Kok kamu atur Saya

“Kok kamu ngatur Saya ?”

Di dalam kelas Komunikasi Tanpa Melukai yang Saya ajarkan, Saya ingatkan ada 4 Tipe Kalimat yang memblokir komunikasi.

Salah satunya adalah “melepaskan tanggung jawab”.

“Kok kamu ngatur Saya ?”

Contoh :
1) Emangnya Saya gak ada kerjaan lain ?
2) Ini bukan tanggung jawab Saya.
3) Saya hanya nyampaiin aja. Tanya sendiri ke orangnya
4) Dan yang teranyar …

Nah, ada 1 kalimat menarik yg juga merupakan jenis kalimat pemblokir komunikasi yaitu kalimat “tuntutan”.

Contoh : kira2 kapan bisa selesai ? Saya perlu urgent nih. Besok selesai jam 10 pagi ya. Thanks ! See you tomorrow.

Kalimat “tuntutan” yang terselubung dalam kalimat bertanya adalah juga Pemblokir Komunikasi.

Bila Yg Minta adalah Otoritas yg lebih tinggi, akan berakibat : keluh kesah. Tapi ketika Yang Berani Minta adalah Rekan selevel bahkan Karyawan level di bawahnya, akan terjadi yg lebih mengerikan.

Yg menarik dari postingan di sini adalah :

1) “sms” (padahal ini WA). Perlu cekricek.
2) Apa ada penginfoan tentang target sebelum WA ini yg tidak dishared ke Kita ? Misalnya ngasi tau : Ibu Saya ngejar skripsi bulan ini. Karna begini begini…

Bila ada kalimat sejenis ini, inilah kalimat tuntutan yg menjadi cikal bikal blokir komunikasi.

 

Akhir kata, Kita perlu mendapat informasi dulu dari keduabelahpihak

Demikian.

https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-5140315/ramai-chat-dosen-kok-kamu-atur-saya-bagaimana-etika-komunikasi-tugas-via-wa

Need Space vs Need Friend

Ada sebuah alat musik yang baru saja menarik perhatian saya setelah Kalimba dan Hand/Tank Drum.

Theremin, itu nama alatnya. Sebuah alat musik keren yang justru hanya bisa dimainkan tanpa disentuh. Sangat amazing sekali. Menyaksikan demonstrasi dari Carolina : https://lnkd.in/gNpYQQs

Lain dengan alat musik pada umumnya. Piano harus disentuh. Gitar harus di”kocok”. Biola harus digesek. Drum harus dipukul. Seruling harus ditiup.

Satu hal yang justru bisa menganggu performance Theremin adalah kalau ada orang berada di wilayah pancaran sinyalnya.

Di dunia kerja, Anda mungkin bertemu dengan orang-orang yang seringkali membutuhkan “space” (private moment, private reflection, private physical distance, dstnya).

Dan sebaliknya, Anda juga akan bertemu dengan orang-orang yang super rame. Orang-orang yang selalu berada di putaran kehebohan isu di kantor. Orang-orang yang bisa ngomong 8 jam kantor x 60 menit nonstop.

Perusahaan Anda mungkin banyak memiliki orang2 “Need Space”. Mungkin juga hanya di divisi tertentu. Misalnya, divisi yang terkait dengan IT, dengan investigasi, dengan data, penelitian dan sejenisnya. Atau mungkin juga hanya 1-2 orang di antara ratusan karyawan.

Satu hal yang perlu Anda ingat. Jangan berpikir untuk mengubah mereka 100%.

Sama seperti alat musik Theremin. Ia begitu indah mengalun tanpa disentuh. Sedangkan, yang lainnya, perlu “digesek”.

Kuncinya adalah bagaimana Anda merajut kelebihan dan kekurangan Theremin ini sehingga ia dan Biola bisa bergabung bersama dalam harmoni indah mencapai kinerja terbaik di era pandemi Korona.

Reshuffle Kabinet

Apakah reshuffle itu tidak lagi menjadi isu ? Tidak. Masi ada isu.

Apakah reshuffle itu relevan ? Jelas ! Kalo kinerjanya gak bagus.

Apakah kinerjanya betul sudah super bagus ? Masa ? Kejadian tgl 18 Juni, di upload tgl 28 Juni, sekarang tgl 6 Juni sudah super bagus ?

Sudah ada “sense of urgency” ? Darimana ngukurnya ?

Kebijakan apakah yang “tidak biasa-biasa” itu ?ada dasarnya, manusia tidak akan mengeluarkan Ekspresi Tidak Nyaman.

Bahkan, ekspresi “menenangkan” pun bisa menjadi salah satu bukti bahwa adanya isu. Untuk apa “menenangkan”, bila orang2 sudah “tenang” ?

Gesture analysis adalah seni yg menilai berbagai ragam penggunaan gesture dalam Percakapan. Dilihat dari makna, momen kemunculan, frekuensi kemunculan, hingga intensitas saat muncul. Tentunya dengan tetap membandingkannya dengan BASELINES asli orang tersebut.

Video ini berisi oretan Analisis. Namun, berita nya bisa dicek di https://news.detik.com/berita/d-5082237/pakar-gestur-pratikno-hanya-meredam-isu-reshuffle-masih-relevan .

Jadi, bila sebuah gesture dikatakan sebagai kebiasaan, maka pasti memiliki Pola. Tidak muncul di momen Ucapan tertentu saja, intensitas nya sama, tidak memiliki pesan tersembunyi, dan tidak berbeda makna.

Ketika munculnya hanya saat momen Ucapan tertentu, intensitasnya tidak sama, dan maknanya berbeda, maka jelas itu petunjuk adanya emosi Dan pikiran yg berbeda dari Ucapannya.

Jadi, kesimpulannya ?

Reshuffle masi jadi isu. Serius. Dan bisa terjadi ! Tenang saja tidak cukup ! Kerjasama dan Kerjasmart !

Kapan deadline nya ?Prediksi Saya : Desember. Supaya Januari jadi fresh. Baru !


September yg paling cepat. Tapi rasanya ndak sih, karena bisa mengacaukan semua rencana urgent soal pandemi.

Demikian

#handokogani #liedetector #liedetectorindonesia #liedetectorspecialist

Setega itukah Jokowi melarang mudik ?

Mulai nulis lagi ini.

Dulu tahun 2015 aktif banget nulis analisis.
PSBB masa pandemik Korona ini mau coba nulis lagi hahaha….

Hari ini, Presiden kita mengumumkan pelarangan mudik.
Anda bisa tonton videonya di :

Ketika melihat judul artikel ini, hidung saya langsung “gatal”. Langsung minta rekan wartawan untuk mencari videonya. Dan ternyata hidung ini masih tajam. Betul, ada beberapa catatan menarik yang bisa dianalisis.

Saya melihat bahwa ini bisa dibilang strategi “militer”, dimana semuanya sudah direncanakan, dipersiapkan, dan akhirnya diterapkan secara bertahap. Bila juga “tidak”.

Saya rasa tidak mungkin kalau pelarangan mudik ini sebuah keputusan yang tidak pernah muncul sama sekali dalam pertimbangan Presiden dan para Penasihat Beliau yang luar biasa itu. Pasti sudah menjadi salah satu opsi.

Namun, yang saya lihat, ini bukan opsi utama.

Alasan saya adalah bahwa : Pak Jokowi terlihat “berat” dalam memutuskan. Kasarnya, “sampai gak berani” melihat kamera selama beberapa detik. Yang artinya, beliau sebetulnya berharap keputusan “dilarang mudik” ini tidak pernah dilakukan. Bahkan, beliau sempat tercenung juga di detik-detik mendekati pergantian topik ratas online.

Akhir kata, saya sangat support dengan keputusan Pak Presiden. Tentunya ada pro dan kontra terkait keputusan ini. Namun, demi Indonesia kita bersama, demi nyawa para Orang Tua dan Saudara-Saudara kita di kampung, mohon dipertimbangkan untuk menunda mudik kali ini ke bulan-bulan selanjutnya.

 

Salam hangat,
#handokogani

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Jadilah SHERLOCK HOLMES

Anda pasti mengenal Tokoh / Cerita Sherlock Holmes. Namun, Anda mungkin menganggap bahwa tokoh dan cerita nya adalah tokoh dan cerita fiktif.

Anda tidak sepenuhnya benar.

Anda perlu tahu bahwa Sir Arthur Conan Doyle, sang Pencipta Sherlock Holmes justru merupakan salah satu tokoh sejarah dalam disiplin ilmu Forensik.

Guru beliau adalah Dr. Joseph E. Bell, tokoh sejarah yang menginspirasi penggabungan medis dalam pengusutan kasus kejahatan. Beliau menggabungkan pola pikir deduksi, observasi karakter dan perilaku manusia, dengan dunia medis, termasuk operasi otopsi tubuh manusia yang cukup baru diperkenalkan di abad tersebut.

Murid tentunya amat dipengaruhi oleh Gurunya.

Namun, Sir Arthur Conan Doyle justru menggunakan medium novel untuk memperkenalkan penggabungan tersebut hingga popular menembus zaman.

Bila Anda perhatikan kedua tokoh dalam cerita Holmes, Anda bisa melihat bahwa Sherlock merepresentasikan “pola deduktif, crime mapping analysis, interview, hingga observasi dan analisis karakter & perilaku manusia”. Namun, justru melalui kolaborasinya dengan Dr. John Watson – lah, Sir Arthur memperkenalkan apa yang kini dikenal sebagai Crime Scene Analysis hingga Behavioral Event Analysis.
Sebagaimana Anda banyak saksikan di film2, sebetulnya bukan karena Polisi saat itu betul-betul tidak sehebat Duet mereka berdua. Namun, lebih kepada “Belum Dikenalnya disiplin keilmuan Crime Scene Analysis / Behavioral Event Analysis” ataupun Crime Scene Reconstruction / Olah TKP (Doyle, 1887).

Anda mungkin mengenal dunia forensik melalui film-film hollywood, seperti CSI, Criminal Mind, dstnya. Sebetulnya, ada banyak sekali jenis analisis forensik, mulai dari analisis Event / Indicent, Drug / Chemistry, Biologi seperti DNA, insiden kebakaran, pola kejahatan seperti Pola Insiden Tawuran, Pola Penembakan massal, Pola Demonstrasi, Pola Jejak Kaki, dstnya, digital evidence (cyber crime), fingerprint, hingga analisis Forensik Pemeriksaan Dokumen.

Nah, yang Anda saksikan di cerita Sherlock Holmes sebetulnya adalah upaya Sir Arthur Conan Doyle untuk menggabungkan berbagai jenis analisis forensik tersebut dengan logika, intuisi, pola pikir deduktif, analisis observasi perilaku manusia, kemampuan mengumpulkan data/info, serta merekonstruksinya kembali seakan ia sendiri adalah Pelaku Kejahatan itu sendiri.

“Merekonstruksi kejadian seperti Pelaku Kejahatan” itulah yang sebetulnya menjadi daya tarik dari kisah Sherlock Holmes. Dan daya tarik inilah yang sebetulnya menjadi dasar dari Corporate Investigation sepanjang zaman.

Ini yang saya rasa kurang menarik perhatian kita sebagai Corporate Investigator, baik itu Auditor, Fraud Investigator, Loss Investigator, Cybercrime Investigator, Forensic Gadget & Computer Crime Investigator, hingga S.O.P Business Implementer.

Kasus terungkap hanya karena data/info lengkap. Namun, seringkali kita terlalu kekurangan waktu dan semangat untuk memahami keseluruhan kejadian atau biasa disebut Crime Reconstruction.

Yes, Crime Reconstruction. Kita perlu memahami bahwa Crime Scene Reconstruction hanyalah salah satu dari jenis Crime Reconstruction. Mungkin karena lebih sering digunakan dalam kasus kriminal ataupun kecelakaan, Anda merasa hal tersebut bukanlah bidang Anda sebagai Auditor, Fraud Investigator, hingga S.O.P Business Implementer.

Ada banyak sekali manfaat merekonstruksi kejahatan. Salah satu manfaat utamanya justru adalah untuk pencegahan kejahatan yang sama, sejenisnya, ataupun yang terkait dengan kejahatan tersebut.

Pencegahan kejahatan ini membawa kita kepada pemahaman Security Risk Management termasuk SRA (Security Risk Assessment).

Sebetulnya, semua kejahatan pasti bermuara pada kebocoran keamanan (security) pada suatu business process ataupun pada suatu wilayah geografis tertentu.

Biasanya kita akan menggunakan analisis Triangle, yaitu sisi

1) sisi “Victim dan bagaimana penguasaannya terhadap dirinya sendiri selaku korban ataupun pada barang yang hilang-rusak” pada periode temporal, spatial, dan experiential interaction saat kejadian

2) sisi “Management spatial dan bagaimana penguasaannya terhadap area spatial dan interaksi di dalam area tersebut pada temporal periode kejadian”

3) sisi “Pelaku dan bagaimana penguasaannya pada Korban, Area spatial, Temporal Kejadian, dan Interaksi Kejadian”

Contohnya ketika terjadi viral video seks yang diduga dilakukan oknum karyawan swasta dan SPG-nya.

Setelah diselidiki, ternyata video tersebut berasal dari laptop karyawan yang hilang. Karyawan merupakan anggota team SPG. Diketahui Oknum ini turut serta di dalam praktek perekrutan SPG dengan cara illegal yaitu imbalan “tidur semalam”.

Maka, bila kita selidiki lebih dalam :

1) Sisi Korban. Ternyata, laptop-nya ditinggalkan di tempat duduk mobil bagian depan. Korban berperilaku demikian karena terburu-buru melakukan absensi pagi (terlambat ngantor), sehingga pintu mobil tidak tertutup rapat

2) Sisi Management Parkir. Ternyata, TKP adalah di spot parkir yang dekat dengan akses informal berupa celah masuk di antara pagar perusahaan. Spot tersebut biasanya ramai lalin karyawan dari samping. Jadi, seharusnya kejadian pencurian bisa ketahuan dengan cepat. Di waktu tersebut, rupanya pintu tersebut ditutup sementara seadanya. Penutupan tersebut biasa dilakukan apabila ada pemilik perusahaan datang. Petugas Security, di sisi lain, terfokus pada upaya pengamanan VVIP dan event kedatangan pemilik perusahaan.

3) Sisi Pelaku. Ternyata, Pelaku diketahui adalah seorang Penjual Cilok yang baru-baru ini saja berjualan di dekat spot tersebut. Saat itu, karena pintu ditutup, tidak banyak orang yang lalu lalang, penjual cilok ini “nganggur”. Dan ia melihat Korban dan pintu mobilnya yang tidak tertutup rapat.

Dan bila diteliti lebih dalam, ternyata kebocoran pengamanan juga memiliki andil dalam praktek perekrutan ilegal SPG seperti ini. Beberapa Security diduga mengetahui praktek ini karena ada beberapa SPG merupakan referensi mereka. SPG ini juga diminta uang komisi oleh oknum Security ini, atas sepengetahuan komplotan Pelaku Rekrutmen ini.

Kesimpulan analisis seperti demikian baru diketahui ketika Investigator berupaya merekonstruksi tiap kejadian. Interview serta pencarian data/info yang dilakukan pun semuanya bermuara pada upaya rekonstruksi kejadian kejahatan ini, baik pencurian laptop tempat asal video clip seks tersebut, hingga proses upload viral video seks ini.

Di sisi lain, Anda juga bisa bekerja sama dengan Security untuk mengembangkan Geospatial Crime Mapping khusus bagi Perusahaan Anda, termasuk bekerjasama dengan kepolisian.

Crime Mapping dengan Geospatial Technology ini hal yang masih langka di Indonesia, namun sudah lumrah di luar negeri. Anda bahkan bepergian ke suatu distrik bermodalkan crime index.

Contoh Crime Mapping :

Crime Mapping_Bangalore

crime-pic.jpg

Contoh lain : Jakarta di peringkat 92 dan Bali di peringkat 119
Crime Index Mid 2019

Dengan Crime Mapping ini, Anda bisa memetakan dan memitigasi berbagai jenis kejahatan di dalam radius terdekat dengan lokasi kantor pusat/cabang perusahaan.

Dan ke-depannya, sebetulnya dengan teknologi CCTV surveillance yang digabungkan dengan Database Face, Body dan Voice Recognition dan Analysis (microexpression, gestur analysis, gait analysis, dan voice analysis) serta Artificial Intelligence – Machine Learning, Anda bisa meng-cluster dan bahkan memprediksi kejahatan di masa depan.

China adalah negara yang jadi patokan Mass Surveillance dunia saat ini. Bukan karena jumlahnya yang fantasistis tetapi karena pengelolaannya sudah mencakup berbagai bidang kehidupan masyarakat, lepas dari kontroversi privacy-nya.

 

Banyak sekali yang bisa kita bahas ketika membicarakan rekonstruksi kejahatan.

Satu hal penting dari pembahasan ini adalah : di dalam konteks perusahaan, kita harus bisa menerapkan holistic approach terhadap suatu kejadian kejahatan, baik itu selaku Auditor, Fraud Investigator, Loss Investigator, hingga Security. Jangan bermata-kuda hanya peduli pada bidang sendiri-sendiri. Harus lintas-investigasi.

Contoh saja dari kasus di atas.

HRD / Auditor & Fraud Investigator harusnya sudah bisa mencurigai ketika mengaudit business process pengadaan SPG perusahaan. Terlebih lagi, seharusnya IT Investigator bisa mengetahui adanya konten cabul di dalam laptop kantor.

Itulah pelajaran penting dari Sir Arthur Conan Doyle dan Sherlock Holmes-John Watson nya. Mereka menginvestigasi lintas berbagai disiplin ilmu.

Saya melihat inilah saatnya Perusahaan membentuk “Corporate Sherlock Holmes” alias Corporate Investigator yaitu sebuah divisi yang mengumpulkan seluruh jenis investigator di dalam perusahaan, antara lain Security, Fraud Investigator, Loss Investigator, Cybercrime Investigator, Background Check – Investigator, hingga Surveillance dan Business Investigator.

Dengan dibentuknya Corporate Investigator ini, para Investigator bisa melakukan koordinasi investigasi lintas disiplin departemen dan Pemilik Perusahaan juga bisa memfokuskan upaya penguatan wewenang dan kompetensi individu ataupun pengadaan alat-alat investigasi profesional seperti Layered Voice Analysis (LVA). Group Konglomerasi Perusahaan, khususnya yang memiliki berbagai anak perusahaan, adalah jenis perusahaan yang amat perlu memiliki departemen khusus ini.

Nah, khusus bagi Anda, Sahabat Investigator, apapun bidang Anda, jangan menutup diri dengan disiplin investigasi dari bidang Anda sendiri.

Jadilah Sherlock Holmes pertama di perusahaan Anda.

 

Salam hangat,

Handoko Gani

Body Language Salesman

Belajar Body Language itu sangat penting bagi para pemasar/penjual, baik itu yang berjualan langsung kepada End User (B2C) ataupun yang kepada Perwakilan Perusahaan (B2B).
Mungkin Anda sudah sering mendengar bahwa Pelanggan yang betul mau membeli bisa diobservasi dari Body Language atau Gestur nya. Itu sebabnya, Anda diminta belajar.
Namun, sejatinya, Body Language Anda selaku pemasar/penjual juga menentukan keberhasilan penjualan Anda.
Saya tidak berbicara mengenai penampilan fisik. Tentunya, Sales barang bernilai sekian milyar tidak akan sama dengan Sales barang bernilai 50 ribu. Sales barang anak-anak tidak sama dengan Sales produk kecantikan. Dan itu adalah hal yang normal. 
Saya tidak hanya berbicara perihal jabat tangan, yang merupakan salah satu gerbang awal bagi Pembeli. Saya akan membahas banyak hal.
Saya juga akan meluruskan paradigm keliru tentang eye-contact, dimana Penjual yang tidak eye-contact justru dianggap “aib” bagi perusahaan. Ini satu hal yang keliru. Penjual yang eye contact tetap tidak selalu berhasil menjual kok.
Saya justru merasa perlu memberikan saran mengenai poros tubuh Anda saat mendengarkan Customer / Klien berkeluh kesah. Ada berbagai poros tubuh yang relevan daripada hanya berhadap-hadapan.
Ada banyak hal yang perlu saya sampaikan dalam seminar 1 hari ini. 
Tentunya, tak lupa saya juga akan membahas berbagai tipe Body Language Pelanggan yang menunjukkan atensi mereka pada produk, puas pada produk, betul berniat membeli produk, ataupun yang sebetulnya adalah seorang kompetitor yang menyamar mencari tahu.
Dan Customer / Klien itu ndak bisa bohong. Teknik ini bisa membantu Anda membedakan jujur dan bohong nya emosi mereka. Ini memang salah satu seri pelajaran Human Lie Detector.
Kompilasi Teknik Body Language ini akan membantu Anda para rekan Salesman.
Ikutilah pelatihannya :
di : Jars Coffee Cafe, Kebayoran Lama
Tgl: 11 Mei
Waktu: Pukul 10 pagi – 5 sore
Dengan investasi:
– Rp 1 juta per 3 orang
– Rp 350 ribu per orang
( tanpa early bird)
Ketentuan: Pelatihan ini dimulai bila telah kuorum 10 orang.
Registrasi via WhatsApp ke : 087 88 09 75 990 ( Dewi / Handoko Gani )

Apa yang harus dilakukan paslon capres cawapres dalam debat

Sudah banyak wartawan yang bertanya kepada saya :

Apa yang harus dilakukan oleh para Capres dan Cawapres dalam Debat mereka yang kedua hingga terakhir nanti ?

 

Jawaban saya akan berupa pertanyaan kembali: apa yang harus disiapkan oleh Pemancing Ikan ? apa yang harus disiapkan Ikan agar tidak tertangkap ?

 

Anda bingung ?
Apa urusannya dengan pemancingan ikan ?

 

Betul, bila dikatakan “Interview” = Bertanya untuk tujuan tertentu.
Namun, Anda harus “maklumi” juga bahwa orang yang ditanya (Interviewee) belum tentu bersedia mengungkapkan pemikiran dan perasaan sesungguhnya terang-terangan (perilaku komunikasi yang apa adanya)

 

Yang artinya sebetulnya “Interview” adalah segala upaya yang dilakukan untuk “Memancing” pemikiran dan perilaku sesungguhnya dari Interviewee.

 

Debat pun sama. Sepakati dulu ya.

Ketika Host (red: mewakili Rakyat Pemilih) bertanya kepada Pak Jokowi / Prabowo ( selanjutnya disebut Jokowi / Prabowo / Interviewee saja ), maka: Host berharap Interviewee akan mengungkapkan pemikiran dan perasaan sesungguhnya terang-terangan.

  • Dalam bahasa teknis para Analis Ekspresi Wajah adalah “Tidak ditemukan adanya microexpression yang berbeda dengan macro expression -nya”.
  • Dalam bahasa teknis Human Lie Detector sesuai filosofi yang saya buat sendiri, Host = Pemancing Ikan dari Interviewee ; Ikan = Pemikiran, Perasaan, dan Perilaku Komunikasi sesungguhnya dari Interviewee

 

Ketika Pak Jokowi / Pak Kyai Maruf Amin (selanjutnya disebut 01) bertanya kepada Pak Prabowo / Pak Sandi (selanjutnya disebut 02) , maka: 01 = Pemancing Ikan dari 02, atau sebaliknya 02 = Pemancing Ikan dari 01.

 

Ketika 02 menimpali jawaban 01 kepada Host, maka: 02 bisa menjadi Ikan yang terpancing juga dari Host atau dari 01, atau sebaliknya 02 bisa menggunakan momen itu menjadi Pemancing Ikan dari 01, selain Host.

 

Di dalam jawaban 01/02 kepada Host ataupun saat menimpali 02/01 lawannya, akan ada pernyataan pamungkas penting yang sebetulnya tertuju kepada rakyat, bukan memancing 02/01 lawannya. Pernyataan penting ini berupa penegasan karakter – janji gaya kepimpinan nanti –  janji program – janji manfaat program/pemilihan sang paslon, atau penegasan perbedaan sang Paslon terhadap Paslon lawannya. Begitu juga saat pernyataan di akhir debat, akan ada momen dimana pernyataan ini muncul. Maka, di saat-saat begini, yang sedang dipancing atau “ikan”nya adalah Penonton acara debat di studio ataupun di TV. Bila pernyataan tersebut dibuatkan sebagai berita/artikel, maka: “ikan”nya adalah Pembaca Berita tersebut.

 

Saya rangkum secara sederhana.

  • Host = Pemancing Ikan
  • Ikan = Pemikiran, Perasaan, dan Emosi (yang terungkap lewat ekspresi wajah, gestur, suara, kata-kata yang dipilih, dan tanda-tanda syaraf otomatis yang bawah sadar)
  • Ketika Host bertanya, 01/02 = “ikan”
  • Ketika 01/02 menanggapi 02/01, bisa = “ikan” yang ikut terpancing jawaban lawannya atas pertanyaan Host
  • Ketika 01 bertanya pada 02, maka 02 = “ikan”. Begitu juga sebaliknya.
  • Ketika ada pernyataan pamungkas penting maka 01/02 sebetulnya Penonton TV/ Pendengar Radio / Pembaca Berita = “ikan”.

 

Cermati baik-baik pernyataan berikutnya sebagai dampak dari peran-peran di atas.

  • Dengan pembatasan ketat dari KPU, maka: Host adalah Pemancing Ikan yang betul-betul sangat terbatas pada “umpan” jenis tertentu saja. Umpan itupun dibuat oleh orang lain, bukan sang Host sendiri. Ia juga tidak bisa mengganti umpannya. Ia bahkan tidak bisa mengubah-ubah gaya memancingnya (gaya/teknik bertanya-nya), baik itu jenis Interrogative ataupun Investigative.

 

Sekarang saya akan membahas jawaban atas pertanyaan di atas : “Apa yang harus dilakukan 01/02 dalam Debat kedua s/d keempat ?”

  • Saat 01/02 “menjadi ikan” , maka: jadilah “ikan” yang sesungguhnya. Artinya, ungkapkanlah pemikiran, perasaan, emosi dan ekspresi dari emosi itu sendiri yang asli. Bila Anda tidak jujur, pasti akan ada micro expression yang berbeda dengan macro expression , micro gesture yang juga menyimpang dari gesture normal, spektrum suara yang juga menyimpang dari range R.S.V.P suara normal (Rhythm, Speed, Volume, and Pitch), kata-kata yang menyimpang dari pakem linguistics yang berlaku, ataupun gaya tutur jawaban/pernyataan yang juga menyimpang dari gaya tutur jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lainnya.Bila ada penyimpangan, maka jelas Anda berbohong.
    Bila 01/02 mengeneralisasi, maka jelas Anda berbohong juga karena generalisasi itu secara sadar dan sengaja dilakukan untuk merugikan 02/01 lawannya.Bagaimana kalau pertanyaan 01/02 menggunakan info-data-fakta yang memenuhi kriteria “bohong” misalnya:
    – Info/Data/Fakta tersebut berasal dari generalisasi atas suatu kejadian / info-data-fakta tertentu saja ? (Namun, betul info/data/fakta tersebut pernah terjadi hanya sekali atau beberapa kali saja)
    – Info/Data/Fakta tersebut sengaja direkayasa (dibuat), padahal tidak benar terjadi ?Jawabannya: sebagai ikan, jangan “terpancing” dan sebaliknya, “pancing” balik. Malah dalam bahasa “kasarnya”, balik tertawakanlah “umpan” tersebut sehingga lawan malah balik terpancing. Jadi, caranya adalah biasakan menggunakan kalimat tegas :
    – Akui bahwa betul info/data/fakta itu PERNAH terjadi. Namun, 01/02 (lawan Anda) mengeneralisasi. Seakan-akan itu selalu terjadi hingga sekarang. Generalisasi yang sadar dan sengaja adalah kebohongan.
    – Anda salah mengambil info/data/fakta
    – Anda salah menyimpulkan

    – Tunjukkan datanya

    Bagaimana kalau pertanyaan 01/02 mempertanyakan janji yang belum terlaksana ?
    Lakukan hal berikut:
    Bila emang Anda belum melakukannya karena ada PRIORITAS lain, maka: minta maaf, akui bahwa ada prioritas lain, namun tunjukkan bahwa prioritas lain tersebut justru telah berhasil dilakukan. Karena sudah berhasil dilakukan, bila terpilih, maka: janji yang terpinggirkan ini pasti akan diwujudkan.

    Bila Anda sudah melakukannya, namun tidak berhasil dilaksanakan, karena terbentur pihak lain, maka: jangan minta maaf, jelaskan bahwa ada pihak lain yang juga berperan dalam pengambilan keputusan, dan bahwa janji Anda belum terlaksana karena pihak ini belum setuju. Dan gunakan kata pamungkas yaitu bahwa: janji yang sudah mati-matian dilakukan namun belum terwujud, maka: janji tersebut bukan bohong. Karena memang begitulah definisinya.

    – Bila Anda sudah melakukannya, namun dinyatakan belum melakukannya, maka pancinglah balik. Tegur dengan tegas bahkan dengan ekspresi marah. Anda juga boleh menggunakan pernyataan pamungkas yang bersifat menunjukkan kelemahan pencarian info/data/fakta ataupun kelemahan pengambilan kesimpulan. Anda bahkan boleh menggunakan ekspresi “nyinyir” sebagai bagian dari strategi nonverbal Anda. 

 

  • Bagaimana saat 01/02 menjadi “Pemancing ikan” ?Sebagai “Pemancing ikan”, Anda boleh menggunakan umpan jenis apapun (ingat: umpan = pertanyaan), bertanya dengan cara apapun (yang penting : beradab, bermanfaat, boleh yaitu antara lain: tidak bullying, tidak ada kontak fisik, tidak melanggar hukum, dsbnya).Umpan haruslah DIBUAT sebelumnya & sudah dalam bentuk kalimat utuh. Bukan hanya topik-topik pertanyaan saja. Ingat ! Umpan DIBUAT sebelum memancingSebagai “Pemancing ikan”, dalam konteks gaya bertanya, masing-masing 01/02 memang terbatasi. Tidak bisa seleluasa saat interview dalam konteks rekrutmen, performance appraisal, ataupun investigasi kasus kejahatan.Namun, yang bisa dimanfaatkan 01/02 sebagai “Pemancing Ikan” adalah Teknik BEHAVIOR MANAGEMENT. 

    Artinya, 01/02 bisa :
    – Berlatih menggunakan SUARA yang tepat saat bertanya. Misalnya: saat bermaksud memancing “ikan” marah, maka: suara yang tepat adalah suara “superior”, atau suara “nyinyir”.- Berlatih menggunakan EKSPRESI WAJAH yang tepat saat bertanya. Optimalkan: ekspresi “nyinyir” dan “jijik” ketika bermaksud memancing “ikan” marah karena dipojokkan / dinyinyirin. Optimalkan juga ekspresi “marah” ketika mengingatkan kesalahan 01/02 yang membuat rakyat marah/benci.

    – Berlatih menggunakan GESTUR yang tepat saat bertanya. Optimalkan: gestur yang superior dan memojokkan lawan, misalnya: berganti poros tubuh, menunjuk, berdecak pinggang, melipat tangan di dada, menggulung-gulung lengan baju yang sebetulnya tidak turun, dsbnya.

    – Berlatih menggunakan KATA yang tepat saat bertanya. Optimalkan kata-kata sensitif bagi paslon lawan, antara lain: yang terkait keraguan atas kesetiaan lawan, keraguan atas kapabilitas lawan, keberaniannya, dan ketepatan janjinya. Minta ahli forensic linguistics memastikan apa saja kata-kata sensitif dari lawan berdasarkan berbagai video yang ada.

    – Berlatih menggunakan KATA yang tepat saat memancing Pembaca/Penonton. Ingat bahwa 01/02 harus punya FRASE KATA yang akan membekas kepada Pembaca/Penonton setelah selesai debat. Misalnya: Saya telah, Saya pasti akan, Kesetiaan, Kepercayaan, Tuntas, Jujur, Hoax, Lanjutkan, Terbukti, dan sebagainya. Berlatihlah agar FRASE KATA ini betul-betul muncul dalam jumlah puluhan hingga ratusan kali. 

    Padupadan-kanlah semua latihan ekspresi wajah, gestur, suara, frase kata di atas, sehingga Anda akan menjadi “Pemancing Ikan” yang handal di segala medan. 

 

TERIMAKASI telah membaca artikel ini.

Semua yang saya sampaikan di atas adalah materi training yang saya berikan kepada para Investigator, baik itu: Auditor, Fraud Investigator, Security & Body Guard, Loss & Prevention Investigator, Credit Analyst, Microbanking Analyst, HRD Division, hingga Pemilik Usaha.

 

Anda bisa menghubungi saya di me@handokogani.com untuk melatih team Anda.
Workshop selanjutnya berjudul “Body Language Investigator” telah bisa Anda ikuti, klik: http://bit.ly/BodyLanguageInvestigator


Handoko Gani MBA BAII LVA

  • MBA, Asian Institute of Management, 2004
  • Post graduate diploma in Behavior Analysis & Investigative Interview (BAII – dulu disebut Forensic Emotion, Credibility and Deception), Emotional Intelligence Academy, Manchester, Inggris, 2015
  • Certified Authorized User Layered Voice Analysis (LVA), alat investigasi profesional yang telah berpengalaman selama 20 tahun lebih di 80 negara lebih, khususnya di dunia anti teror, intelijen, anti fraud & homicide, hingga risk assessment test untuk rekrutmen posisi strategis terkait keselamatan, rahasia perusahaan, & finansial, 2017

 

 

Menulis sebagai Gaya Interview

Sebagai Investigator dan Rekruter, mari kita berkata jujur.

Siapa yang pernah kehabisan pertanyaan dalam sebuah interview ?

Jujur saja. Saya juga pernah.

Dan itu fatal.

Kehabisan pertanyaan yang terlihat jelas oleh Auditee atau Pelamar Kerja amat berbahaya. Apabila Auditee atau Pelamar Kerja tersebut memang Fraudster atau berniat menipu, maka: kesalahan Investigator atau Rekruter tersebut bisa dimanfaatkan.

 

Oke. Anda tidak pernah kehabisan pertanyaan. Anda seorang Investigator yang hebat.
Tapi, pernahkah Anda canggung dalam sebuah interview ? Entah karena Pelamar Kerja nya adalah Top Executive ataupun Auditee nya adalah orang “penting” di masyarakat. Entah karena Anda salting karena ditegur oleh mereka yang “berani”.

 

Kedua hal tersebut tidak pernah terjadi pada Anda. Sekali lagi, wow…. luar biasa. Saya serius. Memang ada investigator yang seperti demikian. Saya harus mengakui Bpk Ibu.

 

Bagaimana bila tiba-tiba Anda menyadari bahwa Anda sudah terbawa “permainan” Fraudster dan berada jauh dari target interview … ? Barangkali pernah …

 

Apa yang harus Anda lakukan ?

 

Izinkan saya memberi Anda saran jitu.

Lakukan aktifitas terkait menulis.

Baik itu membuka buku catatan Anda atau Anda menulis sesuatu, apapun itu.

 

Saat Anda melakukannya, atur nafas dan berdiamlah sejenak setelah menyatakan keinginan untuk melihat catatan terdahulu atau menulis apa yang sudah disampaikan.

 

Setelah Anda sudah tenang, selanjutnya, silangkan tangan Anda di dada dan mulailah mengajukan pertanyaan kembali.

 

Dengan melakukan gestur sederhana seperti demikian, niscaya Anda akan kembali mendapatkan kontrol atas interview Anda.

 

Selamat mencoba tips sederhana ini !

 

Ingat 3 hal:

  1. Tgl 17 Januari 2019 Pukul 18:00 – 20:00 saya akan membahas perilaku verbal nonverbal Capres Cawapres 01 & 02. Saksikan di Indosiar ya.
  2. Ada Workshop Publik Tgl 15-16 Februari 2019 dengan harga spesial s/d 17 Januari nanti (hanya Rp 1.750.000) dan s/d 31 Januari (Rp 2.000.000). Segera mendaftar.
  3. Untuk inhouse training, walaupun team hanya 5 orang, saya siap bersumbangsih. Contact saya saja di me@handokogani.com

Benarkah SBY dicuekin

Saya ingin membahas tentang video sindiran terkait Pak SBY dan Pak Prabowo yang juga sempat viral.

Source: https://news.detik.com/berita/d-4385715/viral-video-sby-dicuekin-prabowo-timses-ada-yang-ingin-rusak-hubungan

 

Tujuan Analisis saya: agar bisa dipahami tanpa kekeliruan analisis. Agar tidak ada hubungan yang rusak.

 

Betul bahwa kedua pemimpin bangsa menantikan siapakah orang tersebut. Tentunya saat menantikan kedua orang tersebut, seharusnya “level” mereka sama.

 

Video 1 - sebelum bertemu.png

 

Betul bahwa Pak SBY pun menantikan orang tersebut. Terlihat dari gesture yang condong ke arah Orang tsb. Anda bisa melihat pergerakannya di video supaya lebih jelas.

 

 

 

Betul bahwa orang tersebut tidak menyapa Pak SBY. Bila ingin tahu emosi Pak SBY saat itu, Anda bisa cek : Gesture tangan Beliau yang mulai menempel di wajah.

 

Ada 3 hipotesis untuk Gesture begini:

1) Wajah gatal

2) Kebiasaan

3) Tanda seseorang tidak nyaman (baca: canggung)

 

Saya memilih : tidak nyaman

video 2video 3video 4

video 5

 

Ekspresi wajah di gambar ini cukup jelas. Memang ada indikasi beliau *not happy* (baca: bete ?). Mungkin, ada perubahan wajah beliau. Dan terlihat oleh Pria berpeci hitam disamping Beliau (lihat pandangannya –> ke Pak SBY ? Gambar masih perlu verifikasi lagi)

 

video 6

 

Dan ekspresi terakhir dari wajah beliau di gambar ini menunjukkan kemungkinan adanya emosi yang lain (sedih) terkait insiden tersebut. Tentunya bisa juga bahwa hal itu juga merupakan kebiasaan beliau.

 

video 7

 

Note penting adalah kita tidak tahu apa yang dilakukan si Pria Asing sebelum momen tersebut. Dan Jangan2 waktu Pak Prabowo sangat terbatas sehingga Pria ini terburu-buru dan langsung saja tertuju pada Beliau. Kita juga tidak tahu konteks pembicaraannya.

 

Kalau kita bicarakan mengenai pantas atau tidak pantaskah Pak SBY memiliki emosi tersebut, atau menunjukkan ekspresi demikian. Saya rasa sebagai mantan presiden, beliau pantas memiliki emosi tersebut. Itu manusiawi.

 

Bagaimana dengan si Pria Asing tersebut ?

– Bisa saja sebelumnya Pria tsb sudah menyapa Pak SBY

– Bisa saja si Pria itu lebih straightforward (yang dicari pak Prabowo, maka ia hanya fokus pada Pak Prabowo).

 

Soal Pak Prabowo dan konteks waktu itu,

Mungkinkah beliau lupa memperkenalkan diri Pak SBY ? Kalo lupa, apakah ini satu kesalahan ? Saya rasa masi normal apabila memang keterdesakan waktu saat itu.

Atau beliau menganggap harusnya Pak SBY sudah dikenal masyarakat internasional sehingga tidak perlu lagi diperkenalkan kepada si Pria Asing ini ? Hal ini bisa juga terjadi.

Atau pembicaraan waktu itu sangat-sangat penting sehingga perlu 4 mata saja ? Hal ini juga bisa terjadi.

Apakah hal ini salah ? Saya tidak bisa menjawab. Karena banyak faktor yang tidak diketahui. Lagipula, saya tidak punya kapasitas menilai hal tersebut.

 

Di video ini, kita tidak tahu apa terjadi setelah momen tersebut. Jadi, sebetulnya, kita tidak bisa mengatakan bahwa Pak SBY akhirnya sama sekali tidak diperkenalkan kepada Orang tersebut. Jadi, kita juga tidak bisa membahasnya.

 

Saya merekomendasikan agar sindiran kepada Pak SBY terkait video ini dihentikan. Sebetulnya tidak ada kesalahan Pak SBY di sini. Jadi, kita keliru kalau menyindir beliau. Itu jelas terlihat sebagai BULLYING.

 

Akhir kata, semoga analisis ini mencerahkan. Jangan membully Pak SBY yak. Dan jangan menuduh Pak Prabowo.

 

Hm … tapi saya masi penasaran dengan Pria Asing ini ? Benarkah dia adalah perwakilan duta sahabat ? *Pria asing tersebut merupakan perwakilan salah satu kedubes negara sahabat* (Source: https://news.detik.com/berita/d-4385715/viral-video-sby-dicuekin-prabowo-timses-ada-yang-ingin-rusak-hubungan)

 

Yang saya lihat kok: kurang adanya gesture hormat pada Pak Prabowo bila beliau hanya perwakilannya ? (Bukan Dubes atau Atase-nya). Dan apa kepentingannya sehingga bertemu dengan Pak Prabowo di sana ?)

 

Lagipula, kalo betul pria ini adalah perwakilan duta besar sahabat, pertama, Kemendagri bisa melayangkan protes kepada Kedutaan terkait karena telah mencampuri domestik Indonesia. Tidak boleh ikut2an, bukan ? Hal kedua, protes Kemendagri dan istana juga bisa dilakukan bila betul orang ini perwakilan duta besar negara tsb. Pak SBY, sekalipun tergabung dalam kubu oposisi Jokowo (Prabowo), beliau adalah mantan Presiden negeri kita. Penghormatan kepada mantan presiden oleh duta besar negara asing MASIH HARUS dilakukan lho.

 

Semakin dilihat,

Kok yang saya lihat ada “kesetaraan” antar mereka ? Apakah utusan ini cukup tinggi posisinya ? Dan ngapain di sana ? Pesan apa yang dibawanya mewakili “majikannya” (sang Duta Besar) sehingga harus dilakukan di tempat dan event tersebut tanpa rencan ? Bukan dalam pertemuan lain ? atau Mungkinkah konsultan politik Pak Prabowo ?

 

Sayang sekali ada banyak momen dimana raut wajahnya tidak terlihat jelas.

Jadi, sulit juga menerka-nerka.

siapa-bule-ini.jpg

 

Salam hangat …

Jangan lupa:

1)
17 Januari 2019 di Indosiar.

Ulasan saya bersama Narsum lainnya.
Acara dimulai pukul 18:00 – selesai. Estimasi saya tiba di tempat acara: 18:30.
Topik: Debat Pilpres Pertama

 

2)

Ada Workshop Publik dengan harga spesial s/d 17 Januari dan selanjutnya hingga 31 Januari 2019: https://wp.me/p4S2VJ-C0

 

 

 

Janji versus Bohong

Saya akhirnya menuliskan ARTIKEL terkait BOHONG ini. Karena sekarang sudah banyak yang menggunakannya tanpa paham definisinya.

Ini pendahuluan sebelum saya mengulas di :

– Acara: Talkshow Debat Pilpres

– Waktu: 17 Januari Pukul 6 – selesai

– Stasiun: Indosiar

 

Apakah itu BOHONG ?

BOHONG dalam konteks komunikasi adalah membicarakan info-data-fakta yang tidak benar, baik itu sudah dikurang-kurangi ataupun sudah dibesar-besarkan, secara sadar dan sengaja, tanpa pemberitahuan dulu, untuk menguntungkan diri sendiri atau kelompok.

 

Apakah ada BOHONG PUTIH demi kebaikan ? Ditakut-takuti supaya jadi waspada, padahal hal itu tidak ada/tidak terjadi ? Definisi BOHONG selalu dibuat dari sisi KORBAN. Bukan dari sisi ORANG YANG BOHONG. Jadi, bagi KORBAN, bohong ya bohong. Semua tidak baik baginya.

 

Apakah GENERALISASI = Bohong ?

GENERALISASI = menyamaratakan info-data-fakta, baik meniadakan yang sebetulnya berbeda atau mengambil beberapa yang sama. Ketika dibuat secara sadar dan sengaja untuk menguntungkan diri sendiri atau kelompok, maka GENERALISASI= BOHONG.

 

Apakah JANJI MANIS = Bohong ?

Saat diucapkan, Janji mungkin bisa spesifik, terukur, realistis, dan bisa dipercaya. Mungkin juga TIDAK. Yang kita nilai dari semua janji, apapun itu, adalah REALISASI-nya. Janji yang belum terealisasi BELUM BISA DINILAI jujur / bohong.

 

Apakah INGKAR JANJI = Bohong ?

INGKAR JANJI secara sadar dan sengaja = Bohong, apabila:

a) Pembuat Janji hanya asal ngucap. Ia belum studi apakah bisa dilakukan/mustahil.

b) Bisa karena: Pembuat Janji tidak bekerja keras mewujudkannya. Santai saja. Bahkan tidak dikerjakan.

 

Janji yang sudah mati-matian diupayakan namun belum ter-realisasikan BELUM TENTU Bohong.

Adakah INGKAR JANJI yang tidak dilakukan secara sadar dan sengaja ? Ada. Banyak penyebabnya mulai dari kecelakaan atau kematian terjadi saat pengerjaaan hingga belum diridhoi Tuhan YME. Bahkan, janji yang terlihat GAMPANG terealisasi pun tidak boleh jumawa.

 

Janji yang pernah DIINGKARI secara sadar dan sengaja memang = BOHONG, tetapi ketika Pembuat Janji insyaf dan mulai berupaya mewujudkan janjinya, maka kita tidak boleh lagi menyematkan label : BOHONG padanya. Analisis Jujur Bohong itu Kontekstual. Konteks sudah berbeda. Berikan ia kesempatan. Dan kalau ia mengingkarinya lagi secara sadar dan sengaja, maka kebohongannya adalah pada KESEMPATAN KEDUA ini. Bukan kesempatan pertama dulu.

 

Bila perwujudan janji SADAR & SENGAJA DITUNDA karena ada prioritas lain, maka betul ia termasuk dalam kategori BOHONG, khususnya bila TANPA DIBERITAHUKAN kepada Subyek Penerima Janji yang tidak tahu adanya prioritasasi / penundaan janji.

 

Bila sudah berupaya keras diwujudkan, Janji yang tidak tercapai 100% BUKAN BERARTI Bohong, akan tetapi: TIDAK MENCAPAI TARGET. Hal itu adalah 2 hal yang berbeda. Bukankah ada faktor rezeki, ridho Tuhan YME, nasib dsbnya ?

 

BELUM ADA TOLAK UKUR UNIVERSAL tentang tipe orang yang pasti menepati janjinya & yang akan mengingkari janjinya. Jadi, fisik seseorang, lantang atau lemah lembutnya ucapan seseorang, berapi-api ataupun santainya pidato pengucapan janji BUKAN Tolak Ukur pasti menepati janji.

 

Penilai JUJUR / BOHONGnya sebuah Janji yang terutama adalah SUBYEK PENERIMA JANJI. Penilaian Partner-Partner dari sang Pemberi Janji TIDAK RELEVAN, karena bukan mereka yang menjadi Subyek Penerima Janji.

 

Ada Bohong yang dilegitimasi atau diperbolehkan. Namun, tetap diakui sebagai Kebohongan.

Misalnya dalam konteks NEGARA atau perang. Ketika Panglima ditanya ttg jumlah kekuatan perangnya, tentu boleh bohong. Ketika dalam perang, Panglima ditanya strateginya, juga sama.

 

Kita tidak boleh menyematkan kata PEMBOHONG kepada seseorang karena hingga detik ini, BELUM ADA satupun mesin ataupun satu riset yang bisa menyatakan seseorang LEBIH BANYAK BOHONG dibandingkan orang lainnya. Yang bisa menghitung jumlah kebohongan hanya Tuhan YME.

 

Analisis Perilaku hanya HIPOTESIS saja : apakah seseorang memiliki pemikiran/pendapat berbeda dari apa yang dia ucapkan secara lisan/tulisan, karena ada ketidakspontanan, ketidakselarasan, dan ketidakkonsistenan. Baru jadi KESIMPULAN, bila sudah terverifikasi via Interview.

 

Analisis Wajah yang digunakan untuk memahami karakter seseorang BUKAN ILMU EKSPRESI WAJAH. Itu adalah FISIOGONOMI atau SENI BACA RAUT WAJAH yang telah beratus-ratus tahun digunakan di berbagai negara.

 

Analisis Wajah yang digunakan untuk memahami Gaya Kepemimpinan seseorang juga BUKAN ILMU EKSPRESI WAJAH. Itu juga FISIOGONOMI atau SENI BACA RAUT WAJAH. Begitu juga dengan Analisis GESTURE. Analisis GESTURE yang dipergunakan untuk memahami karakter seseorang atau gaya kepemimpinannya BUKAN ANALISIS JUJUR BOHONG. Itu adalah SENI BACA GESTUR yang digunakan secara spesifik oleh berbagai profesi tertentu selama beratus2 tahun.

 

Analisis SUARA sebaiknya dilakukan dengan CVSA atau #LVA #LayeredVoiceAnalysis karena

– memang kemampuan pendengaran manusia berbeda dan sangat rentan terpengaruhi oleh suara lain, tanpa kita sadari.

– Pemilik Suara memang bisa jadi belum siap atau sedang emosi tertentu. Tentunya orang yang sedang marah kepada Atasannya, bisa jadi terdengar marah saat Pasangannya menelpon.

 

Analisis Ekspresi MAKRO pada wajah dan gesture bisa dilihat oleh seseorang tanpa berlatih. Namun, analisis ekspresi MIKRO pada wajah dan gesture HARUS DILATIH. Jadi, harap dimaklumi oleh rekan-rekan yang belum mendalaminya.

 

Kita tidak bisa menganalisis Wajah, Gesture, dan Suara secara general. Misalnya, pada video ini si A jujur / bohong. Tetapi harus spesifik : di menit detik xxx, pada ucapan …. , terdapat perubahan BASELINES wajah-gestur-suara, sehingga saya berhipotesis Beliau ….

 

Bila Anda kuatir akan diBAYARnya sang Analis, maka: Seorang Analis Ekspresi atau #PendeteksiKebohongan yang berkompromi dengan analisisnya PASTI AKAN TERLIHAT dari generalisasi analisisnya, atau malah malpraktek hingga menyebutkan karakter , gaya kepemimpinan, dsbnya dari Subyek Analisis.

 

Analisis Perilaku juga TIDAK BISA menunjukkan APA YANG SEDANG DIPIKIRKAN oleh Pemilik Wajah/Gestur/Suara. Saat ini BELUM ADA mesin ataupun cara pasti untuk memahami pikiran manusia yang terdalam. Artinya, mungkin ada malpraktek bila seorang “ahli analisis” bisa melakukannya.

 

Tanpa pertanyaan dan gaya bertanya yang tepat, PERILAKU yang ingin dianalisis bisa jadi TIDAK TEPAT. Begitu pula bila tidak ada stimulus pernyataan/pertanyaan ataupun gaya nya yang memancing PERILAKU tersebut muncul.

 

Kiranya rekan-rekan media memahami perihal hal ini dan tidak terjebak menyebarluaskan prinsip ini agar bisa bekerja sama dengan Analis Perilaku antara lain: saya @LieDetectorID #pendeteksikebohongan #humanliedetector #liedetectorindonesia

 

Terimakasih bagi rekan-rekan sesama Investigator yang telah berkenan menyimak.

 

Sekiranya, berminat inhouse training, contact saya tersedia di profil Linkedin.

Kalo ada yang mau ikutan workshop publik saya, akan diselenggarakan tgl 18-19 Februari 2019, contact saya bila Anda berminat.

 

Jangan lupa !

Saksikan: ulasan saya dalam Talkshow Debat Pilpres Pertama

Tgl 17 Januari 2019, Pukul 6 malam ke atas, di stasiun TV Indosiar

 

Terimakasih banyak

Handoko Gani

Follow: Linkedin Handoko Gani , IG HandokoGani, Twitter @LieDetectorID, http://www.handokogani.com