HANDOKO GANI

PENDETEKSI BOHONG

About Handoko Gani

Salam kenal

Saya Handoko Gani. Bisa dipanggil Handoko.
Saya seorang spesialis pendeteksi kebohongan.
Saya biasa membantu perusahaan untuk memastikan karyawannya ber-integritas dan sekaligus membantu Internal Auditor / Fraud Investigator / HRD dalam kasus2 kriminal dalam perusahaan.

Saya memang lulusan Post Graduate Diploma untuk Forensic Emotion, Credibility, and Deception (sekarang disebut: Behavior Analysis & Investigative Interview) di Emotional Intelligence Academy, Manchester.

Saya menguasai Facial Expression hingga Facial Action Coding System, Body Language, dan Analisa Ucapan Lisan & Tulisan.

Saya juga Authorized User dan Dealer dari software analisa suara yang setara mesin Poligraf: Layered Voice Analysis (LVA). Saya bisa saja menganalisis rekaman suara dari Youtube, TV atau Radio, atau rekaman langsung dari Klien. Saya juga bisa menelpon seseorang dan memastikannya jujur atau bohong.

Dengan kata lain, saya memang spesialis pendeteksi kebohongan.


Sehari-hari, pekerjaan saya adalah:

  • Instruktur Training Lie Detector atau Cara Deteksi Bohong
  • Konsultan Investigasi yang bersumbangsih kepada Penegak Hukum atau melayani klien2 Fraud & Theft
  • Headhunter
  • Narsum media sejak 2015. Kebanyakan memang saat di Kasus Kopi Sianida, Engeline, dan berbagai Kasus Politik & Korupsi besar di tanah air.
  • Penulis buku

 

Klien saya confidential. Mohon maaf.
Namun, Anda mungkin sudah tahu instansi apa saja yang terkait dengan kriminal dan korupsi.  Tentunya, untuk perusahaan swasta, saya harus merahasiakannya.

Kiranya bisa dimaklumi

Handoko Gani MBA BAII LVA
Linkedin: Handoko Gani
Instagram: Handokogani
Twitter: LieDetectorID
Facebook: Lie Detector Indonesia
Email: me@handokogani.com

Iklan

17 comments on “About Handoko Gani

  1. Octaviani (okta)
    18 Februari 2015

    Salam kenal, pak handoko.

    Saya okta. senang sekali ternyata ada orang Indonesia yang menjadi ahli FACS dari Ekman. Saya saat ini sedang menyelesaikan penelitian disertasi saya tentang ekpresi rasa sakit sebagai suatu model komunikasi. untuk membaca action units pada partisipan saya, saya menggunakan software FACET. Apakah pak Handoko pada saat ini berdomisili di Indonesia? Apakah memungkinkan bila saya berkorespondensi atau bertemu dengan bapak bila bapak ada waktu?

    Terima kasih atas perhatiannya, pak.

    sincerely,

    Suka

  2. okta
    19 Februari 2015

    Syukurlah bila kita bisa bertemu april nantu. we’ll keep in touch ya pak.

    Terima kasih ☺

    Suka

    • Forensic Emotion
      25 Februari 2015

      Kita kan mgadakan acara sesi sharing brsama nanti 28 Feb jam 9-12siang. Sudah daftar kah? Bisa ngobrol lbh banyak nanti.
      Klik: http://bit.ly/1DbRFwd utk jelasnya.

      Suka

      • Forensic Emotion
        26 Februari 2015

        Sy cari2 sapa yg kmrn komentar soal disertasi rasa sakit sebagai ekspresi, ternyata mas Okta.

        Berikut referensi nya:
        1. Genuine, Suppressed, and Faked Facial Behavior during Exacerbation of Chronic Low Back Pain (Kenneth D.Craig, Susan A. Hyde, Christopher J. Patrick)

        2. The Consistency of Facial Expression of Pain: A Comparison Across Modalities (Kenneth M. Prkachin)

        3. Emotional Experience and Expression in Schizophrenia and Depression (Howard Berenhaum,Thomas F.Oltmanns)

        4. Interaction Regulations used by Schizophrenic and Psychosomatic Patients: Studies on Facial Behavior in Dyadic Interactions (Evelyne Steimer-Krause, Rainer Krause, Gunter Wagner)

        5. Depression and Suicide Faces (Michael Heller, Veroniqu Haynal)

        6. Facila Expression and Emotion in the study of heart disease (Erika L. Rosenberg)

        Suka

  3. Ceria Wisga
    25 Februari 2015

    Wow forensic emotion,menarik sekali. saia suka memperhatikan bahasa tubuh orang tapi menyimpulkan berdasarkan analisa sendiri hehe. ada saran kah bagaimana cara mendalami ilmu ini. terimakasih 🙂

    Suka

    • Forensic Emotion
      25 Februari 2015

      Sy skrg bljr di Paul Ekman International Group yg bekerja sama dgn University of Central Lancashire, Manchester. Kalo mau saling tukar sharing, sy dan Grafolog @deborahdewi akan mengadakan sesi Sharing deteksi kebohongan dalam percintaan,tgl 28 Feb jam 9-12 siang di CommaID Wolter Monginsidi. Tempat nya tinggal sedikit lagi. Kalo mbak berminat, luangkan waktu 5 menit dan klik: http://buff.ly/18klzEi

      Suka

      • Ceria Wisga
        26 Februari 2015

        Saia domisili di sidoarjo/surabaya, semoga ada sesi sharing di surabaya hehe. saia tau tentang grafolog mbak deborah pas seminar disini beberapa waktu yg lalu.

        Suka

      • Forensic Emotion
        26 Februari 2015

        Km tdk fokus pd bidang prcintaan,jadi blm tentu ada sharing deteksi kebohongan cinta lagi.Mungkin dlm sharing deteksi kebohongan topik lainnya.Nantikan saja di Surabaya ya.Keep in touch.

        Suka

  4. okta
    26 Februari 2015

    Iya mas handoko, kebetulan saya sudah membaca artikel2 tersebut. Terima kasih. Saya usahakan datang di acara sabtu nanti siapa tahu kita bisa chit chat ☺

    Suka

  5. Salam kenal Pak Handoko, Saya Anna. Saya berasal dari jurusan komunikasi dan sejak dulu karena film “Lie to me” jadi tertarik tentang facial expression,gesture,dsb.. Saya tertarik mengambil S2 dengan jurusan yang berhubungan dengan hal tersebut, apakah ada jurusan di Indonesia yang mempelajari hal tersebut? Bila tidak ada, kalau di Luar Negeri apa ya nama jurusannya? Terimakasih atas petunjuknya 🙂

    Suka

    • Forensic Emotion
      16 April 2015

      Di Indonesia tidak ada. Sy mgambil post graduate sbelum ke MSc di Inggris, bersama Paul Ekman International Group + Manchester University. Selain di sana juga ada di U.S, tapi sy tidak punya referensi nya.

      Suka

  6. Andre Tampubolon
    27 April 2015

    Halo Pak Handoko,

    Iseng2 skimming post2 bapak, sepertinya FACS ini menarik sekali ya. Semoga bapak juga merilis publikasi2 ilmiah terkait dengan FACS ini 😀

    Suka

    • Forensic Emotion
      27 April 2015

      Hai Pak Andre. FACS ini diciptakan oleh Paul Ekman PhD berdasarkan otot-otot wajah yang melakukan gerakan-gerakan yg membentuk ekspresi. Jadi,mggabungkan ilmu Kedokteran dan Face Expression. Namun,perlu disclaimer bahwa analisa FACS ini masih bisa meleset. 2 alasan utama nya adalah masih menggunakan mata telanjang dan bergantung kepada Analis-nya. Cheers, Handoko

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: