HANDOKO GANI

PENDETEKSI BOHONG

Apa yang harus dilakukan paslon capres cawapres dalam debat

Sudah banyak wartawan yang bertanya kepada saya :

Apa yang harus dilakukan oleh para Capres dan Cawapres dalam Debat mereka yang kedua hingga terakhir nanti ?

 

Jawaban saya akan berupa pertanyaan kembali: apa yang harus disiapkan oleh Pemancing Ikan ? apa yang harus disiapkan Ikan agar tidak tertangkap ?

 

Anda bingung ?
Apa urusannya dengan pemancingan ikan ?

 

Betul, bila dikatakan “Interview” = Bertanya untuk tujuan tertentu.
Namun, Anda harus “maklumi” juga bahwa orang yang ditanya (Interviewee) belum tentu bersedia mengungkapkan pemikiran dan perasaan sesungguhnya terang-terangan (perilaku komunikasi yang apa adanya)

 

Yang artinya sebetulnya “Interview” adalah segala upaya yang dilakukan untuk “Memancing” pemikiran dan perilaku sesungguhnya dari Interviewee.

 

Debat pun sama. Sepakati dulu ya.

Ketika Host (red: mewakili Rakyat Pemilih) bertanya kepada Pak Jokowi / Prabowo ( selanjutnya disebut Jokowi / Prabowo / Interviewee saja ), maka: Host berharap Interviewee akan mengungkapkan pemikiran dan perasaan sesungguhnya terang-terangan.

  • Dalam bahasa teknis para Analis Ekspresi Wajah adalah “Tidak ditemukan adanya microexpression yang berbeda dengan macro expression -nya”.
  • Dalam bahasa teknis Human Lie Detector sesuai filosofi yang saya buat sendiri, Host = Pemancing Ikan dari Interviewee ; Ikan = Pemikiran, Perasaan, dan Perilaku Komunikasi sesungguhnya dari Interviewee

 

Ketika Pak Jokowi / Pak Kyai Maruf Amin (selanjutnya disebut 01) bertanya kepada Pak Prabowo / Pak Sandi (selanjutnya disebut 02) , maka: 01 = Pemancing Ikan dari 02, atau sebaliknya 02 = Pemancing Ikan dari 01.

 

Ketika 02 menimpali jawaban 01 kepada Host, maka: 02 bisa menjadi Ikan yang terpancing juga dari Host atau dari 01, atau sebaliknya 02 bisa menggunakan momen itu menjadi Pemancing Ikan dari 01, selain Host.

 

Di dalam jawaban 01/02 kepada Host ataupun saat menimpali 02/01 lawannya, akan ada pernyataan pamungkas penting yang sebetulnya tertuju kepada rakyat, bukan memancing 02/01 lawannya. Pernyataan penting ini berupa penegasan karakter – janji gaya kepimpinan nanti –  janji program – janji manfaat program/pemilihan sang paslon, atau penegasan perbedaan sang Paslon terhadap Paslon lawannya. Begitu juga saat pernyataan di akhir debat, akan ada momen dimana pernyataan ini muncul. Maka, di saat-saat begini, yang sedang dipancing atau “ikan”nya adalah Penonton acara debat di studio ataupun di TV. Bila pernyataan tersebut dibuatkan sebagai berita/artikel, maka: “ikan”nya adalah Pembaca Berita tersebut.

 

Saya rangkum secara sederhana.

  • Host = Pemancing Ikan
  • Ikan = Pemikiran, Perasaan, dan Emosi (yang terungkap lewat ekspresi wajah, gestur, suara, kata-kata yang dipilih, dan tanda-tanda syaraf otomatis yang bawah sadar)
  • Ketika Host bertanya, 01/02 = “ikan”
  • Ketika 01/02 menanggapi 02/01, bisa = “ikan” yang ikut terpancing jawaban lawannya atas pertanyaan Host
  • Ketika 01 bertanya pada 02, maka 02 = “ikan”. Begitu juga sebaliknya.
  • Ketika ada pernyataan pamungkas penting maka 01/02 sebetulnya Penonton TV/ Pendengar Radio / Pembaca Berita = “ikan”.

 

Cermati baik-baik pernyataan berikutnya sebagai dampak dari peran-peran di atas.

  • Dengan pembatasan ketat dari KPU, maka: Host adalah Pemancing Ikan yang betul-betul sangat terbatas pada “umpan” jenis tertentu saja. Umpan itupun dibuat oleh orang lain, bukan sang Host sendiri. Ia juga tidak bisa mengganti umpannya. Ia bahkan tidak bisa mengubah-ubah gaya memancingnya (gaya/teknik bertanya-nya), baik itu jenis Interrogative ataupun Investigative.

 

Sekarang saya akan membahas jawaban atas pertanyaan di atas : “Apa yang harus dilakukan 01/02 dalam Debat kedua s/d keempat ?”

  • Saat 01/02 “menjadi ikan” , maka: jadilah “ikan” yang sesungguhnya. Artinya, ungkapkanlah pemikiran, perasaan, emosi dan ekspresi dari emosi itu sendiri yang asli. Bila Anda tidak jujur, pasti akan ada micro expression yang berbeda dengan macro expression , micro gesture yang juga menyimpang dari gesture normal, spektrum suara yang juga menyimpang dari range R.S.V.P suara normal (Rhythm, Speed, Volume, and Pitch), kata-kata yang menyimpang dari pakem linguistics yang berlaku, ataupun gaya tutur jawaban/pernyataan yang juga menyimpang dari gaya tutur jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lainnya.Bila ada penyimpangan, maka jelas Anda berbohong.
    Bila 01/02 mengeneralisasi, maka jelas Anda berbohong juga karena generalisasi itu secara sadar dan sengaja dilakukan untuk merugikan 02/01 lawannya.Bagaimana kalau pertanyaan 01/02 menggunakan info-data-fakta yang memenuhi kriteria “bohong” misalnya:
    – Info/Data/Fakta tersebut berasal dari generalisasi atas suatu kejadian / info-data-fakta tertentu saja ? (Namun, betul info/data/fakta tersebut pernah terjadi hanya sekali atau beberapa kali saja)
    – Info/Data/Fakta tersebut sengaja direkayasa (dibuat), padahal tidak benar terjadi ?Jawabannya: sebagai ikan, jangan “terpancing” dan sebaliknya, “pancing” balik. Malah dalam bahasa “kasarnya”, balik tertawakanlah “umpan” tersebut sehingga lawan malah balik terpancing. Jadi, caranya adalah biasakan menggunakan kalimat tegas :
    – Akui bahwa betul info/data/fakta itu PERNAH terjadi. Namun, 01/02 (lawan Anda) mengeneralisasi. Seakan-akan itu selalu terjadi hingga sekarang. Generalisasi yang sadar dan sengaja adalah kebohongan.
    – Anda salah mengambil info/data/fakta
    – Anda salah menyimpulkan

    – Tunjukkan datanya

    Bagaimana kalau pertanyaan 01/02 mempertanyakan janji yang belum terlaksana ?
    Lakukan hal berikut:
    Bila emang Anda belum melakukannya karena ada PRIORITAS lain, maka: minta maaf, akui bahwa ada prioritas lain, namun tunjukkan bahwa prioritas lain tersebut justru telah berhasil dilakukan. Karena sudah berhasil dilakukan, bila terpilih, maka: janji yang terpinggirkan ini pasti akan diwujudkan.

    Bila Anda sudah melakukannya, namun tidak berhasil dilaksanakan, karena terbentur pihak lain, maka: jangan minta maaf, jelaskan bahwa ada pihak lain yang juga berperan dalam pengambilan keputusan, dan bahwa janji Anda belum terlaksana karena pihak ini belum setuju. Dan gunakan kata pamungkas yaitu bahwa: janji yang sudah mati-matian dilakukan namun belum terwujud, maka: janji tersebut bukan bohong. Karena memang begitulah definisinya.

    – Bila Anda sudah melakukannya, namun dinyatakan belum melakukannya, maka pancinglah balik. Tegur dengan tegas bahkan dengan ekspresi marah. Anda juga boleh menggunakan pernyataan pamungkas yang bersifat menunjukkan kelemahan pencarian info/data/fakta ataupun kelemahan pengambilan kesimpulan. Anda bahkan boleh menggunakan ekspresi “nyinyir” sebagai bagian dari strategi nonverbal Anda. 

 

  • Bagaimana saat 01/02 menjadi “Pemancing ikan” ?Sebagai “Pemancing ikan”, Anda boleh menggunakan umpan jenis apapun (ingat: umpan = pertanyaan), bertanya dengan cara apapun (yang penting : beradab, bermanfaat, boleh yaitu antara lain: tidak bullying, tidak ada kontak fisik, tidak melanggar hukum, dsbnya).Umpan haruslah DIBUAT sebelumnya & sudah dalam bentuk kalimat utuh. Bukan hanya topik-topik pertanyaan saja. Ingat ! Umpan DIBUAT sebelum memancingSebagai “Pemancing ikan”, dalam konteks gaya bertanya, masing-masing 01/02 memang terbatasi. Tidak bisa seleluasa saat interview dalam konteks rekrutmen, performance appraisal, ataupun investigasi kasus kejahatan.Namun, yang bisa dimanfaatkan 01/02 sebagai “Pemancing Ikan” adalah Teknik BEHAVIOR MANAGEMENT. 

    Artinya, 01/02 bisa :
    – Berlatih menggunakan SUARA yang tepat saat bertanya. Misalnya: saat bermaksud memancing “ikan” marah, maka: suara yang tepat adalah suara “superior”, atau suara “nyinyir”.- Berlatih menggunakan EKSPRESI WAJAH yang tepat saat bertanya. Optimalkan: ekspresi “nyinyir” dan “jijik” ketika bermaksud memancing “ikan” marah karena dipojokkan / dinyinyirin. Optimalkan juga ekspresi “marah” ketika mengingatkan kesalahan 01/02 yang membuat rakyat marah/benci.

    – Berlatih menggunakan GESTUR yang tepat saat bertanya. Optimalkan: gestur yang superior dan memojokkan lawan, misalnya: berganti poros tubuh, menunjuk, berdecak pinggang, melipat tangan di dada, menggulung-gulung lengan baju yang sebetulnya tidak turun, dsbnya.

    – Berlatih menggunakan KATA yang tepat saat bertanya. Optimalkan kata-kata sensitif bagi paslon lawan, antara lain: yang terkait keraguan atas kesetiaan lawan, keraguan atas kapabilitas lawan, keberaniannya, dan ketepatan janjinya. Minta ahli forensic linguistics memastikan apa saja kata-kata sensitif dari lawan berdasarkan berbagai video yang ada.

    – Berlatih menggunakan KATA yang tepat saat memancing Pembaca/Penonton. Ingat bahwa 01/02 harus punya FRASE KATA yang akan membekas kepada Pembaca/Penonton setelah selesai debat. Misalnya: Saya telah, Saya pasti akan, Kesetiaan, Kepercayaan, Tuntas, Jujur, Hoax, Lanjutkan, Terbukti, dan sebagainya. Berlatihlah agar FRASE KATA ini betul-betul muncul dalam jumlah puluhan hingga ratusan kali. 

    Padupadan-kanlah semua latihan ekspresi wajah, gestur, suara, frase kata di atas, sehingga Anda akan menjadi “Pemancing Ikan” yang handal di segala medan. 

 

TERIMAKASI telah membaca artikel ini.

Semua yang saya sampaikan di atas adalah materi training yang saya berikan kepada para Investigator, baik itu: Auditor, Fraud Investigator, Security & Body Guard, Loss & Prevention Investigator, Credit Analyst, Microbanking Analyst, HRD Division, hingga Pemilik Usaha.

 

Anda bisa menghubungi saya di me@handokogani.com untuk melatih team Anda.
Workshop selanjutnya berjudul “Body Language Investigator” telah bisa Anda ikuti, klik: http://bit.ly/BodyLanguageInvestigator


Handoko Gani MBA BAII LVA

  • MBA, Asian Institute of Management, 2004
  • Post graduate diploma in Behavior Analysis & Investigative Interview (BAII – dulu disebut Forensic Emotion, Credibility and Deception), Emotional Intelligence Academy, Manchester, Inggris, 2015
  • Certified Authorized User Layered Voice Analysis (LVA), alat investigasi profesional yang telah berpengalaman selama 20 tahun lebih di 80 negara lebih, khususnya di dunia anti teror, intelijen, anti fraud & homicide, hingga risk assessment test untuk rekrutmen posisi strategis terkait keselamatan, rahasia perusahaan, & finansial, 2017

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Januari 2019 by in My Forensic Analysis.
%d blogger menyukai ini: