Andalan

Lagi ramai membahas soal Alasan Jokowi / Team Komunikasi Presiden sering mengupload foto Beliau mengikat tali sepatu.

https://news.detik.com/berita/d-5886356/beragam-momen-pakai-sepatu-yang-diunggah-jokowi-saat-blusukan-ke-daerah

Banyak yang mengatakan kenapa sih njelimet banget ? Semua harus dianalisis ?

“Sahabat, kalau Anda yang mengikat sepatu, apakah ada yang moto ?”

“Ya jelaslah ! Dia kan presiden.”

“Exactly ! Artinya, ada tujuannya mengapa aksi mengikat sepatu beliau di-upload ke sosmed. Sama seperti Anda memposting foto Anda liburan, foto masakan Anda, foto Anda membereskan rumah, dstnya. Bukankah Anda mempostingnya karena ada tujuannya ?”

Opsi pertama : seadainya tali sepatu itu memang lepas ( dan di-upload )

Yang saya prediksi dari maksud PR / team komunikasi ini adalah ingin membentuk image :
1) Presiden adalah seorang yang sigap dalam segala kondisi mendadak –> tali sepatu terlepas mendadak, segera dibetulkan, tanpa berlarut-larut hingga bahkan menjatuhkan diri sendiri atau ditegur orang lain karena tali sepatu itu tidak juga dibereskan. Tentunya kesigapan ini juga ekspektasi Pak Presiden terhadap bawahannya termasuk Mentri dan Kepala Daerah.

2) Presiden adalah seorang yang menyukai kerapihan termasuk di dalam konteks ekspektasinya terhadap kerjaan anak buahnya termasuk Mentri hingga Kepala Daerah.

3) Presiden kita seorang pribadi merakyat seperti kita juga. Ketika tali sepatu kita lepas, ya kita betulkan. Presiden kita tidak perlu dilayani seperti layaknya orang dengan kedudukan tertinggi di sebuah negeri.

4) Ketika diposting sebelum kegiatan perjalanan atau kejadian pertemuan penting tertentu, artinya Pak Presiden ini siap menghadapi kemungkinan tantangan atau hal2 tidak diduga dalam perjalananan / pertemuan tersebut.

OPSI KEDUA : Kalo seandainya tali sepatu itu sebetulnya tidak terlepas , hanya saja kurang kencang atau kurang rapih. Istilahnya : (tali sepatunya) di-pererat.

Di satu sisi ini mungkin terkait dengan karakter Pak Presiden yang bisa jadi OCD yang selalu kepingin semua perfectly arranged ( tertata rapih, indah, kencang dstnya ), dan atau Pak Presiden melakukannya untuk meredakan ketegangan sebelum acara meeting / perjalanan penting tersebut.

dan di sisi lain ketika di-upload PR / Komunikasi Presiden, maka selain 3 poin di atas yang mungkin menjadi salah satu rencananya, prediksi saya juga ingin membentuk image : Presiden kita seorang yang suka hasil kerjanya sempurna.

Yang menarik juga adalah ketika dijawab oleh PakGub Jateng.

rtinya :
1) untuk pekerjaan normal n rutin , maka : Pak Gubernur Jateng, Pak Ganjar, sudah siap dengan tuntutan ekspektasi kesempurnaan, kelancaran, ketataan rapih, dari Pak Presiden.

namun, yang menarik ketika seandainya tali sepatu itu tidak terlepas dan prediksi tujuan presiden yaitu meredakan ketegangan,

saya menduga Pak Presiden punya tujuan tambahan selain pekerjaan rutin / normal, yaitu meredakan ketegangan.

Dugaan terliar saya adalah Presiden juga punya agenda meredakan ketegangan antara Ganjar dengan PDIP dan Puan.

dan Ganjar telah siap juga membicarakannya

Ini dugaan terliar yaaaaaa….

Dan di dimensi lainnya, karena kunjungan ini akan berakhir, maka patut kita tunggu juga hasil kunjungannya tersebut :

apakah layak tali sepatu itu “dikencangkan” ?

atau

jangan-jangan

bahkan mengikat tali sepatunya (Presiden) pun tidak layak sebagai bawahannya.

🙂

Handoko Gani MBA,BAII,LVA,CHt,CI.

Instruktur Ahli Lie Detector , Instruktur Hipnotis, Authorized Operator Layered Voice Analysis (LVA)

Reshuffle Kabinet

Apakah reshuffle itu tidak lagi menjadi isu ? Tidak. Masi ada isu.

Apakah reshuffle itu relevan ? Jelas ! Kalo kinerjanya gak bagus.

Apakah kinerjanya betul sudah super bagus ? Masa ? Kejadian tgl 18 Juni, di upload tgl 28 Juni, sekarang tgl 6 Juni sudah super bagus ?

Sudah ada “sense of urgency” ? Darimana ngukurnya ?

Kebijakan apakah yang “tidak biasa-biasa” itu ?ada dasarnya, manusia tidak akan mengeluarkan Ekspresi Tidak Nyaman.

Bahkan, ekspresi “menenangkan” pun bisa menjadi salah satu bukti bahwa adanya isu. Untuk apa “menenangkan”, bila orang2 sudah “tenang” ?

Gesture analysis adalah seni yg menilai berbagai ragam penggunaan gesture dalam Percakapan. Dilihat dari makna, momen kemunculan, frekuensi kemunculan, hingga intensitas saat muncul. Tentunya dengan tetap membandingkannya dengan BASELINES asli orang tersebut.

Video ini berisi oretan Analisis. Namun, berita nya bisa dicek di https://news.detik.com/berita/d-5082237/pakar-gestur-pratikno-hanya-meredam-isu-reshuffle-masih-relevan .

Jadi, bila sebuah gesture dikatakan sebagai kebiasaan, maka pasti memiliki Pola. Tidak muncul di momen Ucapan tertentu saja, intensitas nya sama, tidak memiliki pesan tersembunyi, dan tidak berbeda makna.

Ketika munculnya hanya saat momen Ucapan tertentu, intensitasnya tidak sama, dan maknanya berbeda, maka jelas itu petunjuk adanya emosi Dan pikiran yg berbeda dari Ucapannya.

Jadi, kesimpulannya ?

Reshuffle masi jadi isu. Serius. Dan bisa terjadi ! Tenang saja tidak cukup ! Kerjasama dan Kerjasmart !

Kapan deadline nya ?Prediksi Saya : Desember. Supaya Januari jadi fresh. Baru !


September yg paling cepat. Tapi rasanya ndak sih, karena bisa mengacaukan semua rencana urgent soal pandemi.

Demikian

#handokogani #liedetector #liedetectorindonesia #liedetectorspecialist

Jadilah SHERLOCK HOLMES

Anda pasti mengenal Tokoh / Cerita Sherlock Holmes. Namun, Anda mungkin menganggap bahwa tokoh dan cerita nya adalah tokoh dan cerita fiktif.

Anda tidak sepenuhnya benar.

Anda perlu tahu bahwa Sir Arthur Conan Doyle, sang Pencipta Sherlock Holmes justru merupakan salah satu tokoh sejarah dalam disiplin ilmu Forensik.

Guru beliau adalah Dr. Joseph E. Bell, tokoh sejarah yang menginspirasi penggabungan medis dalam pengusutan kasus kejahatan. Beliau menggabungkan pola pikir deduksi, observasi karakter dan perilaku manusia, dengan dunia medis, termasuk operasi otopsi tubuh manusia yang cukup baru diperkenalkan di abad tersebut.

Murid tentunya amat dipengaruhi oleh Gurunya.

Namun, Sir Arthur Conan Doyle justru menggunakan medium novel untuk memperkenalkan penggabungan tersebut hingga popular menembus zaman.

Bila Anda perhatikan kedua tokoh dalam cerita Holmes, Anda bisa melihat bahwa Sherlock merepresentasikan “pola deduktif, crime mapping analysis, interview, hingga observasi dan analisis karakter & perilaku manusia”. Namun, justru melalui kolaborasinya dengan Dr. John Watson – lah, Sir Arthur memperkenalkan apa yang kini dikenal sebagai Crime Scene Analysis hingga Behavioral Event Analysis.
Sebagaimana Anda banyak saksikan di film2, sebetulnya bukan karena Polisi saat itu betul-betul tidak sehebat Duet mereka berdua. Namun, lebih kepada “Belum Dikenalnya disiplin keilmuan Crime Scene Analysis / Behavioral Event Analysis” ataupun Crime Scene Reconstruction / Olah TKP (Doyle, 1887).

Anda mungkin mengenal dunia forensik melalui film-film hollywood, seperti CSI, Criminal Mind, dstnya. Sebetulnya, ada banyak sekali jenis analisis forensik, mulai dari analisis Event / Indicent, Drug / Chemistry, Biologi seperti DNA, insiden kebakaran, pola kejahatan seperti Pola Insiden Tawuran, Pola Penembakan massal, Pola Demonstrasi, Pola Jejak Kaki, dstnya, digital evidence (cyber crime), fingerprint, hingga analisis Forensik Pemeriksaan Dokumen.

Nah, yang Anda saksikan di cerita Sherlock Holmes sebetulnya adalah upaya Sir Arthur Conan Doyle untuk menggabungkan berbagai jenis analisis forensik tersebut dengan logika, intuisi, pola pikir deduktif, analisis observasi perilaku manusia, kemampuan mengumpulkan data/info, serta merekonstruksinya kembali seakan ia sendiri adalah Pelaku Kejahatan itu sendiri.

“Merekonstruksi kejadian seperti Pelaku Kejahatan” itulah yang sebetulnya menjadi daya tarik dari kisah Sherlock Holmes. Dan daya tarik inilah yang sebetulnya menjadi dasar dari Corporate Investigation sepanjang zaman.

Ini yang saya rasa kurang menarik perhatian kita sebagai Corporate Investigator, baik itu Auditor, Fraud Investigator, Loss Investigator, Cybercrime Investigator, Forensic Gadget & Computer Crime Investigator, hingga S.O.P Business Implementer.

Kasus terungkap hanya karena data/info lengkap. Namun, seringkali kita terlalu kekurangan waktu dan semangat untuk memahami keseluruhan kejadian atau biasa disebut Crime Reconstruction.

Yes, Crime Reconstruction. Kita perlu memahami bahwa Crime Scene Reconstruction hanyalah salah satu dari jenis Crime Reconstruction. Mungkin karena lebih sering digunakan dalam kasus kriminal ataupun kecelakaan, Anda merasa hal tersebut bukanlah bidang Anda sebagai Auditor, Fraud Investigator, hingga S.O.P Business Implementer.

Ada banyak sekali manfaat merekonstruksi kejahatan. Salah satu manfaat utamanya justru adalah untuk pencegahan kejahatan yang sama, sejenisnya, ataupun yang terkait dengan kejahatan tersebut.

Pencegahan kejahatan ini membawa kita kepada pemahaman Security Risk Management termasuk SRA (Security Risk Assessment).

Sebetulnya, semua kejahatan pasti bermuara pada kebocoran keamanan (security) pada suatu business process ataupun pada suatu wilayah geografis tertentu.

Biasanya kita akan menggunakan analisis Triangle, yaitu sisi

1) sisi “Victim dan bagaimana penguasaannya terhadap dirinya sendiri selaku korban ataupun pada barang yang hilang-rusak” pada periode temporal, spatial, dan experiential interaction saat kejadian

2) sisi “Management spatial dan bagaimana penguasaannya terhadap area spatial dan interaksi di dalam area tersebut pada temporal periode kejadian”

3) sisi “Pelaku dan bagaimana penguasaannya pada Korban, Area spatial, Temporal Kejadian, dan Interaksi Kejadian”

Contohnya ketika terjadi viral video seks yang diduga dilakukan oknum karyawan swasta dan SPG-nya.

Setelah diselidiki, ternyata video tersebut berasal dari laptop karyawan yang hilang. Karyawan merupakan anggota team SPG. Diketahui Oknum ini turut serta di dalam praktek perekrutan SPG dengan cara illegal yaitu imbalan “tidur semalam”.

Maka, bila kita selidiki lebih dalam :

1) Sisi Korban. Ternyata, laptop-nya ditinggalkan di tempat duduk mobil bagian depan. Korban berperilaku demikian karena terburu-buru melakukan absensi pagi (terlambat ngantor), sehingga pintu mobil tidak tertutup rapat

2) Sisi Management Parkir. Ternyata, TKP adalah di spot parkir yang dekat dengan akses informal berupa celah masuk di antara pagar perusahaan. Spot tersebut biasanya ramai lalin karyawan dari samping. Jadi, seharusnya kejadian pencurian bisa ketahuan dengan cepat. Di waktu tersebut, rupanya pintu tersebut ditutup sementara seadanya. Penutupan tersebut biasa dilakukan apabila ada pemilik perusahaan datang. Petugas Security, di sisi lain, terfokus pada upaya pengamanan VVIP dan event kedatangan pemilik perusahaan.

3) Sisi Pelaku. Ternyata, Pelaku diketahui adalah seorang Penjual Cilok yang baru-baru ini saja berjualan di dekat spot tersebut. Saat itu, karena pintu ditutup, tidak banyak orang yang lalu lalang, penjual cilok ini “nganggur”. Dan ia melihat Korban dan pintu mobilnya yang tidak tertutup rapat.

Dan bila diteliti lebih dalam, ternyata kebocoran pengamanan juga memiliki andil dalam praktek perekrutan ilegal SPG seperti ini. Beberapa Security diduga mengetahui praktek ini karena ada beberapa SPG merupakan referensi mereka. SPG ini juga diminta uang komisi oleh oknum Security ini, atas sepengetahuan komplotan Pelaku Rekrutmen ini.

Kesimpulan analisis seperti demikian baru diketahui ketika Investigator berupaya merekonstruksi tiap kejadian. Interview serta pencarian data/info yang dilakukan pun semuanya bermuara pada upaya rekonstruksi kejadian kejahatan ini, baik pencurian laptop tempat asal video clip seks tersebut, hingga proses upload viral video seks ini.

Di sisi lain, Anda juga bisa bekerja sama dengan Security untuk mengembangkan Geospatial Crime Mapping khusus bagi Perusahaan Anda, termasuk bekerjasama dengan kepolisian.

Crime Mapping dengan Geospatial Technology ini hal yang masih langka di Indonesia, namun sudah lumrah di luar negeri. Anda bahkan bepergian ke suatu distrik bermodalkan crime index.

Contoh Crime Mapping :

Crime Mapping_Bangalore

crime-pic.jpg

Contoh lain : Jakarta di peringkat 92 dan Bali di peringkat 119
Crime Index Mid 2019

Dengan Crime Mapping ini, Anda bisa memetakan dan memitigasi berbagai jenis kejahatan di dalam radius terdekat dengan lokasi kantor pusat/cabang perusahaan.

Dan ke-depannya, sebetulnya dengan teknologi CCTV surveillance yang digabungkan dengan Database Face, Body dan Voice Recognition dan Analysis (microexpression, gestur analysis, gait analysis, dan voice analysis) serta Artificial Intelligence – Machine Learning, Anda bisa meng-cluster dan bahkan memprediksi kejahatan di masa depan.

China adalah negara yang jadi patokan Mass Surveillance dunia saat ini. Bukan karena jumlahnya yang fantasistis tetapi karena pengelolaannya sudah mencakup berbagai bidang kehidupan masyarakat, lepas dari kontroversi privacy-nya.

 

Banyak sekali yang bisa kita bahas ketika membicarakan rekonstruksi kejahatan.

Satu hal penting dari pembahasan ini adalah : di dalam konteks perusahaan, kita harus bisa menerapkan holistic approach terhadap suatu kejadian kejahatan, baik itu selaku Auditor, Fraud Investigator, Loss Investigator, hingga Security. Jangan bermata-kuda hanya peduli pada bidang sendiri-sendiri. Harus lintas-investigasi.

Contoh saja dari kasus di atas.

HRD / Auditor & Fraud Investigator harusnya sudah bisa mencurigai ketika mengaudit business process pengadaan SPG perusahaan. Terlebih lagi, seharusnya IT Investigator bisa mengetahui adanya konten cabul di dalam laptop kantor.

Itulah pelajaran penting dari Sir Arthur Conan Doyle dan Sherlock Holmes-John Watson nya. Mereka menginvestigasi lintas berbagai disiplin ilmu.

Saya melihat inilah saatnya Perusahaan membentuk “Corporate Sherlock Holmes” alias Corporate Investigator yaitu sebuah divisi yang mengumpulkan seluruh jenis investigator di dalam perusahaan, antara lain Security, Fraud Investigator, Loss Investigator, Cybercrime Investigator, Background Check – Investigator, hingga Surveillance dan Business Investigator.

Dengan dibentuknya Corporate Investigator ini, para Investigator bisa melakukan koordinasi investigasi lintas disiplin departemen dan Pemilik Perusahaan juga bisa memfokuskan upaya penguatan wewenang dan kompetensi individu ataupun pengadaan alat-alat investigasi profesional seperti Layered Voice Analysis (LVA). Group Konglomerasi Perusahaan, khususnya yang memiliki berbagai anak perusahaan, adalah jenis perusahaan yang amat perlu memiliki departemen khusus ini.

Nah, khusus bagi Anda, Sahabat Investigator, apapun bidang Anda, jangan menutup diri dengan disiplin investigasi dari bidang Anda sendiri.

Jadilah Sherlock Holmes pertama di perusahaan Anda.

 

Salam hangat,

Handoko Gani

Body Language Salesman

Belajar Body Language itu sangat penting bagi para pemasar/penjual, baik itu yang berjualan langsung kepada End User (B2C) ataupun yang kepada Perwakilan Perusahaan (B2B).
Mungkin Anda sudah sering mendengar bahwa Pelanggan yang betul mau membeli bisa diobservasi dari Body Language atau Gestur nya. Itu sebabnya, Anda diminta belajar.
Namun, sejatinya, Body Language Anda selaku pemasar/penjual juga menentukan keberhasilan penjualan Anda.
Saya tidak berbicara mengenai penampilan fisik. Tentunya, Sales barang bernilai sekian milyar tidak akan sama dengan Sales barang bernilai 50 ribu. Sales barang anak-anak tidak sama dengan Sales produk kecantikan. Dan itu adalah hal yang normal. 
Saya tidak hanya berbicara perihal jabat tangan, yang merupakan salah satu gerbang awal bagi Pembeli. Saya akan membahas banyak hal.
Saya juga akan meluruskan paradigm keliru tentang eye-contact, dimana Penjual yang tidak eye-contact justru dianggap “aib” bagi perusahaan. Ini satu hal yang keliru. Penjual yang eye contact tetap tidak selalu berhasil menjual kok.
Saya justru merasa perlu memberikan saran mengenai poros tubuh Anda saat mendengarkan Customer / Klien berkeluh kesah. Ada berbagai poros tubuh yang relevan daripada hanya berhadap-hadapan.
Ada banyak hal yang perlu saya sampaikan dalam seminar 1 hari ini. 
Tentunya, tak lupa saya juga akan membahas berbagai tipe Body Language Pelanggan yang menunjukkan atensi mereka pada produk, puas pada produk, betul berniat membeli produk, ataupun yang sebetulnya adalah seorang kompetitor yang menyamar mencari tahu.
Dan Customer / Klien itu ndak bisa bohong. Teknik ini bisa membantu Anda membedakan jujur dan bohong nya emosi mereka. Ini memang salah satu seri pelajaran Human Lie Detector.
Kompilasi Teknik Body Language ini akan membantu Anda para rekan Salesman.
Ikutilah pelatihannya :
di : Jars Coffee Cafe, Kebayoran Lama
Tgl: 11 Mei
Waktu: Pukul 10 pagi – 5 sore
Dengan investasi:
– Rp 1 juta per 3 orang
– Rp 350 ribu per orang
( tanpa early bird)
Ketentuan: Pelatihan ini dimulai bila telah kuorum 10 orang.
Registrasi via WhatsApp ke : 087 88 09 75 990 ( Dewi / Handoko Gani )

Semoga RIDWAN KAMIL tidak korupsi

Tadi pagi di @LieDetectorINDO
Saya membahas video rekaman door step Ridwan Kamil setelah diinterview oleh kejaksaan tinggi Jawa Barat –> http://t.co/KhQL4fJvdU

Di video ini: http://t.co/KhQL4fJvdU,

ketika mengatakan “Adaaa yang melaporkan” Terlihat adanya gerakan kepala bergerak dari atas ke bawah + perubahan ritme + pelambatan suara + volume naik + pitch berubah (saat mengucapkan “Adaaa yang melaporkan”). Saat itu, kita juga melihat: posisi kepala di bawah, pelupuk mata membuka, sedikit tajam, gerakan kepala mundur ke belakang dan gerakan kecil bibir kiri yg perlu klarifikasi lebih detail apakah senyum/duping delight/contempt/emang bentuk wajah (00:00:32/F808)

(00:00:35)
“apa” –> terdapat jedah dan gerakan kepala ke belakang…

“yang dikerjakan” –> terdapat 2x kedipan mata dan 1x gerakan kepala ke belakang.

“di 2012 kemarin” –> posisi kepala ke belakang berbicara dengan wartawan di belakang.

“ini saya ada visual ya”,
“iniiii” –> perubahan postur tubuh/body movement + jedah kata sebelum berbicara kata selanjutnya.

Saat mengucapkan kami organisasi orang “baik-baik” (start 00:00:44/F-1121), terlihat adanya gerakan kepala dari atas ke bawah + perubahan ritme + pelambatan suara + volume naik + pitch berubah.

Saya memandu Anda utk berpikir membandingkan ekspresi “apa yang terjadi di 2012” versus cara Ridwan Kamil menggunakan contoh visual, menyebutkan kalimat “sudah diaudit BPK”, dan menggunakan kata “orang baik2”

Gerakan “apa di 2012” menunjukkan ini suatu kejadian yang sudah lama (3 tahun lalu), mungkin sudah ada yg gak diingat lagi, dsbnya.

Sementara: visual laporan + “orang baik2” + “sudah diperiksa BPK” adalah kalimat “pembuktian” atau “pembelaan diri” untuk menjelaskan kepada Masyarakat (bukan Polisi) tentang kegiatan di tahun 2012 tsb.

Adakah sesuatu/kejadian/hal berbeda antara “Apaa yang terjadi tahun 2012″(yang mungkin sudah dilupakan) dengan laporan visual tertulis yg sudah diaudit BPK tsb ?

Apakah yang dilaporkan adalah “Apaa yang terjadi tahun 2012” bukan yang di laporan visual yg sudah diaudit BPK? Masa sih begitu?

Bikin penasaran kan?
Saya juga penasaran. Saya cuma bisa sebatas analisa ini. Tidak bisa menyatakan jujur atau bohong-nya Ridwan Kamil. Tanpa alat bukti dan tanpa interview investigasi/interograsi.

——————
Analisa ekspresi gesture + suara + verbal (linguistic) hanyalah hipotesa-hipotesa saja.Agar bisa menyimpulkan Ridwan Kamil bohong atau jujur, hipotesa2 tadi harus ditindaklanjuti dengan Investigative Interview yang sayang sekali tidak bisa saya lakukan karena saya bukan Polisi. Saya bisa teknik investigative interview-nya tapi tidak punya wewenang melakukannya.

—-

Akhir kata,

Apakah Ridwan Kamil korupsi? Belum tahu.

tapi semoga beliau tidak korupsi.

Ridwan Kamil adalah seorang pejabat Negara (walikota) yang luar biasa.

Banyak karya beliau yang membuat saya selalu tertarik ke Bandung.

Saya ingin beliau tetap berkarya. Bahkan bila memang jalanNya, saya juga welcome beliau di DKI1.

Ada yg menduga kasus ini hanyalah alat untuk menaikkan pamor Ridwan Kamil di tingkat nasional atau DKI khususnya. Dugaan yang tanpa bukti orang pertama. Bahaya!

Apapun itu,
Saya berharap agar kasus ini bisa segera selesai dan membuktikan isu penyelewangan itu benar/tidak bena
Terimakasi telah membacanya.

Handoko

http://www.handokogani.com

@LieDetectorINDO

IG/FB: Handoko Gani

#FBI2015

#FestivalBOHONGIndonesia

Makna Ekspresi Wajah bisa menyesatkan

Sy sedang menyimak tayangan ini: http://bit.ly/1BIr8av . Sebuah tayangan yang menarik tentang sosialita.

Di awal http://bit.ly/1BIr8av , ada kalimat Host berbunyi demikian: “Ada yang beruntung menjadi pemenang, dan Ada pula yang belum beruntung”

Sy trtarik pd 2 ekspresi wajah Host di http://bit.ly/1BIr8av , dan Sy akan mbahas nya 1 per satu.

1) Makna ekspresi wajah di akhir “Ada yg beruntung menjadi pemenang” (terlampir) di http://bit.ly/1BIr8av

CAJ7c8oVAAA8QDB.jpg-large

Kmungkinan ekspresi wajah & body language di kata “menjadi pemenang”di http://bit.ly/1BIr8av brmaksud memperagakan kebanggaan jd pemenang.

…dan gestur Host cukup berhasil myampaikan maksudnya (pemenang –> bangga) -> Bila pria akan makin bagus,bila gestur tubuh dada lebih dibusungkan

… Akan tetapi, ekspresi wajah tsb kurang tepat mggambarkan kebanggaan.

Kenapa? Karena bangga bukan emosi dan kalaupun emosi Happy yg ingin disampaikan, ekspresi wajah Happy bukan begitu.

2. Makna ekspresi wajah di kata “ada pula yang belum beruntung”

CAJ95iDUMAADRLc.jpg-large

Di dalam ekspresi wajah ini,mungkin dimaksudkan mggambarkan sakitnya ketidakberuntungan itu.

…namun,emosi “sakit hati” atau ekspresi ketidakberuntungan/kesialan bukanlah ekspresi ataupun salah satu dr 7 emosi universal Paul Ekman.

… Dan emosi Sedih pun juga bukan demikian.

Jadi, penonton bisa menangkap ekspresi itu sebagai emosi yang berbeda atau penonton bisa tidak memahami sama sekali makna dari ekspresi tersebut. Apalagi, fakta bahwa penonton MetroTV berasal dari berbagai kalangan, berbagai profesi, latar belakang pendidikan, dsbnya

…Untungnya, scara kseluruhan,Host cukup berhasil menyampaikan maksudnya…dan in fact, acara http://bit.ly/1BIr8av sangat menarik.Amat menarik.

 

Berhati-hatilah dalam membuat ekspresi wajah.

Bisa menyesatkan

MATA yang menyesatkan

Saya tertarik menulis artikel ini setelah membaca artikel: 

 

Betapa ngeri-nya bila berpatokan kepada ada/tidak ada-nya atau kuat/lemahnya Eye Contact sebagai tanda ketulusan seseorang,perhatian,positivisme nya,kepercayaan dirinya,apalagi kompetensi yang seseorang miliki.

 

Bisa gak jadi pacaran, bisa putus, bisa cerai, rusak sebuah hubungan, hingga kehilangan materi finansial.

 

Saya dan Anda perlu mempelajari ilmu ekspresi secara benar dan berlatih mengaplikasikannya dengan tepat.

 

Memang benar kita tidak bisa memahami apa yang sebetulnya ada di hati/pikiran. Bukan hanya dari mata…bahkan mungkin dari seluruh anggota tubuh. Kita tidak tahu pandangan mata yang jatuh cinta dan tidak jatuh cinta seperti apa. Namun, pandangan mata orang yang jatuh cinta dan yang nafsu belaka telah berhasil di-deteksi: http://bit.ly/1CsaM84.

 

Bila sseorang melihat wajah Anda (pria/wanita) kemungkinan besar = jatuh cinta. Bila sseorang melihat wajah dan tubuh Anda (pria/wanita) kemungkinan besar = nafsu seksual.

 

Namun, saya kembali menekankan pentingnya melakukan cross check selanjutnya pada ke-4 kanal lainnya selain Face (Wajah), dimana mata adalah bagian dari wajah tersebut. Itupun harus Anda tambah dengan BERTANYA dan menunggu BUKTI, misalnya pengakuan resmi pria/wanita tsb tentang cinta nya pada Anda.

Karena penelitian: http://goo.gl/L7GaFx membuktikan bahwa hanya 5% tingkat akurasi bagi Saya dan Anda yg mempergunakan metode tradisional dalam mendeteksi ke #BOHONG an.

“Screeners trained with the interview technique caught about 70 percent of the deceptive passengers, while those trained with the traditional method of looking for cues detected only about 5 percent”.

 

Apakah metode tradisional yg dimaksud?

– Mempelajari secara otodidak –> “kata orang”

– Mempelajari analisa ekspresi secara partial, misalnya hanya Body Language saja, atau Face atau Micro Expression saja, atau Linguistic saja (Voice, Verbal Style, dan Verbal Content), dsbnya. Entah dari buku, dari pelatihan/training, dari film sperti Lie to Me – CSI – Mentalist, Sherlock Holmes, Artikel cetak atau digital, Twit orang, dsbnya

 

DAN:

 

– Melakukan analisa ekspresi dari salah satu 5 channels (Wajah,Body Language,Voice,Verbal Style, dan Verbal Content), entah berdasarkan ingatan otodidak, buku, film, pelatihan/training, artikel cetak/online, Twit orang, dsbnya.

 

AKIBATnya adalah: salah mendeteksi emosi seseorang atau salah mendeteksi apakah seseorang #BENAR atau #BOHONG.

 

EFEKnya adalah:

1. Tidak lolos interview pekerjaan; Tidak “lolos” saat seleksi calon kekasih; dsbnya

2. Pertengkaran -> karena salah deteksi emosi, misalnya lagi marah disangka lagi senang; atau karena salah deteksi ke #BOHONG an, entah believing the Lie atau disbelieving the Truth

3. Salah menangkap pelaku kejahatan atau ke #BOHONG an ; dan membiarkan pelaku sebenarnya lolos.

 

Riset http://goo.gl/L7GaFx inilah yang mendorong saya untuk:

1. Aktif mengedukasi via Twitter @ForensicEmotion dan Blog ini http://www.handokogani.com

2. Aktif mengadakan sharing atau workshop

agar Anda bisa mendeteksi ke #BOHONG an dengan tingkat akurasi lebih dari 5%.

 

Terima kasih