Benarkah Sean menganiaya ayu thalia ?

Sangat menarik memperhatikan tentang kasus Thata Anma versus Nicholas Sean Tjahaya Purnama, anaknya Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Berikut ini detilnya :

Kasus apa yang dilaporkan : Penganiayaan

Kapan kejadian : Jumat 27 Agustus 2021, Pukul 19:17 WIB

Lokasi TKP : Kawasan Pluit, Penjaringan. Diduga di dalam mobil milik Terduga Pelaku. Mobil diduga di parkir di dalam/sekitar : showroom mobil Prestige motors (Dugaan saya – red)

Source : https://hot.detik.com/celeb/d-5703119/kronologi-anak-ahok-diduga-lakukan-penganiayaan

Siapa korban dalam kasus ini ? Thata Anma
Kerugian apa yang terjadi dalam kasus ini ? Luka

Siapa yang diduga melakukan penganiayaan ? Nicholas Sean Tjahaya Purnama

Apa yang dilakukan oleh Terduga Pelaku ? Mendorong korban dari dalam mobil hingga terjatuh dan bagian tubuhnya terluka.

Mengapa pendorongan tersebut terjadi (bila benar terjadi) ? Karena Pelaku sakit hati dan menyatakan tidak ingin bertemu lagi.

Mengapa Pelaku sakit hati ? ( Saya belum mendapat jawaban ?)

Mengapa Pelaku tidak ingin bertemu lagi ? (Saya belum mendapat jawaban ?)

Mengapa Pelaku sakit hati dan tidak ingin bertemu lagi, tetapi Pelaku justru mendorong Korban dari dalam mobil ? (Saya belum mendapat jawaban ?)

Apakah mobil dalam keadaan berjalan atau dalam keadaan diam saat Korban didorong ? (Saya belum mendapat jawaban ?)

Apa yang dilakukan Pelaku setelah mengetahui Korban terjatuh ? Apakah ia begitu saja meninggalkan Korban ? (Saya belum mendapat jawaban ?)

Source : : https://hot.detik.com/celeb/d-5703134/ini-bukti-luka-thata-anma-usai-laporkan-anak-ahok-dugaan-penganiayaan

Tanggapan saya :

  1. Terkait kasus ini, seharusnya terdapat saksi-saksi mata di sekitar lokasi. Yang paling pasti adalah Security personnel di showroom dan bukti CCTV, serta saksi masyarakat yang mungkin menyaksikan. Ini perlu diminta dan dianalisis.
  2. Terkait luka, luka yang ditunjukkan adalah luka di kaki (dengkul saja).
    Note : perlu lebih banyak foto bukti luka di bagian tubuh yang lain.

    Dengan kata lain, Korban harus memperagakan bagaimana ia didorong dari dalam mobil dan terjatuh dengan luka hanya di kaki (saja) dan atau luka di bagian tubuh lainnya.

    Termasuk, penjelasan apakah saat itu mobil sudah dalam keadaan berjalan atau dalam keadaan masih diam di tempat.

    Dan apa yang terjadi setelah Korban terjatuh tersebut ? Apakah tindakan Sean ?

Akhir kata, bagi saya, kasus ini belum “terang benderang“. Perlu verifikasi lebih dalam oleh Penegak Hukum. Kita jangan langsung menghakimi ya ! Bukan keahlian dan wewenang kita.

Salam hangat, Handoko Gani

KURSI RODA UDAR PRISTONO

(Source: http://bit.ly/1JrPKn4)

Udar Pristono, mantan Kadishub DKI Jakarta, dinyatakan bebas dari dakwaan terkait:

1. Korupsi pengadaan bus Trans Jakarta pada tahun anggaran 2012 dan 2013 yang menimbulkan kerugian Negara sebanyak Rp 8.57 miliar, korupsi kelebihan pembayaran honor tenaga ahli selama satu bulan sebanyak Rp58,7 juta., korupsi PNBP Rp200 juta yang justru dibagikan kepada sejumlah pegawai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

2. Gratifikasi sebanyak Rp6,501 miliar pada 2010 hingga 2014, yang disimpan dalam rekening Udar di Bank Mandiri cabang Cideng sebesar Rp4,64 miliar dan di BCA sebesar Rp1,87 miliar.

3. Tindak pidana pencucian uang dimana uang tersebut dibelanjakan untuk R. Yanthi Affandie sebanyak Rp 46 juta dan Syntha Putri Stayaratu Smith sebesar Rp350 juta. Selain itu, Udar sempat memerintahkan anak buahnya, Suwandi, untuk mentransfer uang lainnya kepada dua wanita tersebut. Setoran dana itu dikirim melalui ATM Suwandi yang jumlahnya Rp25 juta kepada Yanti dan Rp54,5 juta kepada Syntha.

Udar Pristono hanya terbukti menerima suap dari Direktur Utama PT Jati Galih Semesta, Yeddie Kuswandy sebesar Rp78.079.800. Suap tersebut berasal dari kelebihan penjualan mobil Toyota Kijang tipe LSX tahun 2002 dengan harga Rp100 juta padahal harga lelang dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta hanya Rp21.920.200.

——

Namun, SocMed geger bukan karena itu, melainkan gara-gara video ini: http://bit.ly/1JrPKn4.

Udar datang dengan menggunakan kursi roda disertai perawat. Kursi Roda tanpa infus.

U0

Namun,

saat berpindah dari kursi roda ke kursi yang disediakan, Udar bisa bangkit dengan sigap serta berpindah tempat duduk dengan baik. Sementara, perawat ataupun petugas pengadilan justru membantu memegang kursi dan mike Udar. Bukan tubuh Udar.

U01

Kemudian, saat selesai sidang, Udar bangkit dari kursi nya, berjalan sambil membetulkan bagian belakang batik nya, dan menyalami para hakim, serta miting dengan para pengacaranya.

U1 u2 u3 u4 u5 u6

Penonton video bertanya2: Kemana KURSI RODA Udar tadi? Apakah sudah tidak diperlukan lagi ?

Memperhatikan gerakan pindah kursi roda ke kursi persidangan + gerakan berdiri berjalan ke meja hakim usai pembacaan keputusan, bisa jadi Pak Udar nih sudah sehat kembali, setelah sebelumnya sempat dinyatakan sakit.

Pertanyaan bermunculan yang pada intinya menanyakan “mengapa harus menggunakan kursi roda?”

Tentu ada 2 hipotesa secara garis besar:

  1. Takut terjatuh karena masih belum fit benar. Dengan kata lain, memang (masih) sakit. Kursi roda adalah langkah preventif.
  2. Pura-pura berkursi roda. Kursi roda adalah kedok.

Hipotesa ini tidak bisa menyimpulkan apapun, karena kita tidak memiliki data. Data Laporan Dokter tentang kesehatan Udar.

Kalaupun Udar berpura-pura berkursi roda, pertanyaan besar muncul: Untuk Apa ?  Apakah keputusan hakim akan berpengaruh bila Udar berkursi roda dan tidak berkursi roda?

Namun yang lebih membangkitkan rasa penasaran adalah:

(1)

Harga di dokumen pengadaan 18 bus yang di TTD Udar = total Rp59,8 miliar. Harga 18 bus dari perusahaan vendor = Rp51,3 miliar). Ini kan sebetulnya “mudah” ya. Bila memang ada korupsi, pastilah berarti bahwa Divisi/Bank Pembayaran Pemkot DKI mentransfer dengan salah satu dari 2 cara ini:

(a) Split –> Rekening X (pribadi/korporasi/organisasi) sebesar Rp 8.57M + Rekening Vendor sebesar Rp 51.3M.

(b) Mediator –> ditampung ke Rekening X dulu (Rp 59.8M), baru dari Rekening X ditransfer ke Vendor (Rp 51.3M)

Cara investigasi cara (a) dan (b) adalah melihat dokumen pembayaran Divisi/Bank Pembayaran Pemkot DKI. Khusus untuk cara (b), bisa dengan mengecek dari rekening bank Vendor. Di rekening bank vendor pasti tertera siapa pengirim uang pembayaran tersebut.

Di dalam kasus ini, apabila ada pihak yang mencurigai bahwa Pengambil Keputusan (Gubernur/Wakil Gubernur) adalah pihak yang sebetulnya korupsi, saya akan jawab “mungkin, tapi kecil kemungkinannya”. Yang lebih besar kemungkinannya adalah “Udar kongkalikong dengan pemilik rekening X tersebut”. Namun, kemungkinan kecil pun perlu diperhitungkan. Siapa tau ada yang memanfaatkan kesalahan TTD Udar ?

Apakah “rekening X” ini sudah diungkap oleh pihak penyidik/jaksa penuntut?

Bila sudah, mengapa Udar malah dibebaskan? Bila Udar dibebaskan, apakah berarti Rekening X itu bukan milik Udar ? Milik siapakah Rekening X tersebut ? Lebih tepat lagi, kalo Udar dibebaskan, apakah sebetulnya ada kasus korupsi? Siapa dong yang korupsi?

(2)

Mengapa rekening Udar di Bank Mandiri cabang Cideng sebesar Rp4,64 miliar dan di BCA sebesar Rp1,87 miliar, dinyatakan BUKAN gratifikasi ? Apakah ada bukti kuat bahwa ini adalah hasil kerja keras Udar / Keluarga nya atau Hibah/Warisan ? Yang menarik adalah bila memang ini kerja keras, berapa gaji bulanan Udar sebagai Kadishub ? Bila uang tersebut sebetulnya hasil usaha keluarga, apakah perusahaan keluarga Udar sudah diperiksa oleh kantor pajak atau kantor akuntan ? Demi nama baik Udar, ada baiknya dilakukan klarifikasi/konfirmasi. Bila perlu, kalau merasa tercemar nama baiknya, harus dipulihkan secara hukum.

(3)

Berlaku sama seperti no.2.   Apakah ada bukti kuat bahwa ini adalah hasil kerja keras Udar / Keluarga nya atau Hibah/Warisan ? Yang menarik adalah bila memang ini kerja keras, berapa gaji bulanan Udar sebagai Kadishub ? Bila uang tersebut sebetulnya hasil usaha keluarga, apakah perusahaan keluarga Udar sudah diperiksa oleh kantor pajak atau kantor akuntan ? Demi nama baik Udar, ada baiknya dilakukan klarifikasi/konfirmasi. Bila perlu, kalau merasa tercemar nama baiknya, harus dipulihkan secara hukum.

Last but not least,

bila disebutkan sebagai Gratifikasi pada nomor 2 dan 3, siapakah pemberi gratifikasi tersebut ?

Apakah sudah diperiksa ?

Demikian pendapat saya sebagai Analis pendeteksi Kebohongan.

Tidak ada kesimpulan yang saya buat di dalam artikel ini.

Tidak ada judgment kepada Udar atau siapapun.

Selamat kepada Udar karena telah divonis bebas dari dugaan 3 gratifikasi tersebut di atas.

Semoga kasus Udar terbuka lebar.

Bila beliau tidak bersalah, nama baik beliau harus dipulihkan.

Salam,

Handoko

http://www.handokogani.com

@LieDetectorINDO

#FBI2015 #FestivalBOHONGIndonesia

Semoga RIDWAN KAMIL tidak korupsi

Tadi pagi di @LieDetectorINDO
Saya membahas video rekaman door step Ridwan Kamil setelah diinterview oleh kejaksaan tinggi Jawa Barat –> http://t.co/KhQL4fJvdU

Di video ini: http://t.co/KhQL4fJvdU,

ketika mengatakan “Adaaa yang melaporkan” Terlihat adanya gerakan kepala bergerak dari atas ke bawah + perubahan ritme + pelambatan suara + volume naik + pitch berubah (saat mengucapkan “Adaaa yang melaporkan”). Saat itu, kita juga melihat: posisi kepala di bawah, pelupuk mata membuka, sedikit tajam, gerakan kepala mundur ke belakang dan gerakan kecil bibir kiri yg perlu klarifikasi lebih detail apakah senyum/duping delight/contempt/emang bentuk wajah (00:00:32/F808)

(00:00:35)
“apa” –> terdapat jedah dan gerakan kepala ke belakang…

“yang dikerjakan” –> terdapat 2x kedipan mata dan 1x gerakan kepala ke belakang.

“di 2012 kemarin” –> posisi kepala ke belakang berbicara dengan wartawan di belakang.

“ini saya ada visual ya”,
“iniiii” –> perubahan postur tubuh/body movement + jedah kata sebelum berbicara kata selanjutnya.

Saat mengucapkan kami organisasi orang “baik-baik” (start 00:00:44/F-1121), terlihat adanya gerakan kepala dari atas ke bawah + perubahan ritme + pelambatan suara + volume naik + pitch berubah.

Saya memandu Anda utk berpikir membandingkan ekspresi “apa yang terjadi di 2012” versus cara Ridwan Kamil menggunakan contoh visual, menyebutkan kalimat “sudah diaudit BPK”, dan menggunakan kata “orang baik2”

Gerakan “apa di 2012” menunjukkan ini suatu kejadian yang sudah lama (3 tahun lalu), mungkin sudah ada yg gak diingat lagi, dsbnya.

Sementara: visual laporan + “orang baik2” + “sudah diperiksa BPK” adalah kalimat “pembuktian” atau “pembelaan diri” untuk menjelaskan kepada Masyarakat (bukan Polisi) tentang kegiatan di tahun 2012 tsb.

Adakah sesuatu/kejadian/hal berbeda antara “Apaa yang terjadi tahun 2012″(yang mungkin sudah dilupakan) dengan laporan visual tertulis yg sudah diaudit BPK tsb ?

Apakah yang dilaporkan adalah “Apaa yang terjadi tahun 2012” bukan yang di laporan visual yg sudah diaudit BPK? Masa sih begitu?

Bikin penasaran kan?
Saya juga penasaran. Saya cuma bisa sebatas analisa ini. Tidak bisa menyatakan jujur atau bohong-nya Ridwan Kamil. Tanpa alat bukti dan tanpa interview investigasi/interograsi.

——————
Analisa ekspresi gesture + suara + verbal (linguistic) hanyalah hipotesa-hipotesa saja.Agar bisa menyimpulkan Ridwan Kamil bohong atau jujur, hipotesa2 tadi harus ditindaklanjuti dengan Investigative Interview yang sayang sekali tidak bisa saya lakukan karena saya bukan Polisi. Saya bisa teknik investigative interview-nya tapi tidak punya wewenang melakukannya.

—-

Akhir kata,

Apakah Ridwan Kamil korupsi? Belum tahu.

tapi semoga beliau tidak korupsi.

Ridwan Kamil adalah seorang pejabat Negara (walikota) yang luar biasa.

Banyak karya beliau yang membuat saya selalu tertarik ke Bandung.

Saya ingin beliau tetap berkarya. Bahkan bila memang jalanNya, saya juga welcome beliau di DKI1.

Ada yg menduga kasus ini hanyalah alat untuk menaikkan pamor Ridwan Kamil di tingkat nasional atau DKI khususnya. Dugaan yang tanpa bukti orang pertama. Bahaya!

Apapun itu,
Saya berharap agar kasus ini bisa segera selesai dan membuktikan isu penyelewangan itu benar/tidak bena
Terimakasi telah membacanya.

Handoko

http://www.handokogani.com

@LieDetectorINDO

IG/FB: Handoko Gani

#FBI2015

#FestivalBOHONGIndonesia

“DUA” EKSPRESI JOKOWI (Kompas, 19 Sept 2015)

Sahabat, pernahkah kalian melihat video blusukan Jokowi atau pertemuan Jokowi dengan pelaku usaha transportasi di Istana Negara?

Bila sudah melihat 2 video tersebut, Anda mendapatkan ekspresi wajah apa pada Jokowi?

Ekspresi wajah dengan emosi yang jujur.

Anda menyebutnya ekspresi wajah “apa adanya”

Ekspresi wajah “diri sendiri”.

Ekspresi wajah asli.

Di dalam video tersebut, saya memperhatikan memang ekspresi wajah beliau mencerminkan emosi asli. Tidak ada Facial Micro Expression (Ekspresi Wajah mikro) yang mengisyaratkan adanya emosi yang berbeda. Senyum Beliau memang menunjukkan kegembiraan beliau.

Jokowi1 Jokowi 2

Ceritanya menjadi lain ketika beliau bertemu dengan para elit politik dan maaf, bahkan termasuk juga dengan wartawan. Kita masih bisa melihat adanya emosi yang tidak selaras dengan ekspresi gestur, suara, kata-kata ataupun gaya berkomunikasi beliau. Beliau diam padahal sedang marah. Beliau marah tapi masih terlihat tenang, padahal intensitas marah beliau sudah mencapai level tertinggi.

Mengapa bisa demikian? Mengapa bisa ada “dua” ekspresi?

Menurut saya, salah satu jawabannya ada pada foto Jokowi bersama Ahok.

Ekspresi wajah paling “lepas” atau paling “jujur” dari Bpk Presiden kita justru hanya ketika Jokowi bersama Ahok. Anda tidak menemukan ekspresi Jokowi yang selepas itu dalam jangka waktu yang lama secara konsisten dan kontinu, bila beliau bersama orang lain.

Karena, Jokowi merasa Ahok akan bersikap apa adanya, berkata apa adanya, tanpa bermaksud menjilat atau menutup-nutupi fakta. Dan bahwa Ahok adalah seorang gubernur yang berharap pada Jokowi, merasa membutuhkan Jokowi, menghargai dan mencintai Jokowi.

Analisa ini saya buat dengan landasan keilmuan. Bukan Jokower ataupun Teman Ahok.

Dan analisa ini sudah diulas oleh Harian Kompas, 19 September 2015.

Kompas

Salam,

Handoko

http://www.handokogani.com

@LieDetectorINDO

IG/FB: Handoko Gani

#FBI2015

#FestivalBOHONGIndonesia

Analisa AHOK di Kompas TV 17 Maret 2015

Banyak yang mganalisa video AHOK ini tanpa dasar ke-ilmu-an.

Entah: menitikberatkan pada Verbal Style & Content -> kata2 nya dan gaya bicara nya kasar.

Entah: menitikberatkan pada Emosi AHOK -> marah-marah dengan cara marah yang kasar

Saya tidak mengatakan cara AHOK marah itu benar. Tidak sama sekali. Saya hanya tidak ingin latah memberikan pendapat pribadi. Saya bukan ahli untuk mengevaluasi atau mengelola emosi. Saya bukan pakar komunikasi (publik). 

Saya hanya memberikan pendapat sesuai kapasitas dan kapabilitas saya saja, sebagai seseorang yang sedang mempelajari Forensic Emotion, Credibility and Deception dan telah mendapatkan sertifikasi Emotional dan Truthfulness Evaluation Skill.

Saya mengajak Anda menganalisa berdasarkan Criteria Based Content Analysis yang banyak dipergunakan oleh para penegak hukum hingga agen rahasia di banyak negara.

Ke-ILMU-an, bukan pendapat pribadi tanpa dasar.

dan hanya terkait EMOTION, CREDIBILITY, dan DECEPTION evaluation saja.

Ada 19 kriteria yang dimaksudkan CBCA sebagai tanda2 kejujuran / kredibilitas seseorang dalam konteks statement nya yang sedang dianalisa.

CBCA #1: Apakah crita AHOK makes sense & mungkinkah betulan dialami sperti digambarkan (Coherence) ?

Secara umum, make sense. Namun, tentunya dugaan korupsi harus dibuktikan secara hukum.

– Penjelasan tentang e-Budgeting “makes sense”.

– Penjelasan tentang pra-duga adanya korupsi “makes sense”.

CBCA #2: Adakah SPONTANEITY AHOK dlm mjawab tanpa ditanya wartawan ?

Ada. Banyak spontanitas. Banyak topik yang tidak ditanya, tapi diangkat dan dijelaskan secara gamblang, terutama terkait e-budgeting dan dugaan korupsi oleh oknum DPRD.

CBCA #3: Adakah DETAIL yg cukup (scara kuantitas & kualitas) dalam jawaban2 AHOK ?

Ada. Detail banyak scara kuantitas, namun scara kualitas harus di-validasi juga dengan orang terkait / disertai bukti tertentu.

 

CBCA #4: Adakah KONTEKS yang terikat dgn kejadian, entah konteks cerita, konteks waktu, tempat, dsbnya dalam jawaban2 AHOK ? 

Ada. Konteks mengapa muncul dugaan korupsi baru-baru ini saja telah dijabarkan secara lengkap, termasuk apa saja penyeleweng-an tersebut.

 

CBCA #5: Adakah DESKRIPSI KEJADIAN yg hanya bisa diceritakan dengan detail & tepat bila ia memang mgalaminya?

Banyak. Detail deskripsi terkait pekerjaan, terkait adanya pembicaraan dengan Jokowi.

CBCA #6: Adakah PERCAKAPAN yg privacy & sebelumnya tidak ada orang yg tahu, tapi bisa diungkapkan AHOK dgn detail & tepat?

Banyak. Salah satunya adalah isi percakapan dengan Jokowi -> termasuk komitmen AHOK utk diberhentikan bila ada kesalahan; termasuk pernyataan tentang”menjadi Kabulog” bila dipindah Jokowi.

CBCA #7: Adakah SPONTANITAS KOMPLIKASI KEJADIAN CERITA (tentang topik cerita) yg mana bisa spontan diceritakan AHOK bila memang tdk ada rekayasa?

CBCA #8: Adakah UNUSUAL DETAILS (terkait kejadiannya) ? Kaga ditanya wartawan,tau2 AHOK jelasin panjang lebar tentang pgalaman yg ia alami?

CBCA #9: Adakah PERIPHERAL DETAILS yang unik dan hanya bisa diceritakan bila AHOK betul mgalaminya, walaupun cerita jd berputar2/lompat2 ?

Ada beberapa penjelasan detail yg spesifik hanya bisa terjadi di dalam lingkup pemprov DKI Jakarta,terkait proses RAPBD.

Bahkan ada ledakan2 emosi lewat Voice, Verbal Stye, dan Verbal Content disertai Ekspresi Wajah dan adanya Body Language tertentu.

CBCA #10 -> Adakah Reported Details yang tidak dimengerti Audience tapi akurat, mungkin karena ketidaktahuan AHOK akan istilah tsb

Tidak ada.

CBCA #11: Adakah External Reference yang di-asosiasikan AHOK scara SPONTAN dlm jawaban2nya,namun “nyambung” & mjadikan cerita lbh jelas ?

Ada, terutama penjelasan tentang e-budgeting -> contoh: terkait perumpamaan perpustakaan vs komputer, buku vs computerized, dsbnya.

CBCA #12: Adakah penyebutan Mental State dirinya : misalnya AHOK (saya) gak berani, AHOK marah, dsbnya.

Ada. Banyak sekali. 

Yang terkesan tentang kesiapannya mati (muda)

CBCA #13: Adakah penyebutan Mental State orang lain disebutkan AHOK dalam cerita nya? Misalnya mental state Jokowi, SKPD, pegawai2 baru, dsb

Ada beberapa. Yang terkesan saat beliau menyampaikan komitmen Jokowi utk merapikan birokrasi Jakarta via e-budgeting; dan saat mereka berdua berpura2 mengatakan sesuatu 

CBCA #14: Adakah KOREKSI SPONTAN yg dilakukan AHOK sendiri dlm statement2 jawabannya sendiri ?

Bukan koreksi tapi penjelasan ulang kepada wartawan akan maksud perkataannya.

CBCA #15: Adakah pengakuan “Saya Lupa” saat menjawab/mceritakan kjadian2 tertentu dlm wawancara beliau, karena loading periodic memory ?

Yes, ada, ketika menyebutkan anggaran budget truk sampah

CBCA #16: Adakah Ketidakyakinan atas Statement sendiri yg dikatakan, disadari sendiri & kmudian dikoreksi ?

Tidak ada.

CBCA #17: Adakah Self Deprecation -> penyesalan diri sendiri, yg naif & jujur transparan skalipun bs di-endus sbgai tanda2 bersalah

Secara umum, tidak ada

CBCA #18 -> Adakah spontanitas AHOK yg somehow bisa memahami/mgampuni pelaku yg melakukan kesalahan (Pardoning Perpetrator) ?

Tidak ada, secara umum.

CBCA #19: Adakah Details Karakteristik yang hanya bisa disebutkan,dijelaskan,diungkap oleh seorang Gubernur yg betul2 mgalaminya ? (Istilah spesifik,proses work flow tertentu,posisi & job desc tertentu, dsbnya)

Banyak sekali detail tersebut.

Bila Anda bukan Gubernur, Anda tidak akan tahu hal itu.

Semakin banyaknya statement yang memenuhi kriteria tsb di atas, maka itu pertanda orang tsb memang mengalami kejadian yang ia ceritakan/jabarkan. Dengan kata lain, ada KREDIBILITAS.

Note bahwa beberapa pernyataan AHOK perlu digali lebih dalam dan dibuktikan secara spesifik secara hukum.

Misalnya kasus UPS -> Nilai yg dicurigai, Apa Dugaan Metode Kongkalikong/KKN nya,Mengapa/Bagaimana bisa (lolos) dilakukan,Mengapa/Bagaimana bisa ter-deteksi (metode apa yg telah dilakukan),Kapan & Dimana dilakukan KKN tsb,Siapa yg diduga terlibat dlm KKN tsb,apa saja bukti2 yang didapatkan.

Dengan adanya pembedahan kasus per kasus, AHOK, DPRD, beserta pemerintah pusat/daerah lain, dan Rakyat bisa membuktikan siapa yang #BENARatauBOHONG secara detail dan bisa melakukan S.O.P cross check yang sama utk daerah nya masing-masing.

Baca juga:

  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat kasus BG/AS: http://wp.me/p4S2VJ-4Z
  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat buka botol air minum untuk Mega: http://wp.me/p4S2VJ-7b
  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat menuangkan air minum ke Aher: http://wp.me/p4S2VJ-76
  1. Analisa Ahok di Mediasi DPRD-AHOK: http://wp.me/p4S2VJ-5N
  1. Analisa Ahok di KompasTV: http://wp.me/p4S2VJ-6F
  1. Analisa Ekspresi #Gibran: http://wp.me/p4S2VJ-6Z
  1. Analisa Ekspresi #MaryJane: http://wp.me/p4S2VJ-7e
  1. Homepage : www.handokogani.com

Siapa yang ngomong “ANJING” ?

Untuk bisa menganalisa dengan tingkat akurasi yang tinggi,

Saya perlu menganalisa ke 5 channels seseorang, yaitu:

– Wajah nya dengan analisa Face atau Micro Expression

– Gestur nya dengan analisa Body Language

– Analisa Voice

– Analisa Verbal Style

– Analisa Verbal Content

 

Ketika,

hanya tersedia Verbal Content dan Verbal Style seperti text SMS atau email atau status di media digital,

atau

hanya tersedia Voice (suara), entah suara di telpon, suara tanpa “wujud” yang disorot, dsbnya

 

Analisa sy menjadi kehilangan sekian persen akurasi-nya.

 

Mari kembali ke topik tentang video:  http://t.co/PF0zUr3iR7 dan siapa yang mengatakan “Anjing” atau selanjutnya saya perhalus “Anj**”.

 

Soal teriakan memaki “anjing”, teriakan tsb muncul antara menit 5:07 – 5:08 dlm video: http://t.co/cXgLK4YYxx. pic.twitter.com/WC1ZAal8r5

1

dan kamera tidak menyoroti siapa yg mengatakannya.

Hanya terlihat arahnya saja yakni ke arah kiri dari AHOK duduk.

 

Akurasi dari Analisa Sy menjadi berkurang sekian persen, baik terkait emosi di balik ekspresi seseorang ataupun pemilik ekspresi tsb.

 

Berangkat dari keterbatasan video yang ada tersebut, saya mencoba melakukan analisa apakah benar Tubagus Arif – lah yang mengatakan “Anj**” selain kata “memalukan”.

 

Statement dr Pak Tubagus bhwa Wagub Djarot adalah saksi beliau tdk mgatakan hal tsb adalah hal “unik”.

“unik” pertama krna di menit 5:05 saat Tubagus Arif mgucapkan kata “memalukan” tsb ssuai video tsb:buff.ly/1KAJOiD

ataupun,

saat di menit 5:07, seseorg mgucapkan kata “Anj**” tsb melakukannya stelah kata “memalukan” dr Pak Tubagus.

adalah saat2 dimana Wagub & lainnya masih belum sepenuhnya beranjak dari tempat duduk masing2.

Bahkan, ketika di 5:25 Anda melihat Pak Tubagus berjalan ke tengah sambil mengangkat HP dan mengucapkan kata “memalukan” yang kedua dan di menit 5:28 ketika Beliau mengucapkan kata “memalukan” yang ketiga, Anda bisa mliat posisi duduk bliau & Wagub sangat brjauhan. Pak Tubagus di kiri AHOK dan jajaran pemkot DKI di kanan, dimana Pak Wagub ada di barisan bangku paling depan.

Screen Shot 2015-03-08 at 11.31.18 PMScreen Shot 2015-03-08 at 11.31.31 PMScreen Shot 2015-03-08 at 11.27.21 PM Screen Shot 2015-03-08 at 11.27.33 PM

Jadi, BENAR perkataan Pak Tubagus Arif bahwa Wagub dan peserta lainnya bisa jadi saksi -> karna memang di menit2 tsb, Wagub, dirinya dan peserta lainnya masih belum sepenuhnya beranjak dari tempat duduk masing-masing. Dan suara masih cukup kencang kala itu.

 

Kalau Saya ingin mencoba menganalisa nya sendiri dengan keterbatasan yang ada,

ditambah saya juga tidak memakai software pendeteksi perbedaan suara…

maka Saya membuat hipotesa bahwa ada perbedaan R.S.V.P suara “memalukan” dgn cacian “Anj**”.

 

Dasarnya adalah

1. dari telinga telanjang saya yang menduga ada perbedaan warna Rythm suara,Speed,Volume,dan Pitch tdk sama.

2. Saya melakukan pemotongan slot “memalukan” ke-1 dan “Anj**”, kmudian melakukan proses slow-motion dengan QuickTime 7 ataupun iMovie.

Dan saya tetap pada dugaan saya bahwa ke2 suara memang berbeda.

 

Jadi, kesimpulan hipotesa saya adalah:

1. Tubagus tdk #BOHONG.Bukan beliau yg ngomong “Anj***”.

2. Smua peserta tau (Wagub & Lainnya) sbetulnya tau siapa yg ngomong -> Jadi, bila Dewan Kehormatan Dewan ingin mengusut tuntas siapa yang mengatakan hal tsb, banyak sekali saksi-nya.

Demikian hipotesa saya.

Wish ada video dengan angle lain disertai suara dan sorotan kamera yang lebih fokus pada DPRD saat itu. Analisa Ekspresi saya akan lebih akurat.

 

atau …

 

Hm, sebetulnya rekaman Pak Tubagus justru bisa jadi salah satu alat bukti bahwa bukan Beliau yang mengatakan “Anj***”.

 

Mau-kah Pak Tubagus sharing rekaman tsb?

Salam weekend.

 

Kenapa Mediasi AHOK dan DPRD GAGAL ?

Sebuah Tinjauan dari sisi Analisa Ekspresi manusia.

Sy sdh mlihat video mediasi @basuki_btp & DPRD DKI: http://t.co/PF0zUr3iR7.

Tdk trlihat ekspresi marah saat Ahok myampaikan ksimpulan akhir,terbukti dr Wajah,Voice,Verbal style & Verbal Content yg dprgunakan Ahok.

  • Voice R.S.V.P Ahok saat itu: Rhytm datar,Speed pelan,Volume kecil,Pitch rendah = Ahok tidak sdg marah scara umum.
  • Memang ada perubahan pd Voice R.S.V.P pd kata/kalimat trtentu guna menekankan isu trtentu,tapi Ahok tdk sedang marah.
  • Tdk trlihat jg tanda emosi marah pd ekspresi wajah Ahok scara umum.Trcermin dr alis mata,mata,dan bibir Beliau saat bicara.

Yg prlu digarisbawahi adlh Body Language yg justru jd pemicu awal kekesalan Haji Lulung, dimana yg sy maksud Body Language adalah Gerakan Jari Telunjuk Ahok saat berbicara.

Ini yg prnh sy tekankan saat sesi Bongkar #Kode bahwa Body Language bukan the most reliable channel krna tdk brsifat universal. Body Language bisa brlainan makna nya bagi masing2 individu yg brbeda asal suku/etnis,budaya,pendidikan,profesi,sikon/momen,dsbnya.

Gerakan Jari Telunjuk Ahok brjenis Emblem dmana bagi Ahok itu brmakna penegasan tapi bagi Haji Lulung itu sebuah penegasan marah yg bertujuan pyudutan/pghinaan.

Prbedaan pgertian Emblem Gerakan Jari Telunjuk inilah yg memicu ekspresi (wajah,body,voice,verbal style & content) Haji Lulung. Dan ini bukan kesalahan Haji Lulung ataupun Ahok, karena memang karakteristik dari Body Language yg tidak boleh diartikan universal tsb.

Screen Shot 2015-03-06 at 2.10.04 AM Screen Shot 2015-03-06 at 2.10.48 AM Screen Shot 2015-03-06 at 2.11.09 AM

Ahok mulai marah stelah Haji Lulung mprgunakan kata “sewenang2 atau undang2”. Bagi Ahok yg slalu brgantung pd otoritas trtinggi (undang2/konstitusi),kalimat “sewenang2 atau undang2” merendahkan beliau. Silakan Anda membuka link ini http://buff.ly/18JIl8U yg berisikan Analisa Karakter Ahok berdasarkan Grafolog @deborahdewi.

Jadi penyebab naik pitam-nya Ahok adalah pemicu awal tsb (salah pengertian tentang Jari Telunjuk) yang semakin terpercik dengan prbedaan pndpt Ahok dgn Haji Lulung, terkait UPS dgn mark-up luar biasa besar serta bukan prioritas adalah sebuah Kesepakatan/Kompromi bersama, atau dengan kata lain: Bila UPS itu jenis KKN, Ahok juga sama bersalah-nya dgn DPRD)

Saat marah itulah,baru trlihat Emblem Gerakan Jari Telunjuk Ahok yg didasari penegasan disertai rasa amarah, disertai Emblem Gerakan Jari Telunjuk itu + perubahan voice (R.S.V.P) + ekspresi wajah + verbal style + verbal content.

  • Di ekspresi wajah,kta bs liat alis mata trkumpul myatu dan turun,klopak mata naik,sorotan mata tajam,bibir trbuka mbentuk square.
  • Di Body Language,skrg ada gerakan siku maju mundur sambil nunjuk2 + Tubuh in attacking mode (maju ke depan).
  • Rhytm brubah,Speed jd cepat,Volum jd lbh keras,Pitch tinggi sampai2 jadi tdk jelas kata/kalimat terakhir Ahok.
  • Di Verbal Style trlihat prubahan antara lain: Tone yg lbh tinggi & gaya bahasa dgn mgambil contoh org lain sbgai bukti pndukung.
  • Di Verbal Content trdengar pggunaan subject org yg hadir + object topik UPS utk pmbuktian yg myakinkan audience.

Screen Shot 2015-03-06 at 2.13.04 AM Screen Shot 2015-03-06 at 2.13.14 AM Screen Shot 2015-03-06 at 2.13.33 AM Screen Shot 2015-03-06 at 2.13.46 AM Screen Shot 2015-03-06 at 2.13.57 AM

Jadi, kalo dirunut mundur,sbetulnya Ahok trpicu oleh kata “sewenang2 atau undang2”, baru lah kesal perihal isu “kesepakatan sblm-nya”. 

Buat saya,ini gara2 Jari Telunjuk yg disalahartikan,selain tentunya gaya brbicara Ahok & kata2 yg dprgunakan.

Memang, penyebab lain adalah karena Ahok mggunakan gaya konfrontasi dgn pembuktian: SKPD hadir utk klarifikasi & slalu mggunakan kehadiran SKPD sbgai pguat statement. Tentunya kalo ada gaya pembuktian,pasti ada pihak yg disudutkan/dianggap salah. Dan pasti-nya, tidak ada seorangpun yg mau dianggap salah/dipojokkan di depan umum, regardless dia memang bersalah atau apalagi tidak bersalah.

… Kalau saja tidak ada Gerakan Jari Telunjuk,tdk memicu reaksi Haji Lulung membalas statement Ahok yg akhirnya balik myulut emosi Ahok.

Ahok yg brpatokan pd Undang-Undang jelas akan terpicu dgn kata “sewenang2 atau undang2” + kata “kesepakatan” yg brmakna kompromi. Kalau kesepakatan itu sesuai Undang-Undang & tdk merugikan orang banyak serta Pemkot & Diri-nya, Ahok bisa saja setuju dgn DPRD.

 
Anyway, nasi sudah jadi bubur ayam pedas…
Kira2 apa yang akan dilakukan oleh Mendagri ya, atau mungkin Jokowi?

Hm…

Note: artikel ini juga dimuat di http://chirpstory.com/li/255088

Salam,

Handoko Gani

@ForensicEmotion

 

Baca juga:

  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat kasus BG/AS: http://wp.me/p4S2VJ-4Z
  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat buka botol air minum untuk Mega: http://wp.me/p4S2VJ-7b
  1. Analisa Ekspresi #Jokowi saat menuangkan air minum ke Aher: http://wp.me/p4S2VJ-76
  1. Analisa Ahok di Mediasi DPRD-AHOK: http://wp.me/p4S2VJ-5N
  1. Analisa Ahok di KompasTV: http://wp.me/p4S2VJ-6F
  1. Analisa Ekspresi #Gibran: http://wp.me/p4S2VJ-6Z
  1. Analisa Ekspresi #MaryJane: http://wp.me/p4S2VJ-7e
  1. Homepage : www.handokogani.com