makna blusukan jokowi malam hari ke sunter jakarta

CELETUKAN sambil ngerupuk kali ini meresponi blusukan Jokowi di malam hari tgl 15 Juli lalu ke Sunter Agung, Jakarta Utara sebagaimana ditampilkan juga di : (1) JOKOWI BLUSUKAN Bagikan Sembako dan Obat Untuk Masyarakat – YouTube

Kampung Sunter Agung adalah daerah padat penduduk.

Dalam rangka : mengawali pemberian sembako dan obat kepada masyarakat. Agar masyarakat lebih tenang.

Sembako mewakili : Bulog dan Kementrian Sosial.

Obat mewakili : Kemenkes dan Satgas.

Dampak : masyarakat terkejut dan sangat mengapresiasi.

Kata menarik yang saya soroti dari ucapan Warga :

  1. PERJUANGAN
  2. GAK GAMPANG MIMPIN NEGARA di situasi seperti ini, semua juga gak mau seperti ini.


RESPON saya sambil makan kerupuk

  1. Audience –> Team Kemensos hingga Bulog = Peringatan dari Beliau agar bantuan bisa segera sampai kepada masyarakat. Kalo perlu, DATANGI langsung ! Gak pake lama aturan birokrasi ini itu.

    Di sisi lain, memang bisa diibaratkan tindakan ini adalah “kick off” dari program “sembako + obat langsung ke rakyat yang membutuhkannya”. Namun, “kick off” artinya adalah permulaan dari sebuah kegiatan besar yang akan menjadi perhatian banyak orang. Yang artinya, PIC nya pun ajan jadi sorotan. Jadi, jangan main-main ! Jokowi bisa mempermalukannya.
  2. Audience –> Rakyat : menunjukkan kebenaran janji pemerintah sekaligus memberi keberanian agar Rakyat mengawasi dan menuntut haknya atas sembako dan obat tersebut.
  3. Audience –> Pemprov DKI Jakarta = Celutukan dan Sindiran bahwa pemimpin yang paling dekat dengan rakyat harusnya lebih peduli terhadap rakyatnya, lebih dekat rakyat, lebih melayani rakyat, dan lebih marah ketika
  4. Audience –> Lawan Politik = Jokowi masih kuat.

seberapa besar kah HATE CRIMES di negeri ini ?

HATE CRIMES

HATE CRIMES adalah kejahatan yang disebabkan karena kebencian.

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang membaca sebuah buku yang unik.

Buku tersebut berjudul “The Measurement of Hate Crimes”.

Buku ini menarik karena memetakan sejumlah jenis kejahatan yang disebabkan karena kebencian. Kejahatan itu bisa berupa assault (penghinaan) hingga pemerkosaan dan pembunuhan.

  1. Kebencian terhadap ETNIS, RAS, dan SUKU

Di Amerika, kebencian terhadap RAS ini adalah terhadap Hispanic, African America, dan Asia khusus Cina karena kasus Covid saat ini. Di Indonesia ? Eitsss…jangan katakan tidak ada.

Waktu saya kecil, beberapa kali saya mendengar “dasar Cina lo ! atau “dasar pribumi lo !”. Bahkan, “Lo Cina bukan, pribumi juga bukan (gak diakui) !”

Dan hingga hari, walaupun tidak berbentuk kejahatan yang mencelakai nyawa, tetapi hate speech terhadap ras juga sangatlah sering terjadi. Anda bisa baca di berbagai kolom komentar di sosmed.

Terakhir, tentunya ada 1 kasus yang masih gantung hingga hari ini yaitu : kasus pemerkosaan dan penganiayaan terhadap etnis Cina khususnya gender perempuan, semasa kerusuhan Mei 1998.


2. Kebencian terhadap AGAMA

Jangan katakan kebencian terhadap agama tidaklah terjadi di Indonesia.

Gara-gara benci terhadap suatu agama tertentu, mulai dari Hate Speech terjadi bahkan hingga ceramah agama.

3. Kebencian terhadap SEXUAL ORIENTATION

Tidak bisa dipungkiri, masyarakat kita belum siap terhadap perbedaan orientasi seksual, baik di kota metropolitan hingga di pedesaan. Mulai dari perlakuan diskriminasi hingga kejahatan yang mencelakai nyawa.

4. Kebencian terhadap DISABILITY

Saya sudah pernah mendengar berbagai kasus yang merugikan para penyandang disabilitas termasuk autis, down-syndrome dan sejenisnya. Bahkan, dilakukan di sekolah hingga di rumah mereka oleh para Suster nya.

5. Kebencian terhadap Gender

Perempuan biasanya adalah korban paling banyak akibat kebencian terhadap gender ini. Sayangnya, kita belum memiliki data untuk memastikan apakah kasus-kasus psikopatis disebabkan karena kebencian terhadap gender juga.

Yang belum ada, saya perhatikan adalah kebencian terhadap Profesi.

Dan ini bisa terkait juga dengan Politik, dimana profesi yang terkait pemerintah atau lawan politik dari tokoh pujaan, menjadi bulan2an kebencian tersebut. Dan wujud kebencian tersebut adalah kejahatan pencemaran nama baik misalnya membuat meme ataupun tag di sosmed (Twitter) yang sangat pedas.

PEMBUNUHAN BOS KONTER DI TANGAN PASANGAN SEJENIS

KERUPUK memang ringan, tetapi gak ada kerupuk, bisa gak kenyang.

CELUTUK saya memang ringan, teman asik makan kerupuk.

—–

Di CELETUK edisi kali ini, saya ingin ngebahas tentang :

Dendam soal Uang Kencan, Bos Konter Pulsa Tewas di Tangan Pasangan Sesama Jenisnya (kompas.com) yang diedit oleh : Michael Hangga Wismabrata

Dede Tewas Dengan Tangan Terikat dan Tubuh Terlipat, Istrinya Sedang Hamil 8 Bulan – Halaman all – Tribunnews.com yang diedit oleh : Hendra Gunawan

——

Siapa Pelaku nya ? Pasangan sesama jenis, BM (21) alias Alan dan SA (33).

Siapa yang dibunuh ? Bos Konter Pulsa-Dede Cell di Gisting, Tanggamus (D) dan juga seorang Guru yang memiliki istri sedang hamil 8 bulan.

Dimana kejadiannya ? Di kebun di Dusun Kebumen, Pekon (desa) Banjar Agung, Kecamatan Pugung

Dimana jasad korban ditemukan ? Di penampungan air di ladang Dusun Pagar Jarak, Pekon Tiuh Memon, Kecamatan Pugung.

Bagaimana kondisi jenasah saat ditemukan ? Di dalam plastik ikan – 2 lapis dan terikat, mengapung di dalam lubang, terlipat seperti janin dalam kandungan.

Penyebab Kematian ? Luka senjata tajam sebanyak 24 tusuk (keterangan awal di Tribunnews adalah 19 luka tusuk), serta luka di kening kiri – kepala. Luka tersebut antara lain : luka bacok, luka lecet, dan luka sobek.


CELETUK RINGAN sambil ngerupuk

  • by : Handoko Gani yang doyan kerupuk dan nyeletuk


Saya tuh masih belum jelas, BM / Alan dan SA ini laki-laki atau perempuan.

Kalau Laki-Laki, berarti ini adalah kasus pembunuhan didasarkan dendam antar sesama penyuka sama jenis.

Banyaknya luka menunjukkan betapa Pelaku memang sangat dendam kepada Korban. Namun, apakah hanya gara-gara kurangnya transfer-an booking ? Saya ragu.

Di balik Uang Transfer ini yang katanya kurang 200 ribu (dibayar hanya 300 ribu), kita harus memahami bahwa “rate” selalu disesuaikan dengan Level “Kualitas Pelayanan”. Jadi, menurut saya, faktor “dendam” karena merasa terlecehkan ini lebih menyakinkan sebagai motif sesungguhnya.

Yang sungguh lagi-lagi saya prihatinkan adalah beban psikologis pada Sang Istri dan anaknya nanti , bila memang ini kasus pembunuhan sesama jenis. Beban sosial dari masyarakat. Masyarakat yang tinggal di lokasi tersebut apakah sudah bisa menerima anggota masyarakat lainnya yang menyukai sesama jenis ? Saya menyarankan agar sang Istri Korban dan anaknya pindah ke wilayah lain.

Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa diberikan kekuatan melanjutkan kehidupan !

dr lois perlukah ditangkap ?

Beberapa saat lalu, dikabarkan di detik, bahwa dr. Lois ditangkap kepolisian.

dr Lois Ditangkap Polda Metro, Dilimpahkan ke Bareskrim (detik.com)

Polda Metro Jaya membenarkan telah mengamankan dr Lois yang kontroversi karena tidak percaya Corona. dr Lois saat ini dilimpahkan ke Mabes Polri.

“Iya, sekarang sudah dilimpahkan ke Bareskrim,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran kepada detikcom, Senin (12/7/2021).


Namun, perlukah dr. Lois ditangkap ?

tapi, bukti-buktinya sih kuat lho !

Bukti-bukti Penjerat dr Lois, Tak Cuma dari Hotman Paris Show (detik.com)

Saya jelaskan tentang 2 orang yg berada di kubu berbeda :

  1. Orang yang TIDAK TAHU dan dia melakukannya (melakukan seperti dr. Lois)
  2. Orang yang TAHU (bahwa itu keliru, salah, bohong, dstnya), tapi dia TETAP melakukannya (melakukan seperti dr. Lois)

Nah, terkait dengan TAHU ini, pasti Pak Polisi akan memeriksa hal berikut :

  1. Apakah PENGETAHUAN dokter ini berasal dari pendidikannya sebagai dokter ? Apakah ia layak memenuhi syarat untuk menyampaikan semua yang dia nyatakan?
  2. Darimana dokter ini TAHU tentang apa yang dia nyatakan tersebut ? Apakah riset nya sendiri ? Apakah riset orang lain ? atau studi ilmiah lainnya ? Jadi, di sini Polisi akan membuktikan apakah PERNYATAAN sang dokter ini ILMIAH ?

Kok harus ILMIAH ?

Karena : Anda dan Saya mungkin golongan yang TIDAK TAHU. Kita tidak belajar tentang penyakit, tentang organ tubuh, tentang virus, hingga tentang virus covid19. Dan kita bukan dokter yang dipercaya masyarakat – TAHU – tentang covid19. dr. Lois ini ada gelar “dokter” yang membuat dirinya dipercaya oleh Kita.


Kenapa dr. Lois juga harus dicek keanggotaannya di IDI ?

Sebagai induk organisasi yang menaungi dokter hingga memberikan izin praktek kepada para dokter, pengecekan keanggotaan ini menjadi penting karena hal ini menunjukkan sejak 2018 hingga 2021 apakah sang Dokter masih berada di profesi dokternya, masih memanfaatkan pengetahuan dan ketrampilan dokternya untuk kesehatan termasuk juga mungkin riset dan penyembuhan pasien, atau justru tidak sama sekali.

Di sisi lain, kok Acara Podcast atau Acara Show nya ndak di-apa-apain ?

Dulu ketika Anji menginterview seorang “pembuat obat/vaksin korona” Hadi Pranoto, banyak yg protes keras kepada Anji. Kok terjadi lagi ? Kenapa diberi panggung ? Banyak yg bahkan juga menyudutkan Anji nya. “Demi Konten” , kata orang-orang itu.

Semoga ini jadi pembelajaran bersama.

Saksikan juga di Youtube saya ya : Perlukah dr Lois ditangkap Polisi ? – YouTube

KOk bisa sih NIA RAMADHANI tidak tertangkap saat syuting sinetron dulu ? kok ardi bakrie ikut-ikutan ?

Polisi mengungkap Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie sudah cukup lama mengonsumsi sabu. Bahkan Nia Ramadhani sudah pakai sabu sejak zaman syuting sinetron untuk kejar tayang ; sejak awal karir.

Lalu, bagaimana dengan Ardi Bakrie? Panjiyoga hanya mengatakan Ardi Bakrie menggunakan narkoba usai istrinya mengkonsumsi sabu.

(Dikutip dari Nia Ramadhani Nyabu Sejak Sibuk Striping Syuting, Ardi Ikut-ikutan (detik.com) dan Nia Ramadhani Nyabu Sejak Awal Karier, Ingat Lagi Ceritanya Ditawari Narkoba (detik.com)


Pandangan saya :

“Kok bisa sih ?” NR tidak tertangkap saat zaman syuting sinetron dulu ? Jelasnya ini relatif sudah lama lho. Kapan seorang NR masih syuting sinetron yang kejar tayang ?

NR menikah dengan AB tahun 2010. Dan tercatat menurut Wikipedia, terakhir kali tahun 2014, NR syuting sinetron (Sumber : Nia Ramadhani – Wikipedia)

Kalopun kita asumsikan tahun 2014 adalah saat pertama NR menggunakan sabu, itu sudah hampir 7 tahun lamanya.

“Kok bisa sih tidak tertangkap ?”

Apakah kalangan circle terdekat Nia, hingga lawan mainnya, para pemain lain, hingga crew tidak menyadari ? ATAU tahu tapi ndak peduli ? Dan apakah Nia memakainya hanya untuk keperluan syuting ?

Dan yang makin menarik adalah dikatakan : AB pakai sabu karena ikut-ikutan istri.

Saya jadi bertanya2 : apakah benar demikian ? Kalo benar, apa sih alasannya seorang Pebisnis muda yang sukses melakukan hal ini ? Kalo tidak benar, sebetulnya apakah mereka dulu sama-sama pemakai ? Mungkin sewaktu2 ?

Di youtube saya ini : https://youtu.be/MV8KdGbwG4w

saya membahasnya lebih detil, disertai dengan ide saya untuk sebuah aturan terkait sinetron Indonesia: WAJIB sebelum syuting !

Selamat menyaksikan youtube saya.

KAPAN KITA BOLEH MENGATAKAN JANJI SESEORANG ITU BOHONG

Ketika kita ingin memastikan apakah seseorang berbohong tentang sebuah janji, kita perlu melakukan 3 hal yaitu :

1) kita perlu menyamakan dulu pemahaman kita dan dia apakah ia memang berjanji hal tersebut. Ada kalanya, kita merasa ia berjanji tetapi ternyata ia tidak berjanji.

2) kita perlu memahami apakah definisi janji itu dan apakah definisi janji yang jujur dan janji yang bohong, serta bagaimana menilai sebuah janji jujur atau bohong

3) kita perlu mengetahui apakah kompetensi Pelaku Janji yang terkait pewujudan janji tersebut dan apa saja yang sudah dilakukan Pelaku Janji untuk mewujudkan janji tersebut selama durasi yang kita sepakati tersebut.

Nah, bagaimana memahami poin no 2, bisa Anda saksikan di Youtube ini :

https://bit.ly/BenarkahJanjiJokowiBohong

Semoga dengan contoh Tokoh Politik ini, teman2 bisa memahami poin no 2 tersebut. Tidak ada maksud untuk mendeskreditkan ataupun memuja-muja sang Tokoh Politik, tetapi semata-mata menggunakan contoh ini karena sering dibahas di sosmed manapun.

Semoga Anda bisa memahaminya.

Training Desember

Linkedin Page : Terampil Berdaya dan Handoko Gani menyelenggarakan training-training dari Trainer lain. Kurang lebih seperti jasa Training Provider. Namun, berlaku perorangan.

Berikut Judul dan Skedul nya untuk Desember 2020

  1. Belajar Akuntansi Lanjutan (bitly.com/workshop-akuntansi)

2) Batch ke-2 : World Class Business Negotiation Skill (bitly.com/workshop-handito)

3) Certified Neo NLP Practitioner , seperti resmi dari Neo NLP Society (bitly.com/workshop-NNLP)

4) Rational Problem Solving & Decision Making Skill (bitly.com/workshop-rully)

klaster pilkada lebih controllable

Tgl 7 Agustus yang lalu Pak Presiden Jokowi menyebutkan 3 klaster yang perlu diperhatikan yaitu soal Klaster Kantor, Keluarga, dan Pilkada. Anda bisa mengikuti di https://youtu.be/sQaO_1OOBEY

Banyak jedah di dalam sidang tersebut. Salah satunya yang kentara adalah saat menegaskan pilihan antara Kesehatan vs Ekonomi. Saya melihat memang ini seperti mengambil keputusan terbaik di antara terpahit.

screenshot_2020-09-07-23-08-13-753_com.google.android.youtube.jpg
Perhatikan Bibir Beliau !

Kita ingat beberapa waktu lalu, sebagaimana saya berkali-kali menganalisis untuk detik.com , Pak Presiden sempat sangat menegasi soal ekonomi yang turun, mereka-mereka yang tidak punya “sense of crisis”, bahkan hingga menyonggol soal “reshuffle kabinet”.

Namun, sebagaimana saya ingat, baru kali ini, Pak Presiden “menegasi” soal Kesehatan ini.

Saya justru melihat bahwa “ketegasan” ini tidak memiliki suara, ucapan, gesture, dan ekspresi wajah yang selaras dengan makna “tegas” sebagaimana seharusnya.

Di menit-menit ini, tangan kanan Pak Presiden berulang kali mengayun/mengetuk2 dengan irama tidak beraturan. Ini mencitrakan adanya kecemasan terhadap klaster-klaster tersebut.

Pak Presiden malah terlihat gesture tangan “cemas” (tidak nyaman) ketika membicarakan 3 klaster di atas.

Banyak portal berita nasional menulis tentang perhatian @jokowi terhadap Klaster ekonomi dan keluarga. Saya menjadi penasaran. Saya menganalisis dari verbal (linguistics) dan nonverbal Pak Presiden.

Ternyata, justru di klaster Pilkada-lah, sebetulnya Audience harus memfokuskan perhatian.

Berikut beberapa alasannya :

  1. Di Klaster Kantor & Rumah, Presiden minta diingatkan (jedah bicara) karena selalu yang dikejar adalah tempat2 umum. Presiden juga mengingatkan alasan penyebaran yaitu “merasa aman”. Dan Presiden tidak menyebutkan Mentri tertentu.

    Presiden menggunakan kata “Kita”.
    “Kita” ini siapa ? Memang bisa jadi yang dimaksud adalah TNI Polri karena disebutkan di kalimat sebelumnya. Namun, penggunaan “kita” ini justru membingungkan “Subyek”nya atau Siapa yang dimaksud. Kita ini siapa ?

    Sepanjang pernyataan tersebut, presiden berkali-kali menyebutkan “kita”. Apakah “kita” ini adalah semua orang yang hadir, termasuk Pak Presiden sendiri ? Ataukah ini juga termasuk “Kita” masyarakat ?

    Nah, saya lebih yakin “kita” ini adalah semua ! Termasuk masyarakat yang melakukan kontrol duluan.
  2. Hanya ketika menjelaskan Klaster Pilkada, presiden menyebutkan nama/posisi Mendagri, Polri, dan Bawaslu. Pak Presiden minta Mendagri (berkali2 disebutkan) untuk semakin tegas dan mempertegas.

 

Jadi, saya ingin menduga2 bahwa : sekalipun message utama-nya terkesan adalah Kesehatan vs Ekonomi, tetapi Pak Presiden merasa di antara semua controllable variable, selain soal 3 klaster tersebut di atas, Pak Presiden merasa yang juga bisa controllable adalah Klaster Pilkada dengan Mendagri sebagai ujung tombak penting. Tidak ada “kita” di sini. Termasuk “kita” masyarakat. Karena presiden merasa kontrol lebih bisa diatur oleh Mendagri bersama Polri dan Bawaslu.

Saya selaras dengan Pak Presiden. Di antara ke-3 klaster, Klaster Pilkada ini memang bisa lebih terkontrol. Pak Mendagri yang sangat saya hormati dan segani – ini – adalah ujung tombak penting dalam pencegahan penyebaran Covid di periode Pilkada. Kenapa ? Karena kalau Anda saksikan semua pendaftaran paslon beberapa waktu yang lalu, puluhan, ratusan bahkan ribuan orang ikut menemani. Beberapa tanpa masker, pelindung wajah, dan tanpa jarak satu sama lain.

Memang kalo di klaster Kantor dan Keluarga, kontrol lebih bisa diatur oleh “Kita” masyarakat. Tetapi di klaster Pilkada, bila ada peraturan tegas, pengawasan tegas, himbauan tegas, bahkan sanksi kepada Paslon dan Partai nya, maka : kerumunan massa pendukung bisa dihindari dan kalopun terjadi kerumunan hanya dalam jumlah tertentu dengan protokol kesehatan.

Saya mengagumi Pak Mendagri dalam sepak terjang beliau sebelumnya di berbagai isu kasus kriminal dan terorisme. Saya turut mendukung pernyataan / permintaan Pak Presiden. Saya yakin “kita” bisa !

Mari Pak Mendagri ! Bpk pasti bisa !

Meremas

Meremas merupakan sebuah gerakan gestur yang menekan melepaskan menekan melepaskan. Ada kekuatan otot jari tangan dan pergelangan tangan di sana. Dan ini harus dilakukan secara sadar dan sengaja.

Lain dengan menyentuh. Menyentuh bisa tidak sengaja. Dan bukan cuma tidak sengaja, tapi juga bisa tidak sadar apa yang disentuh.

Lain juga dengan menggaruk. Menggaruk menggunakan ujung jari. Meremas menggunakan kekuatan punggung tangan. Dan jari tidak digerakkan naik turun seperti menggaruk. Selain itu, menggaruk biasanya spesifik pada spot tertentu. Tidak seperti menyentuh yang sangat random ataupun meremas yang melibatkan sentuhan dan gerakan dalam bidang yang lebih luas.

Anda akan tahu dari permainan sederhana anak2 yaitu menebak benda dalam kondisi mata tertutup. Bila hanya menyentuh benda tsb, ajaib bila Anda bisa tahu apa benda tersebut. Anda perlu memegang, memencet, dan meremas.

Beberapa tahun lalu, di dalam sebuah kasus yang menghebohkan itu …

Saya sempat memberikan analisis saya kepada Pihak Berwajib.

walaupun saya tidak maju sebagai Ahli.

 

Ini soal gerakan gestur tangan yaitu menggaruk, meremas, menekan, dstnya yakni biasa dinamakan kategori “memanipulasi” tangan. Baik garuk, remas, tekan, memainkan barang tertentu, mengetuk2 barang tertentu, dikategorikan dalam kategori yang sama.

 

Gerakan gestur tangan ini bisa dikarenakan 3 hal :

  1. Gugup (entah kenapa ?)
  2. Kebiasaan
  3. Gatal

 

Sebagai Analis Ekspresi, kita tidak boleh menyimpulkan penyebab. Karena kita tidak melakukan interview konfirmasi / klarifikasi / pengujian. Atau kita tidak punya bukti lain untuk menyampaikan alasan manakah yang menjadi penyebab.

Kita hanya bisa menduga antara kebiasaan atau gatal versus gugup.

Gatal : memiliki durasi yang lebih panjang. Bisa sama pendeknya dengan Kebiasaan. Yang jelas, kebiasaan dan gatal memiliki durasi yang relatif lebih panjang dari Gugup. Dan gatal tentu terpusat pada spot tertentu saja. Bukan random di seluruh tangan.

Karena gugup, seseorang bisa terus menerus menggaruk, meremas, membolak balik tangan, dstnya. Namun, note penting yang membedakannya dengan Kebiasaan adalah : kegiatan gesture tangan ini hanya muncul di momen-momen tertentu. Tidak terus menerus.

Kalo gestur tangan garuk / remas terus menerus, bisa karena gatal, termasuk gatal karena penyakit ataupun pemicu lainnya. Contoh ekstrim nya adalah ketika cacar. Anda garuk terus.

Kalo kebiasaan, gestur tangan garuk / remas itu memiliki pola dan durasi tertentu karena munculnya pemicu tertentu. Pola kemunculan dan pola garukan / remasan. Begitu juga durasi on-off nya. Relatif tidak random. Contohnya orang yang kebiasaannya garuk hidung karena alergi seperti saya. Sesekali saya akan menggaruk hidung saya.

Nah, kalo gugup … ia hanya akan muncul sewaktu momen tertentu saja.
Tidak muncul terus-terusan. Namun, bisa cukup lama menggaruk / meremas selama momen “terancam” atau “tidak nyaman” muncul.

Apakah gugup = bersalah ?

Waduh…kejauhan !

Gugup itu tanda seseorang tidak nyaman/terancam. Tapi penyebabnya pun lain2.

Gugup karena Penanya vs Gugup karena Bersalah tidaklah sama.

Lagi-lagi, kuncinya adalah di pertanyaan.

Ibaratnya, memancing ikan, pertanyaan yang tepat, bisa menunjukkan alasan kegugupan seorang Interviewee di hadapan Anda.

 

Gitu lho soal meremas dari sisi Forensic.

Eitsss. siapa yang mau ngomongin soal meremas yang lagi rame itu ?

Hahaha…Anda ngarep ya ?