klaster pilkada lebih controllable

Tgl 7 Agustus yang lalu Pak Presiden Jokowi menyebutkan 3 klaster yang perlu diperhatikan yaitu soal Klaster Kantor, Keluarga, dan Pilkada. Anda bisa mengikuti di https://youtu.be/sQaO_1OOBEY

Banyak jedah di dalam sidang tersebut. Salah satunya yang kentara adalah saat menegaskan pilihan antara Kesehatan vs Ekonomi. Saya melihat memang ini seperti mengambil keputusan terbaik di antara terpahit.

screenshot_2020-09-07-23-08-13-753_com.google.android.youtube.jpg
Perhatikan Bibir Beliau !

Kita ingat beberapa waktu lalu, sebagaimana saya berkali-kali menganalisis untuk detik.com , Pak Presiden sempat sangat menegasi soal ekonomi yang turun, mereka-mereka yang tidak punya “sense of crisis”, bahkan hingga menyonggol soal “reshuffle kabinet”.

Namun, sebagaimana saya ingat, baru kali ini, Pak Presiden “menegasi” soal Kesehatan ini.

Saya justru melihat bahwa “ketegasan” ini tidak memiliki suara, ucapan, gesture, dan ekspresi wajah yang selaras dengan makna “tegas” sebagaimana seharusnya.

Di menit-menit ini, tangan kanan Pak Presiden berulang kali mengayun/mengetuk2 dengan irama tidak beraturan. Ini mencitrakan adanya kecemasan terhadap klaster-klaster tersebut.

Pak Presiden malah terlihat gesture tangan “cemas” (tidak nyaman) ketika membicarakan 3 klaster di atas.

Banyak portal berita nasional menulis tentang perhatian @jokowi terhadap Klaster ekonomi dan keluarga. Saya menjadi penasaran. Saya menganalisis dari verbal (linguistics) dan nonverbal Pak Presiden.

Ternyata, justru di klaster Pilkada-lah, sebetulnya Audience harus memfokuskan perhatian.

Berikut beberapa alasannya :

  1. Di Klaster Kantor & Rumah, Presiden minta diingatkan (jedah bicara) karena selalu yang dikejar adalah tempat2 umum. Presiden juga mengingatkan alasan penyebaran yaitu “merasa aman”. Dan Presiden tidak menyebutkan Mentri tertentu.

    Presiden menggunakan kata “Kita”.
    “Kita” ini siapa ? Memang bisa jadi yang dimaksud adalah TNI Polri karena disebutkan di kalimat sebelumnya. Namun, penggunaan “kita” ini justru membingungkan “Subyek”nya atau Siapa yang dimaksud. Kita ini siapa ?

    Sepanjang pernyataan tersebut, presiden berkali-kali menyebutkan “kita”. Apakah “kita” ini adalah semua orang yang hadir, termasuk Pak Presiden sendiri ? Ataukah ini juga termasuk “Kita” masyarakat ?

    Nah, saya lebih yakin “kita” ini adalah semua ! Termasuk masyarakat yang melakukan kontrol duluan.
  2. Hanya ketika menjelaskan Klaster Pilkada, presiden menyebutkan nama/posisi Mendagri, Polri, dan Bawaslu. Pak Presiden minta Mendagri (berkali2 disebutkan) untuk semakin tegas dan mempertegas.

 

Jadi, saya ingin menduga2 bahwa : sekalipun message utama-nya terkesan adalah Kesehatan vs Ekonomi, tetapi Pak Presiden merasa di antara semua controllable variable, selain soal 3 klaster tersebut di atas, Pak Presiden merasa yang juga bisa controllable adalah Klaster Pilkada dengan Mendagri sebagai ujung tombak penting. Tidak ada “kita” di sini. Termasuk “kita” masyarakat. Karena presiden merasa kontrol lebih bisa diatur oleh Mendagri bersama Polri dan Bawaslu.

Saya selaras dengan Pak Presiden. Di antara ke-3 klaster, Klaster Pilkada ini memang bisa lebih terkontrol. Pak Mendagri yang sangat saya hormati dan segani – ini – adalah ujung tombak penting dalam pencegahan penyebaran Covid di periode Pilkada. Kenapa ? Karena kalau Anda saksikan semua pendaftaran paslon beberapa waktu yang lalu, puluhan, ratusan bahkan ribuan orang ikut menemani. Beberapa tanpa masker, pelindung wajah, dan tanpa jarak satu sama lain.

Memang kalo di klaster Kantor dan Keluarga, kontrol lebih bisa diatur oleh “Kita” masyarakat. Tetapi di klaster Pilkada, bila ada peraturan tegas, pengawasan tegas, himbauan tegas, bahkan sanksi kepada Paslon dan Partai nya, maka : kerumunan massa pendukung bisa dihindari dan kalopun terjadi kerumunan hanya dalam jumlah tertentu dengan protokol kesehatan.

Saya mengagumi Pak Mendagri dalam sepak terjang beliau sebelumnya di berbagai isu kasus kriminal dan terorisme. Saya turut mendukung pernyataan / permintaan Pak Presiden. Saya yakin “kita” bisa !

Mari Pak Mendagri ! Bpk pasti bisa !

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s