HANDOKO GANI

PENDETEKSI BOHONG

PROUD TO HAVE YOU, BAPAK PRESIDEN JOKOWI

PROUD TO HAVE “YOU”,

BAPAK PRESIDEN JOKOWI

Pada tahun 2012 lalu Grafolog @deborahdewi pernah menganalisa karakter Jokowi lewat tulisan tangan-nya (http://www.deborahdewi.com/analisa-karakter-jokowi-2012/). Note bahwa tulisan tangan yg dipergunakan bukan diperuntukkan kepada publik,malah berupa memo rapat harian.

 Baseline 0

Saat ini (Feb 2014) beliau belum memiliki tulisan tangan serupa yang sesuai S.O.P kelayakan sebuah analisa Grafologi sesuai standar American Handwriting Analysis Foundation (AHAF), sebuah asosiasi profesi resmi para Grafolog dunia berpusat di Amerika. Dengan kata lain, belum ada satupun tulisan tangan Jokowi (?) yang beredar di internet yang telah sesuai S.O.P AHAF

Namun, kali ini saya mempergunakan analisa 2012 tsb dengan alasan: hasil analisa bisa dinyatakan valid jika tulisan tangan penulis tetap sama dan tidak mengalami perubahan, hingga hari ini.

Saya permisi menggunakan cuplikan analisa itu untuk sekadar memberikan contoh bagaimana analisa Grafologi dijadikan BASELINE dalam sebuah analisa ekspresi Forensic Emotion.

Apakah Pak Jokowi bisa ditunggangi dengan mudah untuk kepentingan lain?Bayangkan sosok pemikir yang kritis sekaligus berhati-hati (vertical slant – garis orange), memiliki kemampuan berpikir analitis & investigatif (garland-lingkaran kuning), serta memiliki tingkat sensitifitas yang cukup tinggi (d stem width broad – lingkaran hijau) sehingga individu tersebut peka untuk membedakan manakah yang memiliki hidden agenda dan mana yang tidak.

Sumber: http://www.deborahdewi.com/analisa-karakter-jokowi-2012/

BASELINE karakter Pak Jokowi adalah: hati-hati, kritis, analitis, investigatif, tingkat sensitivitas sosial yang tinggi, dan peka.

Sekarang, saya akan mempergunakan BASELINE tersebut dan mengkaitkannya dengan analisa ekspresi Forensic Emotion.

Saya sudah melihat langsung video lengkap wawancara KompasTV tsb tanpa edit-an sedikitpun. Di dalam wawancara tsb, Pak Jokowi justru merasa relax dan nyaman bahkan bisa tertawa lepas layaknya kita semua.

Uniknya, wawancara inilah yang banyak dijadikan landasaan bagi para Haters Jokowi untuk mencemooh Beliau dan menghakimi Beliau sebagai seorang presiden yang tidak tegas, cengas cenges, dan masih belum menguasai tugasnya.

Padahal, justru wawancara inilah wawancara terbaik yang pernah dilakukan seorang wartawan karena justru di sini-lah, sang Presiden bisa menampilkan sosok diri, pemikiran dan pendapatnya secara apa adanya.

Mari kita bersama melihat Baseline komunikasi Pak Presiden.

  1. Sebagai orang yang hati-hati, Pak Jokowi juga betul2 memperhatikan setiap kata yang ia akan ucapkan. Itulah sebabnya, Beliau selalu memiliki script/”contekan” konferensi pers atau wawancara.

Saking hati-hatinya beliau, jelas sekali beliau sering sekali kedapatan sedang melihat ke bawah dimana script itu diletakkan, dan selalu melakukan jedah suara sebelum mempersiapkan kalimat/topik bahasan berikutnya.

Ketika berdiam diri, khususnya saat melihat ke arah script pidato atau preskon, alis maupun bibir Presiden brbentuk sbb:

 Baseline 3

Jadi, begitu terjadi perubahan Baseline, kita bisa jelas melihatnya.

Beliau makin berhati-hati dalam memilih kata-kata dan mengucapkannya.

Dan, terlihat banyak sekali jedah antar kalimat, serta ekspresi wajah yang terlihat berpikir dengan ekspresi mulut/bibir yang mencerminkan kegusaran beliau akan topik/isu yang segera akan Beliau sampaikan tersebut.

  • Ketika berdiam diri, bandingkan mulut/bibir Beliau ketika di wawancara KompasTV, versus mulut/bibir Beliau ketika melakukan konferensi pers pasca penetapan BG sebagai Tersangka (Kolom Tengah) dan versus ketika konferensi pers pasca BW ditangkap Polri.

Perhatikan baik2, bagaimana bibir tsb beliau “kulum” alias “manyun”.

Begitu kita tau BASELINE mulut/bibir Pak Jokowi saat lumayan “netral” (seperti misalnya di wawancara ini), kita segera tahu ada makna emosi lain di balik bibir nya yang di “kulum” alias “manyun” tersebut.

 Baseline 6
  1. Sebagai seorang yang memiliki tingkat sensitivitas dan kepekaan yang tinggi, Beliau seorang presiden yang betul-betul menjaga emosi marah nya di depan publik.

Hal ini terlihat juga pada ekspresi Beliau.

Pada kondisi “biasa”,

Ketika bermaksud menjelaskan atau mempertegas suatu kata, topik, isu atau masalah, Presiden seringkali kedapatan menaikan salah satu alis, di antaranya: alis kiri, diiringi oleh pitch dan intonasi nada yang lebih tinggi dibandingkan kata/kalimat lainnya.

 Baseline 1 
 Baseline 2

Bahkan, ketika Beliau mulai “serius” dengan ucapannya dan mulai melakukan penegasan pada isu/masalah tertentu.

Kita hanya melihat adanya “perubahan” ekspresi wajah, gerak tubuh (badan ataupun tangan), suara (ritme,volume,kecepatan, pitch, dan intonasi suara), jenis kata, dan cara berkata-kata.

Bandingkan gambar2 di bawah ini dengan ketika beliau hanya menyampaikan nya lewat alias mata yang naik, baik salah satu maupun kedua nya, atau repitisi saja, atau penggunaan ritme,kecepatan,volume suara dan pitch tertentu.

Beliau mulai menggunakan tangan (gambar kiri) atau bahu nya (gambar kanan) ketika mulai lebih “serius” dengan ucapannya.

Malahan, kita masih bisa melihat senyum di bibirnya ketika menyebutkan isu yang krusial yakni “KPK dan Polri harus bersih”.

KPK dan Polri ini harus bersih Sok di atas hukum
Baseline 4b  Baseline 5

Lantas, apa tanda ekspresi yang menunjukkan emosi Beliau yang “memuncak” ?

Bila kita mendapati Beliau mempergunakan repitisi khusus (2x pengulangan atau lebih) disertai dengan “perubahan” suara (ritme,volume,kecepatan, pitch, dan intonasi suara), dan mungkin saja perubahan ekspresi wajah dan gerak tubuh, kita bisa memastikan adanya perubahan BASELINE (yang semula hanya menaikkan alis saja, kini mempergunakan repitisi yang disertai perubahan dalam ke 5 channels lainnya.

Di sinilah, kita mulai berhipotesa mencurigai adanya gejolak emosi tertentu, khususnya marah.

Contoh:

Beberapa hari pasca penetapan BG sebagai Tersangka oleh KPK, menyusul terjadinya penangkapan BW terkait kasus pilkada lalu.

Keduanya tanpa koordinasi dengan Presiden.

Tentunya mencoreng “muka” Beliau.

Selain terlihat adanya perubahan BASELINE mulut/bibir (sperti pada point 1 di atas), emosi kesal ini Beliau tunjukkan dengan penggunaan repitisi.

Dua kali Beliau mempergunakan kata “Sebagai Kepala Negara, saya meminta” kepada ke2 institusi untuk memastikan adanya proses hukum yg obyektif & sesuai peraturan, agar tidak terjadi gesekan KPK dan Polri.

Ini sudah memberikan petunjuk kepada kita adanya perubahan BASELINE.

Bagaimana bila emosi marah tersebut sudah di “ubun-ubun” ?

Di sinilah mengapa saya katakan bahwa saya bangga memiliki Presiden seorang Jokowi ini, bila tulisan tangan 2012 tersebut masih valid.

Saking tingginya sensitivitas dan kepekaan Beliau, “kekesalan yang sudah di-ubun-ubun” itu justru ditegaskan secara tersembunyi di antara kalimat dan kata-kata yang diucapkan.

Kita tidak melihat seorang Presiden yang mempergunakan kata-kata kasar, pedas, ataupun kasar, dengan perubahan ekspresi ke 5 channels selayaknya seorang yang sudah “marah di ubun-ubun”: wajah merah, badan condong ke depan, kata-kata mulai tidak beraturan dan terus kontinu, intonasi mulai tinggi, detak jantung lebih cepat, dsbnya.

Kita justru melihat micro expression yang hanya muncul 1/25 detik.

Saat itu, kita menemukan adanya perubahan besar pada ekspresi beberapa channels khususnya: Wajah dan Suara (Ritme-Kecepatan-Volume-Pitch-Intonasi suara), serta Body Language (mulai menggunakan tangan ilustrator/Batons)

Contoh:

Jangan ada Kriminalisasi…Saya ulang

Jangan ada Kriminalisasi

KPK… dan Polri semuanya harus diselamatkan Tidak mungkin saya meng-Intervensi
Baseline 7 Baseline 8 Baseline 9

Dimana kita melihat perwujudan karakter Bpk presiden yaitu investigatif?

Ketika Beliau tidak serta merta mengiyakan BG bersalah, atau BW bersalah, atau AS bersalah, tanpa menanti proses hukum dan keputusannya yang resmi.

Lepas dari kekurangan yang Beliau miliki yakni “terlalu baik” ini…

Bila tulisan tangan 2012 tersebut masih valid hingga hari ini,

Saya bangga memiliki seorang Presiden yang memiliki karakter sensitif, peka, berhati-hati, analitis dan juga investigatif.

Saya bangga memiliki seorang Presiden yang bisa mengontrol dirinya dan emosinya, sekaligus sensitif dan peka memahami orang lain.

Saya bangga memiliki seorang Presiden yang tidak meledak-ledak. Setidaknya, di depan publik.

Namun, Saya juga tidak mau mendewakan Bapak Presiden Jokowi, karena Bpk hanya manusia dan hanya presiden saya selama 5 tahun. Yang saya puja-puja hanyalah Beliau yang menciptakan dan menguasai hidup saya.

Sekali lagi, saya tidak mendewakan Jokowi.

Karena Ekspresi (Micro Expression) seseorang tidak akan bisa dikontrol.

Bahkan oleh sang penemu ilmu Micro Expression, Paul Ekman, sekalipun.

Jadi, bila Bpk Presiden pura-pura marah, pura-pura sedih, pura-pura kaget, dan pura-pura jijik/muak, Bpk pasti ketahuan.

Terima kasih telah membaca artikel ini.

Jakarta, Minggu, 22 Februari 2015

Handoko Gani, SE, MBA

Baca juga:

  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat kasus BG/AS: http://wp.me/p4S2VJ-4Z
  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat buka botol air minum untuk Mega: http://wp.me/p4S2VJ-7b
  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat menuangkan air minum ke Aher: http://wp.me/p4S2VJ-76
  1. Analisa Ahok di Mediasi DPRD-AHOK: http://wp.me/p4S2VJ-5N
  1. Analisa Ahok di KompasTV: http://wp.me/p4S2VJ-6F
  1. Analisa Ekspresi #Gibran: http://wp.me/p4S2VJ-6Z
  1. Analisa Ekspresi #MaryJane: http://wp.me/p4S2VJ-7e
  1. Homepage : www.handokogani.com

 

Iklan

One comment on “PROUD TO HAVE YOU, BAPAK PRESIDEN JOKOWI

  1. Ping-balik: Kenapa Mediasi AHOK dan DPRD GAGAL ? | Handoko Gani – Forensic Emotion

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: