Andalan

Lagi ramai membahas soal Alasan Jokowi / Team Komunikasi Presiden sering mengupload foto Beliau mengikat tali sepatu.

https://news.detik.com/berita/d-5886356/beragam-momen-pakai-sepatu-yang-diunggah-jokowi-saat-blusukan-ke-daerah

Banyak yang mengatakan kenapa sih njelimet banget ? Semua harus dianalisis ?

“Sahabat, kalau Anda yang mengikat sepatu, apakah ada yang moto ?”

“Ya jelaslah ! Dia kan presiden.”

“Exactly ! Artinya, ada tujuannya mengapa aksi mengikat sepatu beliau di-upload ke sosmed. Sama seperti Anda memposting foto Anda liburan, foto masakan Anda, foto Anda membereskan rumah, dstnya. Bukankah Anda mempostingnya karena ada tujuannya ?”

Opsi pertama : seadainya tali sepatu itu memang lepas ( dan di-upload )

Yang saya prediksi dari maksud PR / team komunikasi ini adalah ingin membentuk image :
1) Presiden adalah seorang yang sigap dalam segala kondisi mendadak –> tali sepatu terlepas mendadak, segera dibetulkan, tanpa berlarut-larut hingga bahkan menjatuhkan diri sendiri atau ditegur orang lain karena tali sepatu itu tidak juga dibereskan. Tentunya kesigapan ini juga ekspektasi Pak Presiden terhadap bawahannya termasuk Mentri dan Kepala Daerah.

2) Presiden adalah seorang yang menyukai kerapihan termasuk di dalam konteks ekspektasinya terhadap kerjaan anak buahnya termasuk Mentri hingga Kepala Daerah.

3) Presiden kita seorang pribadi merakyat seperti kita juga. Ketika tali sepatu kita lepas, ya kita betulkan. Presiden kita tidak perlu dilayani seperti layaknya orang dengan kedudukan tertinggi di sebuah negeri.

4) Ketika diposting sebelum kegiatan perjalanan atau kejadian pertemuan penting tertentu, artinya Pak Presiden ini siap menghadapi kemungkinan tantangan atau hal2 tidak diduga dalam perjalananan / pertemuan tersebut.

OPSI KEDUA : Kalo seandainya tali sepatu itu sebetulnya tidak terlepas , hanya saja kurang kencang atau kurang rapih. Istilahnya : (tali sepatunya) di-pererat.

Di satu sisi ini mungkin terkait dengan karakter Pak Presiden yang bisa jadi OCD yang selalu kepingin semua perfectly arranged ( tertata rapih, indah, kencang dstnya ), dan atau Pak Presiden melakukannya untuk meredakan ketegangan sebelum acara meeting / perjalanan penting tersebut.

dan di sisi lain ketika di-upload PR / Komunikasi Presiden, maka selain 3 poin di atas yang mungkin menjadi salah satu rencananya, prediksi saya juga ingin membentuk image : Presiden kita seorang yang suka hasil kerjanya sempurna.

Yang menarik juga adalah ketika dijawab oleh PakGub Jateng.

rtinya :
1) untuk pekerjaan normal n rutin , maka : Pak Gubernur Jateng, Pak Ganjar, sudah siap dengan tuntutan ekspektasi kesempurnaan, kelancaran, ketataan rapih, dari Pak Presiden.

namun, yang menarik ketika seandainya tali sepatu itu tidak terlepas dan prediksi tujuan presiden yaitu meredakan ketegangan,

saya menduga Pak Presiden punya tujuan tambahan selain pekerjaan rutin / normal, yaitu meredakan ketegangan.

Dugaan terliar saya adalah Presiden juga punya agenda meredakan ketegangan antara Ganjar dengan PDIP dan Puan.

dan Ganjar telah siap juga membicarakannya

Ini dugaan terliar yaaaaaa….

Dan di dimensi lainnya, karena kunjungan ini akan berakhir, maka patut kita tunggu juga hasil kunjungannya tersebut :

apakah layak tali sepatu itu “dikencangkan” ?

atau

jangan-jangan

bahkan mengikat tali sepatunya (Presiden) pun tidak layak sebagai bawahannya.

🙂

Handoko Gani MBA,BAII,LVA,CHt,CI.

Instruktur Ahli Lie Detector , Instruktur Hipnotis, Authorized Operator Layered Voice Analysis (LVA)

KAPAN KITA BOLEH MENGATAKAN JANJI SESEORANG ITU BOHONG

Ketika kita ingin memastikan apakah seseorang berbohong tentang sebuah janji, kita perlu melakukan 3 hal yaitu :

1) kita perlu menyamakan dulu pemahaman kita dan dia apakah ia memang berjanji hal tersebut. Ada kalanya, kita merasa ia berjanji tetapi ternyata ia tidak berjanji.

2) kita perlu memahami apakah definisi janji itu dan apakah definisi janji yang jujur dan janji yang bohong, serta bagaimana menilai sebuah janji jujur atau bohong

3) kita perlu mengetahui apakah kompetensi Pelaku Janji yang terkait pewujudan janji tersebut dan apa saja yang sudah dilakukan Pelaku Janji untuk mewujudkan janji tersebut selama durasi yang kita sepakati tersebut.

Nah, bagaimana memahami poin no 2, bisa Anda saksikan di Youtube ini :

https://bit.ly/BenarkahJanjiJokowiBohong

Semoga dengan contoh Tokoh Politik ini, teman2 bisa memahami poin no 2 tersebut. Tidak ada maksud untuk mendeskreditkan ataupun memuja-muja sang Tokoh Politik, tetapi semata-mata menggunakan contoh ini karena sering dibahas di sosmed manapun.

Semoga Anda bisa memahaminya.

Body Language Salesman

Belajar Body Language itu sangat penting bagi para pemasar/penjual, baik itu yang berjualan langsung kepada End User (B2C) ataupun yang kepada Perwakilan Perusahaan (B2B).
Mungkin Anda sudah sering mendengar bahwa Pelanggan yang betul mau membeli bisa diobservasi dari Body Language atau Gestur nya. Itu sebabnya, Anda diminta belajar.
Namun, sejatinya, Body Language Anda selaku pemasar/penjual juga menentukan keberhasilan penjualan Anda.
Saya tidak berbicara mengenai penampilan fisik. Tentunya, Sales barang bernilai sekian milyar tidak akan sama dengan Sales barang bernilai 50 ribu. Sales barang anak-anak tidak sama dengan Sales produk kecantikan. Dan itu adalah hal yang normal. 
Saya tidak hanya berbicara perihal jabat tangan, yang merupakan salah satu gerbang awal bagi Pembeli. Saya akan membahas banyak hal.
Saya juga akan meluruskan paradigm keliru tentang eye-contact, dimana Penjual yang tidak eye-contact justru dianggap “aib” bagi perusahaan. Ini satu hal yang keliru. Penjual yang eye contact tetap tidak selalu berhasil menjual kok.
Saya justru merasa perlu memberikan saran mengenai poros tubuh Anda saat mendengarkan Customer / Klien berkeluh kesah. Ada berbagai poros tubuh yang relevan daripada hanya berhadap-hadapan.
Ada banyak hal yang perlu saya sampaikan dalam seminar 1 hari ini. 
Tentunya, tak lupa saya juga akan membahas berbagai tipe Body Language Pelanggan yang menunjukkan atensi mereka pada produk, puas pada produk, betul berniat membeli produk, ataupun yang sebetulnya adalah seorang kompetitor yang menyamar mencari tahu.
Dan Customer / Klien itu ndak bisa bohong. Teknik ini bisa membantu Anda membedakan jujur dan bohong nya emosi mereka. Ini memang salah satu seri pelajaran Human Lie Detector.
Kompilasi Teknik Body Language ini akan membantu Anda para rekan Salesman.
Ikutilah pelatihannya :
di : Jars Coffee Cafe, Kebayoran Lama
Tgl: 11 Mei
Waktu: Pukul 10 pagi – 5 sore
Dengan investasi:
– Rp 1 juta per 3 orang
– Rp 350 ribu per orang
( tanpa early bird)
Ketentuan: Pelatihan ini dimulai bila telah kuorum 10 orang.
Registrasi via WhatsApp ke : 087 88 09 75 990 ( Dewi / Handoko Gani )

Menulis sebagai Gaya Interview

Sebagai Investigator dan Rekruter, mari kita berkata jujur.

Siapa yang pernah kehabisan pertanyaan dalam sebuah interview ?

Jujur saja. Saya juga pernah.

Dan itu fatal.

Kehabisan pertanyaan yang terlihat jelas oleh Auditee atau Pelamar Kerja amat berbahaya. Apabila Auditee atau Pelamar Kerja tersebut memang Fraudster atau berniat menipu, maka: kesalahan Investigator atau Rekruter tersebut bisa dimanfaatkan.

 

Oke. Anda tidak pernah kehabisan pertanyaan. Anda seorang Investigator yang hebat.
Tapi, pernahkah Anda canggung dalam sebuah interview ? Entah karena Pelamar Kerja nya adalah Top Executive ataupun Auditee nya adalah orang “penting” di masyarakat. Entah karena Anda salting karena ditegur oleh mereka yang “berani”.

 

Kedua hal tersebut tidak pernah terjadi pada Anda. Sekali lagi, wow…. luar biasa. Saya serius. Memang ada investigator yang seperti demikian. Saya harus mengakui Bpk Ibu.

 

Bagaimana bila tiba-tiba Anda menyadari bahwa Anda sudah terbawa “permainan” Fraudster dan berada jauh dari target interview … ? Barangkali pernah …

 

Apa yang harus Anda lakukan ?

 

Izinkan saya memberi Anda saran jitu.

Lakukan aktifitas terkait menulis.

Baik itu membuka buku catatan Anda atau Anda menulis sesuatu, apapun itu.

 

Saat Anda melakukannya, atur nafas dan berdiamlah sejenak setelah menyatakan keinginan untuk melihat catatan terdahulu atau menulis apa yang sudah disampaikan.

 

Setelah Anda sudah tenang, selanjutnya, silangkan tangan Anda di dada dan mulailah mengajukan pertanyaan kembali.

 

Dengan melakukan gestur sederhana seperti demikian, niscaya Anda akan kembali mendapatkan kontrol atas interview Anda.

 

Selamat mencoba tips sederhana ini !

 

Ingat 3 hal:

  1. Tgl 17 Januari 2019 Pukul 18:00 – 20:00 saya akan membahas perilaku verbal nonverbal Capres Cawapres 01 & 02. Saksikan di Indosiar ya.
  2. Ada Workshop Publik Tgl 15-16 Februari 2019 dengan harga spesial s/d 17 Januari nanti (hanya Rp 1.750.000) dan s/d 31 Januari (Rp 2.000.000). Segera mendaftar.
  3. Untuk inhouse training, walaupun team hanya 5 orang, saya siap bersumbangsih. Contact saya saja di me@handokogani.com

BOLEHKAN PRESIDEN BERBOHONG ?

BOLEHKAH PRESIDEN BERBOHONG ?

 

Topik ini saya angkat karena saya terinspirasi artikel yang dikirimkan guru besar saya ketika membahas tentang 2 kandidat presiden Amerika Serikat: Hillary Clinton dan Donald Trump, yang saling dituduh/tertuduh sebagai capres yang suka berbohong.

 

Saya ingin bertanya kepada Anda. Presiden mana-kah yang Anda pilih ? Seorang Presiden yang tidak bisa berbohong atau seorang Presiden yang tidak akan berbohong ? (Selanjutnya, saya sebut Presiden = Pemimpin)

 

Saya ingin Anda merenungi penjabaran saya berikut ini.

 

Adakah orang yang lebih suka berbohong dari saya atau Anda ? Pasti. Tapi…darimana kita tahu ? Manusia sudah berbohong sejak usianya 2 tahun. Anda, Saya, sang Pemimpin terpilih ataupun Capres yang kalah sama-sama sudah berkali-kali melanggar janji juga selama kita hidup di dunia. Dan, di sisi lain, hingga hari ini, tidak ada 1 riset pun atau 1 alat apapun yang bisa menghitung jumlah kebohongan kita. Dalam kaitannya dengan politik, bisakah kita menyatakan Pemimpin X adalah seorang Pembohong ? Tidak bisa. Karena alasan yang sama seperti di atas. Lagipula, Anda dan Saya hanya tahu kontrak/janji politik yang dibuka kepada publik. Kita tidak tahu kontrak/janji politik di balik layar. Darimana Anda tahu Capres X atau Pemimpin X adalah orang yang lebih banyak berbohong daripada Capres Y atau mantan Pemimpin X ?

 

Bukankah perkataan tidak sama, tidak konsisten = Pembohong ? Contoh saja soal banjir. Mengklaim kepada publik bahwa tidak ada terjadi banjir, namun akhirnya terjadi banjir setelah hujan seharian = Pembohong ? Saya ingin tegaskan bahwa Anda perlu tahu lebih dalam tentang definisi bohong. Pernyataan tersebut masih bisa dikategorikan sebagai pernyataan yang kepede-an atau mungkin “sesumbar”, tetapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebohongan. Mengapa demikian ? Karena ketika menyatakan hal tersebut, sang Pemimpin sudah mendapatkan laporan ini itu yang mana memang berdasarkan standar keilmuan apapun, tidak akan terjadi banjir. Eh….namun, siapa sangka, terjadi hujan dengan curah hujan di atas rata-rata, yang tidak diprediksi oleh BMG dan lembaga terkait lainnya, atau ternyata di luar dugaan terjadi kebocoran di bendungan, atau hal-hal di luar perkiraan keilmiahan dalam laporan tersebut. Ini bukan bohong lho !!! Bohong itu contohnya adalah sudah tahu bahwa berdasarkan laporan ini itu, bisa terjadi banjir besar. Namun, demi melindungi reputasi diri, sang Gubernur menyatakan kepada media dan masyarakat bahwa tidak akan terjadi banjir bahkan genangan sekalipun.

 

Bukankah tidak menepati janji = Pembohong ? Bukankah bila sudah berkali-kali melanggar janji = Pembohong ? Wah, Anda salah lagi ! Dalam konteks politik, BOHONG adalah ketika seorang Kandidat Pemimpin mengumbar janji* politik kepada publik yang sebetulnya dia sendiri tahu bahwa dia tidak bisa laksanakan, dia sendiri enggan melaksanakan, atau yang dia tahu betul bahwa itu hanya janji kosong demi menarik masyarakat memilih dirinya. Bila sang Pemimpin ternyata belum/tidak berhasil mewujudkan janji politik yang ia buat dulu dengan alasan adanya penghalang-penghalang yang tidak terkalkulasi sebelumnya, atau ternyata ada prioritas mendadak, dsbnya yang membuat dirinya tidak memenuhi janji politik tersebut, aka secara definisi, sang Pemimpin terpilih ini tidak dikategorikan berbohong.

 

Adakah Kandidat Pemimpin atau Pemimpin terpilih yang tidak bisa berbohong ? Tidak ada. Hanya Sang Pencipta yang tidak bisa berbohong. Kalo ada yang klaim dirinya tidak bisa berbohong, dia sendiri sudah berbohong dengan pernyataannya ini.

 

Adakah Kandidat Pemimpin yang tidak akan berbohong bila terpilih ? Hm…tidak ada ! Hanya Sang Pencipta yang tidak pernah berbohong, tidak bisa berbohong, dan tentunya tidak akan berbohong di masa depan.

 

Lantas, bila tidak ada orang yang tidak bisa berbohong dan juga tidak ada orang yang tidak akan berbohong lagi di masa depan, Pemimpin seperti apakah yang harus kita pilih ?

 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, satu pertanyaan penting yang ingin saya tanyakan: Bolehkah Pemimpin “berbohong” dalam konteks politik untuk kepentingan negara, bangsa, dan rakyat Indonesia ?

 

Anda bingung ? Izinkan saya menjawabnya.

BOLEH ! Presiden Indonesia “boleh” berbohong, apabila taruhannya adalah negara, bangsa, dan rakyat Indonesia. Malah, ketika dalam kondisi genting, Presiden “diberikan wewenang” untuk menggunakan 2 tipe bohong berikut ini Concealment Lie dan Falsification Lie. Concealment Lie adalah kebohongan yang dilakukan dengan cara menyembunyikan info/data/fakta tertentu dan menonjolkan info/data/fakta lainnya untuk menguntungkan diri sendiri/kelompok. Falsification Lie adalah kebohongan yang dilakukan dengan cara memalsukan info/data/fakta tertentu.

 

Bagaimana dengan kebohongan dari Presiden Clinton terkait Monica Lewinski ? Beberapa kali sang Presiden menyangkal adanya interaksi sosial dengan Monica Lewinski, apalagi yang terkait dengan interaksi seksual. Jenis kebohongan ini memang termasuk dalam Concealment Lie, akan tetapi tujuannya bukanlah untuk kepentingan negara, bangsa dan rakyat Amerika. Tujuannya adalah untuk membela diri sendiri dari ancaman impeachment.

 

Hal yang sama juga berlaku bagi kebohongan yang dilakukan oleh Presiden Nixon terkait skandal Watergate. Kebohongan jenis ini tidak “diperbolehkan”. Sang Presiden melakukan kebohongan demi memuluskan kekuasaannya, mulai dari skandal uang dalam kampanye nyapres-nya hingga penyalahgunaan kekuasaan penegak hukum untuk menyingkirkan orang/kelompok penentangnya, termasuk juga mencegah terjadi investigasi terkait Watergate.

 

Contoh kebohongan pemimpin/presiden yang “diperbolehkan” antara lain ketika Jendral Eisenhower membohongi Nazi tentang lokasi pendaratan pasukannya, dimana kebohongan ini berbuah manis dengan kalahnya Nazi. Bayangkan bila Jendral Eisenhower berkata jujur pada Nazi, apakah bisa menang dari Nazi saat itu ? Apakah perang dunia bisa diakhiri ?

 

Tentu masih banyak kebohongan yang “diperbolehkan” lainnya, dimana bila pemimpin berkata jujur, justru akan membahayakan negara-nya, bangsa-nya dan rakyatnya. Mulai dari zaman penjajahan dulu, banyak pemimpin kita yang “membohongi” penjajah demi melindungi kepentingan rakyat Indonesia. Dan, tentu berlaku hingga hari ini.

 

Saya berharap Anda memahami makna kebohongan sekali lagi, dan kali ini sekaligus juga memahami bahwa seorang Presiden atau Pemimpin “diperbolehkan” berbohong ketika negara, bangsa, dan rakyat ini dalam pertaruhan. Justru, sang Presiden atau Pemimpin ini harus “dilatih” agar ia bisa menyampaikan kebohongan “legal” tersebut secara sedemikian rupa sehingga menyerupai BASELINES verbal dan nonverbal-nya dan lolos dari pengamatan pemimpin negara lain. Hal ini sangat penting karena hakikatnya kebanyakan pemimpin di dunia sangat tahu betul bahwa ada sekelompok orang dengan keahlian Human Lie Detector yang bisa mendeteksi kebohongan seseorang melalui 5 kanal tubuh: wajah, gestur, suara, kata-kata, dan gaya bicara.

 

Sekali lagi, saya juga sekalian meluruskan ya. Yang disebut Human Lie Detector haruslah menguasai teknik analisa verbal (suara, kata-kata dan gaya bicara), bukan hanya teknik analisa nonverbal (wajah dan gestur), karena pada hakikatnya gaya komunikasi manusia adalah secara nonverbal dan nonverbal. Tidak benar bila ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai Pendeteksi Kebohongan tetapi hanya menguasai ilmu ekspresi wajah dan atau gestur saja. Apalagi, itu pun salah analisa.

 

Saya termasuk di dalam kelompok ini, dimana sejak Februari tahun lalu, saya berturut-turut telah mengulas analisa verbal dan nonverbal terhadap presiden kita, antara lain dalam interview dengan Kompas TV, pertemuan presiden dengan Pak Prabowo, semua press conference terkait kasus KPK-Polri atau BG-BW, liputan media ketika presiden mengadakan open house dengan kelompok rakyat tertentu termasuk para komedian, interview media terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kasus rekaman “papa minta saham” termasuk Presiden sendiri dalam press conference – nya, hingga terakhir saya menganalisa pak presiden dalam pidato kenegaraan: http://nasional.kompas.com/read/2016/08/25/14580781/pesan.dari.intonasi.suara.presiden. Sama seperti saya memberikan support kepada Polda, KPK ataupun BPK, saya juga bisa melatih kepekaan dan keahlian pak presiden agar bisa mendeteksi perubahan BASELINES verbal dan nonverbal presiden negara lain ketika bertemu bersama-sama dalam pertemuan negosiasi antar negara.

 

Akhir kata, bolehkah seorang presiden (ataupun pemimpin lainnya) berbohong ? “Boleh” bila negara, bangsa dan rakyatnya dirugikan bila jujur. “Tidak Boleh” bila kebohongan itu hanya dilakukan demi diri sendiri, partai-nya atau pendukung-nya.

Apakah hal ini mudah dilakukan ?
Tidak mudah.
namun, bisa dilakukan.

Silakan Anda membaca definisi BOHONG dari tautan saya ini: https://handokogani.com/2016/09/07/apakah-pemimpin-yang-banyak-melanggar-janji-adalah-pembohong/

 

Akhir kata, semoga Anda tercerahkan.
Artikel ini adalah versi lengkap dari artikel di http://nasional.kompas.com/read/2016/08/29/20580081/bolehkah.presiden.berbohong.

 

Hormat saya,

Handoko Gani

Website: www.handokogani.com

Twitter: @LieDetectorID

Email: me@handokogani.com ; handoko_g@yahoo.com

  • Team Ahli Kepolisian untuk kasus kriminal tertentu, antara lain: kasus kopi beracun
  • Narasumber Komisi Pemberantasan Korupsi dan Badan Pemeriksa Keuangan, mulai dari team HRD, Public Relation, Team Monitoring (Intel), Penyelidik, Penyidik, Penindakan hingga Jaksa Penuntut Umum, termasuk yang berlatar belakang polisi, jaksa, dan hakim.
  • Narasumber berbagai perusahaan swasta
  • Narasumber media, termasuk narasumber khusus Harian Kompas untuk analisa komunikasi verbal dan nonverbal dari Presiden Jokowi, dan Penulis Kolom di Kompas.com
  • Penulis buku “Mendeteksi Kebohongan” yang bisa dibeli di Gramedia* terdekat
  • (P.S.: Buku habis di banyak Gramedia. Mohon japri ke me@handokogani.com atau handoko_g@yahoo.com untuk informasi lebih detail)

    P.S.: Untuk seminar/training, baik online ataupun tatap muka, harap japri ke me@handokogani.com atau handoko_g@yahoo.com untuk informasi lebih detail)

 

Analisa Surat “Teroris”

Surat Teroris Balli.jpg

 

Ada beberapa hal yang membuat saya bertanya Tanya setelah selesai menganalisa tulisan verbal ini. Wish ada tulisan tangannya, maka akan bisa saya analisa lebih dalam, bersama partner saya @DeborahDewi http://www.deborahdewi.com

1. Mengapa perjuangan yang diyakin-yakini suci itu malah diberikan label sendiri sebagai “Teror” ? Apakah ini istilah baku kelompok mereka ?

2. Mengapa ada surat peringatan dini versus Mengapa kalimat nya “Kami tidak main-main. Kami siap ledakkan diri?

Jangan2 kalimat ini belum selesai.
Anggaplah mirip surat teror penculikan yang minta ransum ? Seharusnya ada kalimat permintaan: ” kecuali kalian …”

Berdasarkan teori Scientific Content Analysis, analisa pernyataan verbal untuk kalimat tertulis, ada yang tidak balance dari cerita/surat ini. Biasanya, prolog cerita 2 baris, isi cerita 5 baris, dan sesudah cerita sekitar 3 baris. Di dalam surat ini, yang paling banyak adalah prolog sebanyak 3 baris (kesampingkan “Allahu Akbar Allahu Akbar”), isi utama pesan sebanyak 3 baris, dan sesudahnya sekitar 2 baris.

3. Kalimat “bom dan serangan” ini maksudnya ada bom di pusat perbelanjaan/kantor/wisata + serangan ke polisi ?

4. Kemungkinan bukan anggota bom Sarinah yang melarikan diri kemarin tapi kemungkinan ini simpatisan yang terpicu Bom Thamrin untuk melakukan aksi juga. Simpatisan ini sudah “lama” di Bali.

5. Kemungkinan memang ada di Bali. Namun mungkin tidak ada di Denpasar dan Singaraja. Tapi di daerah2 yang sejauh “jarak motor selama 1/2 jam – an”.

6. Kemungkinan serangan pada Wisatawan dan atau Polisi menggunakan motor perlu dicross check juga. Kata “BOM” diucapkan 3x dan ada kata yang terkait yakni “ledakkan” diri / kota, tapi kata “serangan” hanya satu kali. Bila tidak ada justifikasinya, kemungkinan kata “BOM” saja yang difokuskan.

7. “Kami” adalah kalimat yang menyatakan kepemilikan, tanggung jawab dan komitmen. Di dalam kalimat ini sebetulnya, ada pesan juga bahwa Kelompok Teroris ataupun simpatisan nya masih ada. Polisi belum menang walaupun berhasil menembak pelaku. Mereka mendukung bila kelompok ini akan melakukan aksinya. “Kami Siap” adalah itikad hati untuk melakukan satu tindakan. Bisa jadi langkah konkrit nya belum ada, tapi kami siap.

 

Ada kemungkinan ini surat pernyataan diri sesuai prolog.  Dan sisanya adalah ancaman tindakan. Kemungkinan message utama dari pesan ini adalah “kami ada juga di Bali”. Kami EXIST.

 

tapi saya masi perlu jawaban poin no.1: mengapa perjuangan suci ini justru dinamakan “terror” oleh mereka sendiri ?

 

Salam hangat,

Handoko Gani, S.E, MBA, BAII

Lie Detector Indonesia

@LieDetectorID

60% Pelamar Kerja BOHONG saat INTERVIEW KERJA

Tahukah Anda bahwa:

60% Pelamar Kerja mengakui bahwa ia berbohong selama interview kerja ? (di luar negeri; www.yolkrecruitment.com)

most lies

  • 67% berbohong tentang Paket Salary-nya di perusahaan saat ini, agar mendapatkan paket salary lebih besar ? Apalagi di zaman “susah” begini. Ada lowongan kerja bagus, langsung sikatttt…yang penting bisa pindah.
  • 61% berbohong tentang Kualifikasi nya saat interview kerja di hadapan HRD Recruiter/User – Kepala Divisi/Owner ?
  • 58% berbohong tentang Pengalaman Kerja-nya? Ngaku2 pernah kerja di divisi tertentu,job desc & project tertentu demi supaya bisa pindah dari perusahaan sekarang yang sedang jeblok performance-nya.
  • 54% berbohong tentang Alasan-nya mau pindah kerja? Jarang sekali Pelamar Kerj yang berkata jujur bahwa ia “sumpek” bekerja dengan atasannya. Jarang sekali Pelamar Kerja yang mengakui bahwa ia pindah kerja karena performance-nya tidak bagus di perusahaan sekarang.

Apa penyebabnya kebohongan2 ini tidak terdeteksi saat interview dengan Recruiter atau User-nya (supervisor/manager/direktur/owner) ?

Apakah 60% Pelamar Kerja sangat ahli bohong dan tidak terdeteksi recruiter atau user-nya (supervisor/manager/direktur/owner) yang jam terbang-nya tinggi? Rasanya kok gak mungkin ya? Sebanyak2nya seorang Pelamar Kerja interview sana sini, Recruiter/Supervisor/Manager/Direktur/Owner bisa interview ratusan/ribuan orang. Dan, Recruiter justru menguasai semua teori tentang interview dan juga ahli dalam interview.

Mengapa?

  1. Kebanyakan Recruiter percaya bahwa Kandidat tidak akan berbohong. Mereka “percaya” bahwa semakin tinggi jabatan seseorang semakin kredibel, atau mereka “percaya” bahwa posisi tertentu pastilah kredibel. Padahal, usia/pendidikan/pengalaman/jabatan tidak ada hubungannya dengan kredibelitas. Masih ingat: ada calon2 capim KPK yang nyontek saat Test Capim KPK?
  2. Kebanyakan Recruiter “terlalu” fokus pada tujuan recruitment yakni mencari kandidat yang tepat bagi perusahaan tanpa mengecek kredibelitas
  3. Kebanyakan Recruiter tidak mempelajari cara deteksi bohong secara khusus,saat di jenjang kuliah,saat training internal ataupun eksternal. Mereka bukan pendeteksi kebohongan ataupun ahli deteksi bohong. Mereka juga tidak mempelajari Investigative Interview untuk mengungkap kebohongan.
  4. Kebanyakan teknik Interview Kerja memang tidak diRANCANG spesifik untuk deteksi BOHONG seperti teknik Investigative Interview ala forensic.

Bagaimana caranya mendeteksi kebohongan pelamar kerja dalam sebuah interview?

Tidak ada jalan lain, Interviewer/Rekruter  harus mempelajari cara deteksi bohong dan memodifikasi pertanyaan2 dan cara interview agar bisa optimal menggali informasi sebanyak2nya, sedetil2nya dan sejujur2nya.

Handoko Gani,SE,MBA,BAII

Human Lie Detector Indonesia

@LieDetectorID

http://www.handokogani.com

#FBI2015 @FestivalBOHONG Indonesia

Tidak ada jalan lain, Interviewer/Rekruter  harus mempelajari cara deteksi bohong dan memodifikasi pertanyaan2 dan cara interview agar bisa optimal menggali informasi sebanyak2nya, sedetil2nya dan sejujur2nya.

MENGAPA BELAJAR ILMU DETEKSI BOHONG ? (LIE DETECTION SKILLS)

Untuk bisa memahami mengapa Anda perlu mempelajari ilmu deteksi BOHONG,

Anda harus memahami dulu definisi BOHONG secara neuropsikologi dan fisiologi.

BOHONG adalah ketidakselarasan antara:

  • Apa yang dipikirkan (Feedback Otak: Cognitive Load), dengan
  • Apa yang dirasakan (Feedback Otak: Emotion Load) yang diekspresikan ke dalam 6 kanal Emotion Load, yakni:
    1. Wajah/Kepala
    2. Tubuh (Pergerakan dari bawah kepala ke kaki)
    3. Suara (Ritme, Kecepatan, Volum, dan Pitch)
    4. Verbal Content (Kata/Kalimat yang diucapkan)
    5. Verbal Style (Cara komunikasi verbal), dan
    6. Simpatetik + Parasimpatetik (Reaksi pernafasan, tekanan darah, detak jantung, reaksi perubahan kulit, dan reaksi pencernaan)

Bayangkanlah bahwa ke-6 kanal tersebut di atas adalah seperti kanal penyaluran/pembuangan Emotion Load. Apa yang dirasakan (Emotion Load) pasti akan tersalurkan hingga terlihat/terdengar/tercium/dirasakan oleh orang lain (lawan bicara/audience). Sadar atau tak sadar. Tidak bisa dibendung. Tetap tersalurkan. Kita tidak bisa menghentikan salah satu atau lebih kanal tersebut.

Contoh ketika Emotion Load nya adalah KEMARAHAN level 3 dari 5.

maka ke-6 kanal tersebut akan bereaksi sebagai berikut:

  • Kanal #1: Di Wajah, terlihat kedua alis mata turun, mata mendelik melotot dan bibir bagian atas terangkat ke atas
  • Kanal #2: Tubuh condong ke depan menantang si Pemicu Marah, Telapak Tangan mengepal
  • Kanal #3: Volum suara membesar, pitch tinggi, kecepatan bicara meningkat, ritme meninggi
  • Kanal #4: Kata-kata yang dipergunakan: Elo/Gue” + kata2 kasar, jorok, dan makian
  • Kanal #5: Cara komunikasi: agresif + jumlah kata yang dipergunakan lebih sedikit + gaya bicara kasual informal
  • Kanal #6: detak jantung naik, tekanan darah naik, respirasi meningkat (nafas memburu), kulit merah padam, dan bila saat itu lagi sakit perut atau menahan kencing, maka: sakit perut mulas hilang dan kencing tertahan

Yang disebut ketidakselarasan atau kebohongan adalah ketika Anda berusaha menyembunyikan salah satu kanal atau lebih, misalnya jadi begini:

  • Kanal #1: (?) bibir membentuk huruf u alias tersenyum
  • Kanal #2: (?) tubuh normal
  • Kanal #3: Volum suara, pitch, kecepatan bicara, ritme (?)
  • Kanal #4: Kata-kata yang dipergunakan normal
  • Kanal #5: Cara komunikasi normal
  • Kanal #6: (tidak bisa dianalisa kecuali dengan mesin)

Mengapa tidak selaras?

Karena pada dasarnya, kanal 1 dan 2 tetap menunjukkan tanda-tanda orang marah. Namun, tidak terlihat saja oleh Lawan Bicara/Audience. Bisa karena memang sangat kecil tanda-tanda2nya, ataupun muncul setelah momen berakhir, atau memang sengaja tidak diperlihatkan kepada Lawan Bicara/Audience. Misalnya dengan cara menunduk, menghindar ataupun meninggalkan tempat.

  • Kanal #1: (?) bibir membentuk huruf u alias tersenyum + kedua alis mata turun, mata mendelik melotot dan bibir bagian atas terangkat ke atas
  • Kanal #2: (?) tubuh normal + menunduk pada sesaat setelah bibir tersenyum, posisi tubuh membelakangi
  • Kanal #3: Volum suara, pitch, kecepatan bicara, ritme (DIAM)
  • Kanal #4: Kata-kata yang dipergunakan normal + (DIAM)
  • Kanal #5: Cara komunikasi normal (DIAM)
  • Kanal #6: (tidak bisa dianalisa kecuali dengan mesin)

Dalam bahasa sehari-hari, gambarannya seperti ini: seseorang yang tersenyum dan berbicara sopan, tetapi sesaat setelah ia bicara, dalam posisi membelakangi lawan bicara, ia menunjukkan tanda-tanda ekspresi marahnya.

Seadainya, Anda melihatnya, atau ada orang lain melihatnya, ini kan tidak selaras. Dan, apabila kemudian Anda atau orang lain tersebut bertanya “kamu marah, kenapa” dan ia malah mengingkarinya “Gak. Siapa yang marah?”, maka ia makin berbohong.

Nah, ada kalanya ketika Anda bertanya, orang ini mengingkarinya, di saat begini lah Anda membutuhkan teknik bertanya seperti Criteria Based Content Analysis (CBCA), REID, PEACE model, Conversation Management, SE3R, FlatPack, dsbnya.

Jadi, mengapa Anda perlu mempelajari Lie Detection Skills ?

Karena Anda perlu bantuan untuk melihat tanda2 tersembunyi pada kanal2 tersebut di atas.

Dan Anda memerlukan sebuah ilmu yang sudah terbukti konsisten dan akurat serta ilmiah dalam mendeteksi kebohongan. Dengan sebuah ilmu ilmiah begini, Anda bahkan bisa membuktikan adanya kebohongan tersebut secara hukum.

Mengapa Anda perlu mempelajari teknik interview kebohongan?

Karena teknik bertanya atau interograsi atau interview yang ada tidak memenuhi syarat untuk bisa dipergunakan dalam mendeteksi BOHONG, baik BOHONG sehari-hari ataupun BOHONG dengan dampak hukum perdata atau pidana.

Semoga Anda makin jelas.

Salam,

Handoko Gani

Pendeteksi Kebohongan

@LieDetectorINDO

http://www.handokogani.com

#FBI2015

@FestivalBOHONG

CARA PILIH ASISTEN RUMAH TANGGA

Dari ke-3 kandidat #ART (Baby Sitter) di foto tersebut, siapa yang akan Anda pilih? Mengapa Anda memilihnya?

Saya akan sharingkan 5 urutan cara menentukan #ART,namun teknik investigative interview-nya diulas di #FBI2015 @FestivalBOHONG.

Cara 1: Tetapkan kriteria #ART tepat bagi anak Anda, namun cocok dengan Anda

Cara 2: Analisa karakter #ART Anda dengan ilmu Grafologi

Cara 3: Pilih tulisan tangan yang punya karakter tepat bagi anak Anda dan cocok bagi Anda

Cara 4: Panggil interview. Ini HARUS ya ! #ART buat jaga anak itu harus diseleksi dengan benar.Anak kenapa2,nyeselnya seumur hidup

Cara 5: Pelajari dan terapkan teknik Interview tertentu. Misalnya: adaptasi Forensic Investigative Interview sperti yg akan sy sharingkan.

Untuk analisa karakter #ART via Grafologi, saya persilahkan para sahabat untuk ngintip twit @deborahdewi yang lagi membahas hal yang sama. Kita focus teknik Investigative Interview,khususnya topik yang akan ditanyakan dulu.Kalo tekniknya,harus diperagakan agar paham. Penegak hukum di dunia biasa menggunakan CBCA, REID, dan Conversation Management untuk interograsi / interview kasus kejahatan. Lain waktu, saya akan jelaskan kegunaan REID dan Conversational Management. Kali ini saya akan gunakan CBCA (lagi).

Berbagai kasus #ART seperti salah asuh yang menyebabkan kecelakaan kecil hingga fatal pada anak disebabkan karena kesalahan rekrut #ART. Yang dimaksud kesalahan rekrut #ART adalah ketidakcocokan antara kriteria #ART yang majikan inginkan dan profil ASLI #ART. Sedihnya, Profil ASLI #ART seringkali baru ketahuan setelah terjadinya suatu kasus besar (lebam besar,sakit parah,anak hilang,cacat,meninggal).

Mengapa profil #BOHONG bisa lolos? Karena tidak kredibel-nya CV sang #ART. Karena tidak adanya proses seleksi/interview yang tepat.

Tips #1: Tanyakan secara BERURUTAN pengalaman kerja setiap kandidat dengan keterangan lengkap tentang majikan dan job desc. sebelumnya. Anggaplah ini seperti HRD melakukan validitas setiap detail pengalaman kerja di CV.Catat di selembar kertas di depan calon Anda. Anda bisa curiga bila ada urut2an yang diceritakan calon #PRT secara berubah2 atau ia tidak ingat urut2an 5 pekerjaan terakhir. Dan Anda berhak lho “curiga” kalo sang calon menjawab ia baru kerja 1-2x dan yg terakhir telah bekerja selama lebih dari 3 tahun. Alasan paling aman agar tidak ketahuan #BOHONG = pengalaman bekerja.Semakin lama bekerja,majikan sedikit curiga & malah mudah nerima. Alasan paling aman agar tidak ketahuan #BOHONG = pengalaman bekerja.Semakin lama bekerja,majikan sedikit curiga & malah mudah nerima sang #ART.

Utk itulah Anda harus lakukan Tips #2: Tanyakan detail Job Desc. dan Skedul hariannya dalam 1-3 pekerjaan terakhir. Ingat: LAMA BEKERJA tidak menjamin #ART kompeten bekerja dengan sikon khas keluarga Anda,belum tentu cocok dan tepat bagi Anak dan Anda. Menanyakan Tips ke#2 membantu Anda memahami apakah calon #ART ini kompeten sesuai sikon keluarga Anda, cocok dan tepat bagi Anak dan Anda.

Contoh:

Calon #ART Anda bekerja selama 2 tahun di 1 keluarga.Suami & Istri (Majikan) kerja pagi pulang malam.Anaknya bersama #ART seharian. Majikannya menyerahkan seluruhnya kepada sang #ART dan jarang dimarahi (menurut sang #ART). #ART resign karena gajinya terlalu kecil.

Lebih lanjut, ia menjelaskan skedul kerja-nya bahwa hanya menemani sang Balita nonton TV/bermain,makan yang selalu dibeli di luar,mandi dsbnya.

Bila Anda tidak terkagum-kagum karena majikannya bisa begitu percaya-nya sama sang #ART, Anda harus mencoba mengklarifikasinya dengan pertanyaan terkait dampak resign-nya sang ART pada sang majikan dan keluarganya. Perhatikan ekspresinya baik-baik. Jangan kagum ketika ia berkata “ah juga kok bu.Saya dengar mereka sudah dapat ganti saya.”. Anda justru harus bingung. Kenapa keluarga-nya bisa dengan mudah mengganti #ART ini?

Bila Anda tipikal majikan yang sangat memperhatikan detil-detil tumbuh kembang anak,jenis dan gizi makanannya,mainan dan kegiatannya, dan proses tumbuh kembang emosi dan karakternya. sekalipun #ART tsb di atas punya pengalaman 1-2 thn (namun seperti no 27-28),Anda harus menimbang2 apakah akan terima #ART ini atau tidak. Mengapa? Karena majikan sebelumnya tidak memperhatikan proses tumbuh kembangnya. Nonton acara TV apapun ? Makan pun beli di luar rumah dan tidak memperhatikan kandungan gizi dan kebersihannya.

Tips #3: Perhatikan setiap detail waktu (bulan/tahun) Calon #ART Anda resign. Adakah pola tertentu ?

Anda kan sering dengar pembantu yang keluar dalam bulan ke-4 sehingga majikan terpaksa mengambil lagi dari agen pembantu dan mengeluarkan uang lagi ?

Anda juga sering mendengar pembantu yang keluar setiap kali lebaran ?

Atau sang calon #ART beberapa kali mengatakan ia pernah mengambil Infal Lebaran ?

Pola resign ini sebetulnya mengindikasikan sang #ART akan mengulangi hal yang sama bila bekerja dengan Anda.

Pertanyakan alasan resign tersebut (Questioning/Probing) dengan se-detil atau se-kepo mungkin.

Perhatikan baik-baik ekspresi –nya saat menjawab probing.Di sanalah akan muncul ketidakselarasan bila ia berbohong.Adakah yang “aneh”?

Contoh: bila alasan #ART resign adalah karena majikan sebelumnya cerewet.Tidak cerewet = kriteria majikan ideal bagi sang #ART. Kesalahan kebanyakan majikan baru adalah memaklumi alasan #ART. Entahlah kenapa begitu alasannya? Apakah karena merasa senang di keluarga lain, sang majikan (istri) cerewet?Hahaha…

Contoh: bila alasan #ART resign adalah kangen anak-nya,berarti kriteria majikannya adalah fleksibel; bisa mengizinkan pulang sewaktu2 atau malah ia berharap kerjaan ini sementara/sampingan saja. Dan, dia bisa sewaktu2 pulang juga (resign) karena kangen anak-nya.

Contoh: bila alasan #ART resign adalah load kerja di tempat sebelumnya,berarti kriteria majikannya adalah majikan dengan pekerjaan yang “santai” menurut kriteria-nya.

Contoh: bila alasan #ART resign adalah karena anak2 majikannya sudah besar-besar setelah diasuh sekian tahun.Anda harus curiga mengapa majikannya akhirnya melepas ia keluar.

Bila sudah bertahun2 bekerja pada suatu tempat,kemungkinan besar ada ikatan batin yang kuat antara majikan,anak2 majikan dan #ART. Melepas #ART tanpa sebuah alasan yang betul2 kuat tentu perlu betul2 dipahami. Sebagai contoh, kerabat saya pernah mengeluarkan #ART yang sudah bekerja selama 3 tahun karena baru ketahuan ia mencuri selama 1 tahun terakhir. Atau, majikan pindah ke luar negeri sekeluarga.

Tanyakan apakah ia pernah ditegur atau dimarahi oleh majikannya secara keras (betul-betul marah). Anda bisa langsung menerima #ART yang berani menceritakan dan mengakui bahwa sang Majikan memang pantas marah.Sebaliknya, jangan langsung senang pada #ART yang berkata “tidak pernah dimarahi”.Ada 2 kemungkinannya: bohong, atau majikannya cuek pada anak (100% mengandalkan #ART).

Kalo punya suami,tanyakan soal hidup pernikahannya yang terpisah dari suami. Apalagi, kalau pengantin baru.Saat ia mau resign, bisa jadi alas an inilah yang akan ia pergunakan.

Semua jawaban #ART ini bisa mengerucutkan pilihan Anda pada sosok #ART yang terbaik,paling tepat dan cocok bagi Anak dan Anda,walau tetap ada kekurangannya.

Di #FBI2015 @FestivalBOHONG saya akan pertunjukkan salah satu cara interview seleksi #ART / cara investigasi kelalaian #ART mengasuh anak.

Terimakasih telah menyimak.

Handoko Gani

Human Lie Detector Indonesia

Pendeteksi Kebohongan

@LieDetectorINDO

@FestivalBOHONG

#FBI2015

CIRI-CIRI ORANG SELINGKUH

Dari 12 foto ini, saya ajak Anda untuk menebak siapakah yang pernah selingkuh? Dan bisakah Anda mengemukakan alasannya dengan tepat?

Selingkuh

Sebelum membahasnya, saya ingin menekankan beberapa hal.

Kita tidak bisa menilai KARAKTER,PERILAKU MASA LALU,atau meramal PERILAKU MASA DEPAN seseorang dari sebuah foto. Kita juga tidak bisa menilai KREDIBELITAS, apakah pernah,sedang,atau akan SELINGKUH dari sebuah foto.

Bila kita melakukannya, itulah yang disebut sebagai JUDGMENT.

Kembali ke foto2 tadi, studi membuktikan bahwa banyak tebakan yang salah ketika kita diminta menilai karakter/perilaku masa lalu orang dari foto:

Tebakan yang benar pun tidak bisa menghasilkan sebuah kesimpulan tentang standarisasi ciri-ciri wajah orang yang pernah selingkuh (Peselingkuh).

Mari kita buktikan. Orang yang pernah selingkuh adalah 1,2, 5, 8, 11 dan 12.

Adakah persamaan dari sisi bentuk kepala? Tidak ada.

Adakah persamaan dari bentuk wajah ? Tidak ada.

Adakah persamaan dari sisi bentuk mata ? Tidak ada.

Adakah persamaan dari sisi bentuk bibir? Dari senyum-nya ? Tidak juga.

Bentuk rambut ? Susunan gigi ?Sama sekali tidak ada.

Lantas, dari mana kita tahu siapa yang selingkuh ?

Bisakah dari foto saja ? TIDAK BISA !!!

Petunjuknya terletak pada postingan saya satu per satu tentang cerita personal tiap tokoh di foto tersebut.

Untuk mendapatkan cerita personal seperti itu, caranya adalah: dengan ….

Yup !!!

Interview.

Misalnya, menggunakan teknik Investigative Interview, misalnya teknik Criteria Based Content Analysis, REID, atau Conversational management, atauuuuu… langsung cheat1mendapatkan pengakuan dari “Pelaku”.

Tertarik membaca kisah mereka masing-masing?

Mari membacanya: http://dailym.ai/1R9kOyr

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Dari interview. Tepatnya lagi, dari pengakuan dalam sebuah interview, yang telah di-crosscheck kebenarannya.