D ? Kalo data ekspresi wajah yang dimasuki baru 2D, apakah bisa membaca real pergerakan wajah yang sudah 3D dan mungkin 4D ? Dan sebaliknya, kalo datanya sudah benar 3D dan mungkin 4D, apakah alat pembaca dot-dot metrik di wajah itu sudah 3D dan 4D dengan akurasi tinggi ? Seberapa tinggikah ?

Banyak dari kita ini begitu melongo mendengar kata “AI”. Seakan mesin ini sudah super huebatttt sejak “dilahirkan”. Dan malah meragukan kita, para Analis Micro Expression yang jelas-jelas ter-sertifikasi resmi dari Paul Ekman yang merupakan pembuat konsep Facial Micro Expression.

Saya ketawa ngakak mendengarkan hasil analisisnya sambil geleng-geleng kepala.

Jokowi TAKUT saat menegur mentri-mentrinya itu ?

Saya katakan kepada Wartawan tersebut.

Emang kalo mau “rame”, dimuat aja : JOKOWI TAKUT.

Pasti deh rameeeeee se-nusantara. Padahal, hasilnya bisa langsung digugat oleh Jokowi dan team-nya secara hukum. Pencemaran nama baik ! Dan kemudian di Pengadilan resmi, begitu dibongkar isi jeroan software AI tersebut, ternyata bolongnya superrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr besar.

Saya akan jujur soal hal ini.

Thn 2016 kita pernah start buat hingga th 2017an.

Namun, karena 1 dan lain hal, ndak jadi diteruskan, salah satunya adalah soal kevaliditasan datanya.

jadi caranya itu adalah dengan mengambil ribuan data gambar 2D (2 dimensi) dari internet, yang khususnya juga menyertakan petunjuk itu emosi apaan.

Nah masalahnya adalah : ndak semua data 2D itu dibuat oleh Ahli yang ter-sertifikasi dan kalo pun si Ahli yang buat, tidak ada juga Evaluator resmi nya dari Paul Ekman International Group / Paul Ekman langsung.

Dan saat kita memasukkan ke dalam sistem, ternyata software pendeteksi dot-dot metrik di wajah manusia itu masih sangat terbatas. Selalu saja ada Ekspresi Wajah yang tidak bisa dibaca karena mungkin nunduk, miring sekian derajat, dongak, dstnya.

Kemudian, ini yang penting. Mereka yang sudah belajar sama saya akan tahu, yaitu bahwa dasar Micro Expression adalah pergerakan otot wajah di sekitar alis, mata, hidung, pipi, bibir, dagu dan dahi. Nah, software pembaca wajah nya tidak bisa merekam semua wilayah di wajah tersebut.

Nah, kelemahannya masih super banyak toh.
Main masukin data doang. Dan gk ada yang mampu kompeten menilai data itu benar atau salah. Pokeke apa yang ada di internet, masukin aja. Atau pokeke nanya si abcde yang entah sertifikasinya darimana, dijawab X, maka jadilah itu emosi X.

Jadi, kalo buka-bukaan jeroan database software AI micro expression itu, sudah pasti ancur2an dipertanyakan. Apalagi, kalo hasilnya digunakan seseorang yang katanya Pakar Micro Expression dengan alat bantu AI. Kalo Pengacara nya jeli, habis dikuliti ke-absahan alat tersebut. Atau panggil saya saja sebagai Saksi Ahli lawannya. Akan saya kuliti mesinnya habis-habisan.


Nah, manteman, terus terang saya tidak pernah merekomendasikan 1 pun produk AI terkait Micro Expression ya. Suatu saat, saya akan bisa menerimanya karena AI nya memang sudah benar sejak awal dilahirkan dan hingga seterusnya bisa diajari dengan benar. Tapi, tidak sekarang. Apalagi, alat pendeteksi wajah nya pun belum tahu berapa % akurasi pembacaan dot-dot metrik nya.


#handokogani

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: